Kostratani Perkuat Pertanian Kalteng Hadapi Revolusi Industri 4.0 dan Katrol Produktivitas

oleh -72 views

PALANGKARAYA – Pertanian Kalimantan Tengah (Kalteng) dijamin akan terus eksis melewati zona revolusi industri 4.0. Selain Food Estate, Kalteng juga mendapatkan support berupa Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani). Kehadiran Kostratani juga dipercaya semakin menaikan produktivitas pertanian. Saat ini aktivasinya sudah dilakukan di Pulang Pisang, Kapuas, dan Kota Palangkaraya.

“Kami menyambut baik kehadiran Kostratani. Mereka menjawab semua kebutuhan pertanian di era modern. Kostratani sesuai dengan arah pembangunan pertanian di Kalteng yang harus modern dan berdaya saing. Dukungan akan diberikan sepenuhnya untuk program Kostratani karena menaikan produktivitas,” ungkap Sekretaris Daerah Kalteng Fahrizal Fitri, Jumat (2/10).

Sedikitnya ada 6 Balai Pelatihan Pertanian (BPP) dari 3 kabupaten/kota yang ditunjuk sebagai role model Kostratani. Salah satunya adalah BPP Kalampangan.

“Kostratani menjadi kunci sukses pertanian Kalteng di masa mendatang. Sebab, ada banyak hal yang diajarkan oleh Kostratani. Kompetensi petani di Kalteng tentu akan naik, artinya di situ juga ada jaminan kualitas produk pertanian, selain kuantitasnya. Petani semakin mandiri mengembangkan pertanian dalam lingkup luas,” terang Fahrizal lagi.

Menurut Fahrizal, pertanian di Kalteng memiliki basis mekanisasi dan digital. Adapun esensi yang diharapkan adalah efisiensi dan produktivitas yang tinggi. Mengakselerasi pertanian, Kostratani memulainya dari peningkatan kompetensi SDM pertaniannya. Sebab, SDM menjadi kontributor terbesar peningkatan produktivitas dengan slot 50%. Lalu, inovasi teknologi dan kebijakan pertanian masing-masing memberikan impact positif 25%.

“Pengaruh besar SDM pertanian untuk menaikan produktivitas memang benar. Kuncinya ada pada petani dan penyuluhnya. Sebab, mereka yang menciptakan beragam inovasi dan terobosan untuk menaikan produksinya,” kata Fahrizal.

Kostratani saat ini menjadi simbol kedaulatan pangan Indonesia. Program ini mengoptimalkan peran Penyuluh Pertanian beserta seluruh elemen petani. Menerapkan pertanian maju, mandiri, dan modern, Kostratani digulirkan di level kecamatan.

Pendekatannya melalui Teknologi Informasi dan mekanisasi. Perannya ada 5, yaitu pusat data dan informasi, pusat gerakan pembangunan pertanian, hingga pusat pembelajaran. Kostratani juga menjadi pusat konsultasi agribisnis sekaligus pengembangan kemitraan.

Sejak digulirkan, Kostratani memang menjadi Big Data pertanian. Informasi update yang disampaikan menyangkut skala (volume), distribusi (velocity), hingga keragaman (variety). Tujuannya pun beragam, meliputi updating validasi areal lahan, harga komoditas, SDM pertanian, e-proposal, hingga populasi dan produksi. Ada juga informasi profil petani, kelembagaan petani, dan kelembagaan penyuluhan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berharap dengan adanya penerapan Kostratani di Kalteng, pertanian di sana akan semakin maju. “Kostratani akan memperbaiki dan mengembangkan seluruh potensi yang ada di Kalteng. Bukan hanya produktif, Kostratani juga membangun pertanian berbasis digital. Semuanya sekarang terkoneksi secara internet. Aksesnya kini lebih mudah dan akurat, bahkan lebih cepat,” tegas Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Desi Nursyamsi menyatakan untuk menjadi member Kostratani juga tidaklah rumit. Daerah hanya diwajibkan punya akses koneksi internet. Jaringan terhubung langsung ke Agriculture War Room (AWR). Sejak diluncurkan pada Februari 2020, AWR menjadi pusat kontrol pembangunan pertanian berbasis digital. Dengan kecanggihan sistemnya, AWR mampu memantau kondisi pertanian hingga level kecamatan dan desa.

“Kalteng luar biasa responnya terhadap Kostratani. Seluruh potensi di Kalteng akan diberdayakan, termasuk perang BPP yang dilengkapi IT. Kami juga akan memberikan pelatihan-pelatihan untuk mendukung akselerasi pertanian di Kalteng. Yang jelas, seluruh anggota Kostratani kini terkoneksi online. Mereka siap menjawab beragam tantangan terkait 4.0 dengan kostratani,” tutup Dedi Nursyamsi.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *