Kementan Apresiasi Pengolahan Padi Modern Gapoktan Tri Mulyo Tani Tuban

oleh -62 views

TUBAN – Kementerian Pertanian (Kementan) mengapresiasi pengolahan padi modern yang dilakukan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tri Mulyo Tani Tuban, Jawa Timur. Hebatnya, Gapoktan Tri Mulyo Tani Tuban memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang merupakan salah satu program unggulan Kementan untuk membuat pengolahan padi modern tersebut.

Tentu saja upaya yang sudah dilakukan ini diapresiasi oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Menurut Mentan, salah satu komitmennya kepada petani dan gapoktan adalah salah satunya melalui KUR selain daripada pemberitaan bantuan benih, alat mesin pertanian, asuransi pertanian dan pendampingan yang masif.

“Pada tahun 2020, secara nasional pemerintah menargetkan luas tanam padi 11,66 juta hektar, berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Sementara sasaran luas tanam padi pada musim kemarau hingga september 2020 ini sebesar 5,6 juta hektar,” kata Mentan SYL.

Mentan SYL meminta petani untuk memanfaatkan KUR sebagai modal usaha. “Karena pemanfaatan KUR tidak memberatkan petani dan cara mendapatkannya juga mudah,” ujar Mentan SYL.

Pengolahan padi modern yang dilakukan oleh Gapoktan Tri Mulyo Tani Tuban terungkap saat Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Dedi Nursyamsi melakukan kunjungan kerja ke Desa Ngadirejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Menurut Nursyamsi, pengolahan padi modern ala Gapokan Tri Mulyo Tani Tuban ini salah satu contoh pengembangan gapoktan di seluruh Tanah Air.

“Gapoktan ini menggunakan KUR untuk membangun penggilingan ini. Bahkan tadi informasi pengelola bisa menghasilkan beras premium. Saat ini yang jadi masalah masih di pemasaran. Dan ini semestinya kita semua harus mendukung. Ini adalah contoh pembangunan gapoktan yang mandiri. Dia berani mengambil modal dari KUR kemudian dia mengelola penggilingan ini secara profesional,” kata Dedi Nursyamsi, Jumat (16/09) saat melakukan kunjungan kerja ke tempat tersebut.

Satu hal yang patut diapresiasi lagi adalah keberanian untuk berinovasi yang dimiliki gapoktan ini. “Pengalaman mungkin belum banyak, tapi keberaniannya luar basa. Itu harus didukung. Di beberapa tempat hal ini didukung oleh pemerintah daerah,” tutur Dedi Nursyamsi.

Pada kesempatan itu, ia juga meminta kepada Gapoktan Tri Mulyo Tani Tuban untuk menjalin mitra kepada lembaga-lembaga yang bisa menyerap hasil pengolahan organisasi ini.

“Kami mendorong gapoktan ini membangun mitra-mitra yang memang memerlukan beras, termasuk yang masih memerlukan pecah kulit. Berarti dia membutuhkan giling lagi untuk prosessing. Oleh karena itu, ini perlu di-support agar berkembang lebih pesat lagi,” tegasnya.

Kementan sendiri sudah melakukan support melalui program yang sudah direalisasikan sehingga Gapoktan Tri Mulyo Tani Tuban mampu menghasilkan pengolahan padi modern. “Support-nya sudah melalui KUR. Lalu harus dipikirkan masalah mendesak yaitu pemasaran. Saya berharap tetap tekankan efisiensi karena masih menggunakan jaringan listrik sebagai penggerak mesin. Ini juga sudah bagus karena sekamnya digunakan untuk pembakaran lagi,” ujar Dedi.

Selain efisiensi, Dedi Nursyamsi meminta agar Gapoktan Tri Mulyo Tani juga melakukan inovasi terhadap limbah yang dihasilkan seperti katul, dedak dan sekam agar memiliki nilai guna dan nilai tambah. Berkaca dari luar negeri, limbah seperti katul, dedak dan sekam kembali diolah untuk dipasarkan kembali.

“Limbahnya ini seperti katul, dedak dan sekam ini bisa dimanfaatkan. Bahkan di luar negeri hal itu lebih mahal. Harganya bisa lebih dari Rp10 ribu. Katul di sini masih Rp3 ribu. Sentuh dengan teknologi. Katul ditambah konsentran yang tepat harganya bisa menjadi Rp6 ribu. Belum dari dedak dan sekam. Ini yang harus ditingkatkan lagi. Fokusnya adalah bisnis,” papar Dedi.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tuban, Murtadji menerangkan, kabupatennya memiliki program hulu-hilir, di mana gapoktan bisa mendapat pinjaman dari dana dari KUR. Gapoktan Mulyo Tani, ia melanjutkan, mendapat kucuran dana sekitar Rp10 miliar yang dimanfaatkan untuk pengolahan padi modern.

“Untuk gapoktan Rp10 miliar dan untuk petani Rp2,7 miliar untuk lahan sampai panen. Hasilnya nanti dibeli oleh gapoktan berupa beras. Alhamdulillah sampai sekarang eksis. Dalam satu hari rata-rata sampai 18 ton. Sebenarnya mampu sampai 30 ton,” tuturnya.

Ia mengakui persoalan krusial adalah pemasaran yang masih dalam proses pencarian. “Ini benar-benar murni dari petani, bukan dari pengusaha. Mudah-mudahan dengan kedatangan kepala badan dan direktur bisa mencari solusi bahwa di Tuban ada Gapoktan menghasilkan beras premium,” harap Murtadji.

Ia menambahkan, Kabupaten Tuban memiliki 20 Badan Penyuluh Pertanian (BPP). Jika saja tak ada pandemi Covid-19. Murtadji mengaku akan mengagendakan untuk mengumpulkan mereka. “BPP bisa memberikan energi tambahan untuk para petani. Di sini, penyuluh itu membawahi satu penyuluh desa. Sebenarnya kan satu penyuluh satu desa,” ungkapnya.

Lebih lanjut Murtadji mengungkapkan Petani di Tuban memiliki hubungan yang bagus dengan BPP. Setiap kali ada teknologi baru, BPP langsung menyampaikan kepada petani. Petani pun dengan antusias mendengarkan paparan BPP mengenai program baru tersebut.

“Peran BPP sangat diperlukan mulai sarana prasarananya, SDM-nya serta penyuluhannya. Permasalahannya hanya satu, di Kabupaten Tuban ini kekurangan tenaga penyuluh. Itu semua perlu waktu dan sekarang kan harus pakai DAK. Jadi NIK-nya harus benar,” bebernya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *