IPDMIP Mencerdaskan Petani Dalam Pengelolaan Keuangan Usaha

oleh -104 views
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

SUARAJATIM.CO.ID//NUSA TENGGARA TIMUR – Sejumlah ketua kelompok tani (Poktan) di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mengikuti Pelatihan Literasi dan Edukasi Keuangan (PLEK) proyek Integrited Participatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP), 12-15 November 2020.

Dalam kegiatan ini, petani diajarkan untuk mengetahui besar modal, evaluasi arus kas, catatan pengeluaran dan pendanaan eksternal. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pencapaian target produksi sehingga menunjang usaha tani berkelanjutan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pengetahuan dan cara pengelolaan kelompok tani akan lebih maksimal dengan PLEK. Oleh karena itu, peserta diimbau mengikuti dengan serius peningkatan kapasitas SDM pertanian.

“Petani harus faham pengelolaan keuangan, agar dapat mengevaluasi apakah usaha taninya untung atau merugi,” katanya.
Selain itu, peserta pelatihan juga diajak mengetahui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Syarat utama KUR, petani wajib memiliki Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang akan disalurkan kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) dengan kewajiban bagi anggotanya memiliki AUTP, bahkan paham manfaat bermitra dengan bank karena Informasi lengkap terkait KUR dan AUTP diketahui petani peserta,” ujarnya.

Mentan SYL juga menaruh perhatian khusus pada IPDMIP. Pasalnya, bertujuan meningkatkan ketahanan pangan, yang berawal dari kemampuan literasi dan akses keuangan bagi petani.

“Pemerintah mendorong dan membantu petani untuk meyakinkan lembaga perbankan bahwa menyalurkan kredit kepada petani tidak akan merugi,” kata Mentan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan PLEK mengulas pengelolaan keuangan, kemudian diteruskan oleh para ketua Poktan dan penyuluh swadaya kepada petani, dengan cara yang mudah dipahami.

“PLEK melakukan pendekatan keluarga sebagai tim yakni suami dan istri. Tujuannya, meningkatkan kapasitas dan pengelolaan keuangan usaha tani,” kata Dedi Nursyamsi.

Khusus AUTP, Dedi mengingatkan pentingnya asuransi menjaga kepentingan petani, terutama melindungi lahan dari bencana dan gagal panen.

“Saat itulah asuransi muncul dengan klaim pengganti kerugian untuk petani. Sehingga petani tetap memiliki modal untuk tanam kembali,” katanya.

Menurut Rofinus selain tersebut di atas, dengan pelatihan IPDMIP petani irigasi di Kecamatan Sano Nggoang bisa paham indeks pertanaman (IP), bagaimana cara meningkatkan IP 100 menjadi IP 200.

Materi KUR dan AUTP yang berkutat dengan hitung-hitungan selama tiga hari menguras perhatian peserta. Namun, peluang akses perbankan dan asuransi melampaui kesulitan materi pelatihan.

“Mereka melihat pada harapan modal usaha tani KUR bunga rendah, enam persen. Asuransi tani juga menarik, sebagian besar premi disubsidi pemerintah, begita ungkap Rofinus.

Menurut tim teknis sekaligus penanggung jawab NTT dan NTB, Yulia TS, PLEK memakai video tutorial sebagai bahan ajar serta format laporan keuangan bentuk tercetak.

“Kita berharap peserta bisa dengan mudah menerima materi yang kita sampaikan. Sehingga bisa membantu mereka dalam mengelola keuangan,” paparnya.(YTS/EZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *