Bangun Laboratorium Penyuluhan, Kementan Siapkan Produk Diseminasi Teknologi Untuk Petani

oleh -70 views

MALANG – Semangat Kementerian Pertanian (Kementan) untuk terus bergerak maju mencetak SDM (Sumber Daya Manusia) unggul di bidang pertanian terus berlanjut. Hal ini diwujudkan melalui penyediaan Sarana Prasarana Pembelajaran di Auditorium Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang yang berupa Laboratorium Penyuluhan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan, mencetak SDM pertanian unggul merupakan pilar dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern. Salah satunya melalui pendidikan vokasi.

Ia optimistis akan tercipta tenaga pertanian yang andal, profesional, kreatif, inovatif dan tangguh dalam menghadapi persaingan dunia usaha kerja sektor pertanian.

“Ada empat jurus jitu yang harus ditekankan dalam pendidikan vokasi, antara lain yakni karakter dan pengembangan keterampilan yang menyatukan intelektual sistem dengan manajemen praktis. Pendidikan vokasi harus menciptakan generasi milenial yang memiliki karakter seorang petarung, tidak mudah menyerah, dan memiliki jiwa yang tangguh”, ujar Mentan SYL.

Dalam kesempatan Peresmian Laboratorium Penyuluhan sekaligus Rapat Koordinasi Penguatan Kelembagaan UPT di Wilayah Malang, Jawa Timur, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi memaparkan kegiatan ini dilakukan sebagai upaya dalam menyiapkan SDM bidang pertanian yang profesional, berjiwa wirausaha dan berdaya saing.

Di Jawa Timur sendiri, Dedi mengharapkan agar implementasi Kostratani di semua BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) di Jawa Timur berjalan dengan lancar.

“Pertama ini dalam rangka koordinasi kegiatan-kegiatan badan SDM yang dilakukan oleh para UPT yang ada di Malang. Ada Balai Besar Peternakan Batu, ada Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan dan Polbangtan Malang. Tentunya ketiga UPT ini harus saling bersinergi dan saling berkoordinasi juga dengan UPT lainnya di bawah Kementan. Lakukan koordinasi agar semua program berjaln lancar, utamanya implementasi program kegiatan Kostratani di Jawa Timur,” kata Dedi, Sabtu (19/09).

Di sisi lain, khusus Polbangtan Malang Dedi mengakui terdapat modifikasi pada mekanisme pendidikannya seperti melalui daring dan online system di tengah pandemi Covid-19. Untuk menyempurnakan sistem yang telah berjalan, Dedi mengaku akan segera dilakukan evaluasi agar sistem pembelajaran semakin efektif dan tepat guna.

“Segala yang menjadi kekurangan harus segera diatasi, di tindaklanjuti, meskipun sekarang metode daring tidak kalah efektif dengan metode konvensional,” tuturnya.

Selanjutnya, Dedi menyampaikan juga peran laboratorium amat penting bagi pengembangan sektor pertanian Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

“Laboratorium Penyuluhan itu dapur untuk menghasilkan makanan. Kalau di penyuluhan ini berarti dapur untuk menghasilkan produk-produk penyuluhan dalam berbagai metode. Tapi yang utamanya adalah bagaimana diseminasi teknologi kepada petani, kepada praktisi pertanian, kepada stakeholder. Itu utamanya,” tegas Dedi.

Saat ini, dengan berkembang pesatnya teknologi, salah satu mekanisme penyuluhan tak mesti bertatap muka. “Sekarang penyuluhan harus bisa memanfaatkan sarana IT dengan baik. Nah produk-produk ini yang dihasilkan oleh Laboratorium Penyuluhan itu dan pada saat yang sama laboratorium ini juga bisa buat diseminator,” ujarnya.

Menurutnya diseminasi produk yang dihasilkan dari Laboratorium ini bukan hanya disampaikan kepada khalayak, petani, tapi juga kepada stakeholder yang terkait misalnya perguruan tinggi, dengan pemerintah daerah, dan sesama himpunan profesi. “Sampaikan bahwa kita punya produk ini lho, Kami mempunyai metode penyuluhan sesuai dengan inovasi teknologi. Itu yang bisa disampaikan dengan umpan balik perbaikan-perbaikan metodologi yang kita susun,” tambah Dedi.

Sebagai agen perubahan, Dedi berharap mahasiswa akan memanfaatkan dengan baik produk-produk penyuluhan tersebut. Di sisi lain, ia juga memotivasi mahasiswa agar mampu memformulasikan, memodifikasi metode penyuluhan yang saat ini sudah ada.

“Bahkan mahasiswa harus mampu melihat kondisi saat ini. Metode penyuluhan yang paling bagus itu seperti apa, karena zaman selalu berubah. Apalagi sekarang ada Covid-19 yang memaksa kita untuk sistemnya virtual, sistem jarak jauh,” papar Dedi.

Ia juga meminta mahasiswa untuk dapat menelurkan inovasi pembaruan dalam metodologi penyuluhan.

“Tentu dengan menyeimbangkan efektivitas penyuluhan itu sampai kepada petani. Di saat yang sama, juga harus mempertimbangkan kondisi lingkungan yang saat ini terjadi, khususnya di masa pandemi Covid-19,” tutup Dedi.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *