Lahan Program Serasi Didorong Ikut Asuransi Pertanian

oleh -487 views

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) terus mengembangkan program untuk membantu petani  berupa asuransi usaha tani padi (AUTP).  Petani di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) dan petani yang mengolah lahan rawa program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) bisa memanfaatkan AUTP yang preminya disubsidi pemerintah.

“Bayar preminya hanya Rp 36 ribu/ha/musim tanam. Jadi, Pemerintah masih mensubsidi Rp 144 ribu/ha/musim tanam.  Kalau petani sudah menjadi peserta AUTP, nanti bisa melakukan klaim apabila sawahnya sawahnya terkena bencana banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) Rp 6 juta/ha/musim tanam,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy, Rabu (20/11).

Menurut Sarwo Edhy, agar semua petani bisa memanfaatkan program AUTP ini, sehingga petani bisa nyenyak dan tidur dengan tenang kalau lahan sawahnya terkena banjir, kekeringan  dan serangan hama.

“Sebab, petani yang telah menjadi pesetta AUTP bisa mengajukan klaim ke PT Jasindo dengan ganti rugi Rp 6 juta/ha/musim tanam,” ujarnya.

Sarwo Edhy juga berharap, penyuluh pertanian yang ada di lapangan berperan aktif untuk melakukan sosialisasi AUTP ke petani, melalui kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompk tani (Gapoktan) binaannya.

“Ini program bagus yang bisa membantu usaha tani. AUTP ini bisa menjadi jaminan usaha petani tatkala sawahnya terkena bencana kekeringan, banjir atapun serangan OPT,” tutur Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, Kementan menargetkan bisa mengembangkan AUTP sebanyak 1 juta ha/tahun. Namun, hingga saat ini realisasi dari program AUTP rata-rata baru sekitar 80% per tahun.

“Karena itu, kami minta petani memanfaatkan AUTP yang harga preminya sangat murah ini,” tambahnya.

Dikatakannya, AUTP merupakan cara Kementan untuk melindungi usaha tani agar petani masih bisa melanjutkan usahanya ketika terkena bencana banjir, kekeringan atau serangan OPT.

“Kami harapkan semua petani padi bisa mendaftar sebagai anggota AUTP. Karena harga preminya murah dan sangat bermanfaat,” ujarnya.

AUTP saat ini, tak hanya diperuntukkan bagi petani yang lahan sawahnya berada di kawasan rawan bencana dan serangan OPT. Akan tetapi, AUTP juga dikembangkan untuk petani yang lahan sawahnya aman dari bencana. Sebab, yang namanya bencana atau serangan OPT itu tak bisa diduga.

Data Kementan menyebutkan, jumlah petani peserta AUTP dari tahun ke tahun terus meningkat. Tercatat,  dari target  1 juta ha, realisasi AUTP pada tahun 2018 tercapai 806.199,64 ha, atau 80,62%. Sementara itu klaim kerugian yang diajukan petani mencapai 12.194 ha atau sebesar 1,51%.

AUTP yang dikembangkan Kementan sampai saat ini tak menemui banyak kendala. Pembayaran klaim yang dilakukan PT Jasindo sampai saat ini berjalan lancar. Guna mempermudah pendaftaran dan pendataan asuransi, Kementan bersama PT Jasindo menerbitkan layanan berbasis online melalui Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP).

Selain AUTP, Kementan juga menerbitkan asuransi ternak sapi/kerbau dengan nilai premi asuransinya Rp 40 ribu/ekor/tahun. Bagi petani yang ikut serta dalam asuransi ternak sapi/kerbau bisa mengajukan klaim ke PT Jasindo apabila ternaknya mati atau hilang sebesar Rp 10 juta.

“Asuransi ternak sapi/kerbau ini juga kami subsidi sebesar Rp 160 ribu/ekor/tahun,” kata Sarwo Edhy.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengimbau agar digitalisasi program asuransi pertanian ini ditingkatkan. Melalui layanan berbasis online melalui Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP), diharapkan semua petani mudah mendapatkan informasi dan ikut mendaftar.

“Era sekarang adalah era digital. Semua bisa dilakuka lewat digital. Perkembangan IT sudah melampaui batas kemampuan mata manusia. Harus mau belajar dan terus belajar. Belajar dari hal-hal bagus yang ada di sekitar,” kata Mentan Syahrul.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *