Penyuluh Adalah Agen Perubahan Peradaban Pertanian

oleh -86 views

MATARAM – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) tengah fokus meningkatkan kapasitas SDM petani dan penyuluh. Salah satu strateginya adalah mentransformasi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) menjadi BPP Komando Strategis Pengembangan Pertanian (Kostratani).

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menjelaskan, peran penyuluh amat penting bagi dunia pertanian Indonesia. Dedi menyebut penyuluh sebagai agen perubahan peradaban pertanian.

“Penyuluh ini agen perubahan peradaban pertanian. Kalau peradaban pertanian kita berubah, itu dipastikan berkat peran dari penyuluh,” kata Dedi Nursyamsi saat berdialog dengan puluhan penyuluh di BPP Kecamatan Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (22/10/2020).

Ia menjelaskan, dahulu, sistem pertanian kita masih tradisional. Sedangkan saat ini pertanian kita sudah berkembang pesat menggunakan teknologi. “Proses menggarap sawah sudah menggunakan alat mesin pertanian. Begitu juga dengan pupuk ada berbagai macam jenis mulai dari kimia hingga hayati,” kata dia.

Dedi melanjutkan perubahan peradaban ditandai dengan perubahan perilaku petani. Dari pola bercocok tanam lama ke sistem yang modern menggunakan teknologi mesin pertanian.

“Semua itu berkat peran penyuluh. Penyuluh ini yang mampu mengubah perilaku para petani. Untuk itu, penyuluh juga harus bisa mengambil hati petani, agar mau bersama-sama memajukan pertanian kita,” ucapnya.

Dalam kerangka itu, Dedi menyebut hal yang paling utama mesti dilakukan adalah peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) petani dan penyuluh. Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) adalah upaya revitalisasi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), baik fisik maupun non-fisik yang akan diselenggarakan Kostratani yang menyasar penyuluh dan petani.

Orientasi dari semua itu menurutnya adalah peningkatan kualitas produksi hasil pertanian. Dedi menyebut ada tiga faktor yang melesatkan peningkatan produktivitas. Pertama sudah barang tentu sarana prasarana dan inovasi teknologi.

“Sarana prasarana dan inovasi teknologi menopang kurang lebih 25 persen produktivitas pertanian,” ungkapnya.

Kedua adalah komitmen pemerintah daerah melalui peraturan-peraturan pertanian. “Dia juga berkontribusi sekitar 25 persen terhadap peningkatan produktivitas pertanian,” katanya.

Namun, kata Dedi, ada faktor yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Hal itu tak lain adalah SDM pertanian.

“Siapakah SDM pertanian, tidak lain tidak bukan adalah petani dan penyuluh. Maka, kostratani ini adalah upaya kami untuk meningkatkan SDM petani dan penyuluh yang berorientasi pada tujuan pembangunan pertanian yakni peningkatan produktivitas dalam rangka ketahanan pangan nasional,” papar Dedi.
Penguatan pembangunan itu akan menyentuh dua hal yakni fisik dan non-fisik. Pembangunan fisik BPP Kostratani menyentuh pada sarana dan prasarana, termasuk penguatan sistem IT seperti komputer, modem dan jaringan internet.
“Di saat yang sama juga kita akan genjot pemberdayaan penyuluhnya. Kapasitasnya kita tingkatkan melalui berbagai macam pelatihan tematik pertanian,” papar dia.

Sementara pemberdayaan petani juga akan dilakukan melalui berbagai macam pemberian ilmu pengetahuan holistik di sektor pertanian.

“Kemudian juga kapasitas petaninya. Kita akan beri pelatihan bagaimana cara bercocok tanam yang baik, bagaimana cara mengakses modal, bagaimana cara mengolah hasil panen sehingga harganya bagus. Itu yang akan kami genjot. Kami akan mempercepat proses pembangunan SDM pertanian melalui Kostratani,” tegasnya.

Dedi memaparkan tujuan dari penguatan SDM ini adalah terjadinya peningkatan produktivitas hasil pertanian.

“Tujuan kami memberdayakan penyuluh dan petani agar produktivitas meningkat. Kalau produktivitas tinggi, sudah pasti penyuluhnya aktif. Begitu juga sebaliknya. Maka semua BPP akan kita perkuat, termasuk di Lombok Utara ini. Ada 5.733 BPP yang bisa saling berdiskusi dan curhat dan berkoordinasi,” kata Dedi.

“Kostratani ini berada di kecamatan. Komandannya adalah camat, pelaksana hariannya adalah BPP di-support penuh oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Jadi Kostratani melibatkan seluruh komponen bangsa yang ada di tingkat kecamatan. Kostratani ini pusat gerakan pembangunan pertanian indonesia,” tambah Dedi.

Wali Kota Mataram, Ahyar Abduh sependapat dengan Dedi jika penyuluh memiliki peran sentral untuk memberdayakan petani. Ia yakin tingkat kemiskinan akan turun drastis jika kesejahteraan petani terus ditingkatkan. Menurut Ahyar, 49 persen penduduk NTB bergantung pada sektor pertanian. Di sisi lain, angka kemiskinan begitu tinggi.

“Jika kita ingin menurunkan angka kemiskinan, kita harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada petani kita. Peningkatan kesejahteraan petani dan penyuluh kita melalui berbaikan infrastruktur dan SDM tentu akan berkontribusi mengentaskan angka kemiskinan. Saya jamin angka kemiskinan turun kalau petani sejahtera,” kata Ahyar.

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Mataram harus berkejaran dengan pesatnya pembangunan. Tak mau lahan pertanian tergusur, Ahyar mengaku menerbitkan peraturan dalam revisi tata ruang Mataram mengenai lahan pertanian abadi seluas 1.500 hektar.

“Tujuannya agar lahan pertanian kita tidak habis tergerus pembangunan. Lahan pertanian pangan berkelanjutan itu tidak bisa diotak-atik. Saya bangga dengan petani kita meski lahannya sempit, tingkat kualitas dan kuantitas pertanian kita begitu tinggi,” paparnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menginginkan program Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) diharapkan akan lebih cepat menggerakkan pembangunan pertanian pedesaan menuju pertanian maju, mandiri dan modern.

“Peran itu nantinya digerakkan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) sebagai pusat pelaksanaan Kostratani dengan mengefektifkan penyuluhan dan meningkatkan keahlian para penyuluh pertanian,” ujarnya.

Selain itu, Mentan SYL menilai Kostratani di desain agar bisa mengidentifikasi potensi komoditas unggulan lokal yang bisa mengungkit pendapatan dan kesejahteraan petani. Dengan peningkatan SDM dan teknologi, Mentan SYL optimistis pertanian Indonesia akan bertransformasi menjadi pertanian unggul.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *