Kementan Tegaskan Food Estate untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional

oleh -193 views

JAKARTA – Proyek food estate di Kalimantan Tengah (Kalteng) bakal dikebut. Target pengembangan kawasan food estate di lahan rawa Kalteng seluas 164.598 ha. Pada TA 2021 target kegiatan intensifikasi lahan pada luasan Daerah Irigasi (DI) yang mengalami perbaikan dengan luas wilayah DI seluas 55.456 ha dan ekstensifikasi pada luasan DI yang mengalami peningkatan jaringan irigasi dengan luas wilayah DI seluas 73.500 ha.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy mengatakan, pada TA 2020 telah dilaksanakan aktivitas budidaya pertanian melalui program intensifikasi lahan pada lahan sawah eksisting seluas 30.000 ha.

“Komoditas utama adalah padi, sedangkan komoditas lain seperti hortikultura (sayuran/buah buahan), peternakan (Itik), dan perkebunan adalah sebagai komoditas pendukung,” jelas Sarwo Edhy dalam Webinar yang digelar Forum Wartawan Pertania (Forwatan) dengan tema Food Estate Dukung Ketahanan Pangan, Kamis (18/3).

Sarwo Edhy mengungkapkan, saat ini sedang dilakukan verifikasi terhadap CP/CL kegiatan Intensifikasi dan Ekstensifikasi Lahan TA 2021 oleh Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau.

“Verifikasi ini mengacu pada peta rencana kegiatan Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR,” ungkap Sarwo Edhy.

Kementan juga sudah memulai sistem korporasi petani di wilayah food estate. Perubahan mindset dari petani juga menjadi salah satu sasaran dalam program ini bagaimana budaya bertani, budaya usaha/jasa, komunikasi petani serta pemanfaatan teknologi dalam pengembangan pertanian berbasis kawasan ini.

“Pengembangan korporasi petani menjadi prioritas agar petani menguasai produksi dan bisnis pertanian dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Korporasi petani bukan sekadar bertumpu pada produktifitas dan kualitas produksi pertanian, namun lebih banyak ditentukan kemampuan SDM menjalankan bisnis yang profit oriented.

“Petani harus mendapat untung. Petani menjual beras sebagai produk hilir, bukan gabah sebagai produk hulu. Begitu pula produk olahan lainnya dari komoditas pertanian yang ditanam di food estate,” papar Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy berharap, tiap komponen komoditas pertanian di Kalteng dapat memiliki nilai ekonomi, serta dapat meningkatkan pendapatan dan meningkatkan taraf hidup para petani. Ia menambahkan, food estate itu berarti meningkatkan produktivitas, tidak single commodity, tetapi berbagai komoditas harus terkait di dalamnya.

“Harus menggunakan mekanisasi, tetapi manusia tetap menjadi bagian-bagian dari kekuatan yang ada, terutama masyarakat setempat,” harapnya.

Sementara, Midzon L I Johannis, Senior Advisor Croplife Indonesia mengatakan, asosiasi industri nirlaba tersebut sangat mendukung program pembangunan food estate yang tengah digalakan pemerintah.

Menurut Midzon, tanpa ada perubahan baik teknologi maupun praktik pertanian jumlah orang yang berisiko kelaparan di negara-negara berkembang akan meningkat lebih dari 1 milliar di dunia.

“Di sisi lain, hasil panen akan menurun, sementara di sisi lain harga pangan hampir naik dua kali lipat,” ucap Midzon.

Dukungan Croplife Indonesia bagi pertanian Indonesia yakni dengan mendorong pengembangan teknologi baru untuk perlindungan tanaman, biologi, bioteknologi, digital dan smart agriculture sesuai dengan kondisi Indonesia.

“Croplife Indonesia juga mendukung penyediaan teknologi dan menjamin ketersediaan sarana pertanian seperti produk perlindungan tanaman dan benih, pendamping kepada petani melalui learning centers, ekspo pertanian, pelatihan agronomi dan stewardship,” sebutnya.

Asosiasi nirlaba itu juga membangun kemitraan dengan berbagai pihak, baik public privat, private-private, privat-social.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *