Embung Jadi Andalan Pasokan Air Petani Banyuwangi

oleh -522 views

BANYUWANGI – Masih rendahnya curah hujan, di tambah pasokan air irigasi yang kurang maksimal, embung (penampungan air) jadi andalan petani untuk dapatkan pasokan air. Seperti yang terlihat di Desa Kalipait, Kecamatan, Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Ketika daerah ini mengalami kekeringan akibat curah hujan yang rendah. Embung yang dikelola Kelompok Ini (Poktan) Tentrem ini masih bisa menampung air. Sehingga masih dimanfaatkan warga dan petani setempat digunakan untuk keperluan bercocok tanam masyarakat sekitar.

Ketua Poktan Tentrem, Suprayitno mengatakan, embung ini mampu melayani hingga 25 hektare (ha) yang dikelola 210 orang anggotanya. Sumber air berasal dari mata air.

“Dengan adanya embung ini, peningkatan IP yang diharapkan semula 1.5 menjadi 2. Produktivitasnya mencapai 6.86 ton/ha,” ujar Suprayitno.

Lebih lanjut, dikatakan Suprayitno, embung yang letaknya di sekitar pemukiman warga, bukan hanya untuk petani, tetapi kebutuhan air lainnya warga setempat.

“Kalau untuk pertanian luas layanannya hingga 25 ha, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kebun-kebun warga, paling hanya untuk kebutuhan air tanaman palawija saja,” ujarnya.

Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, Pemerintah harus melakukan upaya antisipasi perubahan iklim terutama kemarau. Karena memang manfaat infrastruktur air seperti embung, dam parit maupun long storage baru terasa ketika kemarau datang.

“Bangunan air seperti embung dan dam parit akan bermanfaat meskipun debit air kecil, air masih bisa teralirkan ke sawah-sawah petani. Sehingga petani bisa menambah pertanaman dalam setahun, dari satu kali menjadi dua kali,” jelas Mentan SYL.

Mentan SYL menambahkan, insfrastruktur air ini juga sangat berguna dalam pengelolaan air lahan kering maupun tadah hujan. Dirinya berharap masyarakat dan para petani bisa menjaga dan merawat apa yang telah dibangun oleh pemerintah.

“Saya pesan kepada petani dan masyarakat agar menjaga dan memelihara embung dengan baik. Jangan sampai rusak atau terbengkalai karena ini kan manfaatnya selain buat petani juga masyarakat bisa menggunakan air di sini saat kekeringan,” tuturnya.

Sementara, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan, pembangunan embung untuk mengantisipasi musim kering di tahun 2020. Pembangunan itu diharapkan bisa menampung air hujan dan mengairi sawah, sehingga mampu meminimalisir kerugian petani.

“Program pembangunan embung itu merupakan program strategis untuk penampungan air hujan atau sumber sumber mata air di tempat lain. Sehingga, ke depan, program embung mampu mengantisipasi kekeringan di lahan pertanian kita,” kata Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, pembuatan embung sangat diperlukan. Jika musim hujan lahan tidak terendam air, di musim kemarau saat air dari irigasi tidak mencukupi maka embung bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk mengairi lahan padi atau tanaman pertanian lainnya.

“Kami meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan pertanian yang lebih baik. Proyek konservasi lahan juga diharapkan menyelamatkan lahan kritis dengan menanamkan tanaman konservasi produktif,” pungkas Sarwo Edhy.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *