Poktan di Pangkep Manfaatkan Irigasi untuk Percepat Tanam

oleh -721 views
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

SUARAJATIM.CO.ID//SULSEL – Percepatan tanam dilakukan para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Karya Nyata di Kecamatan Minasatene, Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Percepatan tanam dilakukan dengan mengelola air irigasi.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), para petani di seluruh Indonesia harus segera melakukan percepatan tanam pada Musim Tanam ke II tahun ini.

“Percepatan tanam harus dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan. Manfaatkan sisa air ada musim hujan. Pastikan produktivitas meningkat untuk menjaga ketahanan pangan nasional, khususnya di masa pandemi Covid-19,” tutur Mentan SYL, Kamis (18/06/2020).

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa irigasi untuk pertanian.

“Irigasi adalah salah satu kunci untuk meningkatkan indek pertanaman (IP), produktivitas, dan meningkatkan produksi padi maupun komoditas pangan lainnya di daerah irigasi,” ujarnya.

Kecamatan Minasatene sendiri termasuk lokasi proyek Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) atau Modernisasi Irigasi dan Rehabilitasi Irigasi. Proyek ini diikuti Poktan Karya Nyata yang tergabung dalam Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Leang Kassi Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene, Kepulauan Sulawesi Selatan.

Salah satu pendekatan proyek SIMURP adalah melalui teknologi Climate Smart Agricuture (CSA) atau pertanian cerdas iklim, yaitu teknologi yang inputnya rendah tetapi dapat mendongkrak produktivitas dengan risiko lingkungannya minimal.

Selain CSA faktor pendongkrak produksi nomor satu adalah pemberdayaan sumberdaya manusia (SDM) yaitu penyuluh pertanian, petani dan para pengelola pertanian, diikuti dukungan sarana prasarana dan inovasi teknologi.

Oleh karena itu, Dedi menginstruksikan agar penyuluh pertanian tetap turun ke lapangan. Tetap dampingi petani dalam proses produksi.

“Pangan tidak boleh bersoal, apa lagi berhenti walaupun Covid-19 masih melanda negara kita. Setelah panen segera olah tanah dan tanam, tanam dan tanam. Dengan melakukan percepatan tanam adalah kunci ketersediaan pangan nasional,” tuturnya.

Sementara Ketua Poktan Karya Nyata M. Saimubbin, mengungkapkan bahwa anggotanya secara rutin bergotong royong untuk melakukan perbaikan saluran dan pengelolaan air irigasi.

“Pengelolaan dilakukan agar proses percepatan tanam padi tidak terganggu, dan fungsi air tepat saat dibutuhkan tanaman pada setiap fase pertumbuhannya,” terangnya.

Poktan Karya Nyata beranggota 25 orang. Mereka mengelola sawah kurang-lebih seluas 24,4 ha, yang ditanam varietas Ciherang dengan cara tanam pindah (tapin) sistem tegel dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm.

Saimubbin mengatakan, manajemen pengelolaan usahatani padi berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip CSA.

“Diantaranya penggunaan input produksi berbasis kimia serendah mungkin berupa pupuk kompos/organik. Sehingga menghemat pupuk urea sampai 50%, pengendalian hama/organisme pengganggu tanaman lainnya menggunakan pestisida nabati (pesnab) dengan memanfaatkan bahan-bahan alami lokal. Manajemen pengelolaan air disesuaikan dengan kebutuhan setiap fase pertumbuhan tanaman,” katanya.

Pengelolaan tanaman melalui prinsip CSA mendorong peningkatan dari IP 200 menjadi IP 300 atau lebih sehingga produktivitas dan produksi padi bisa lebih tinggi dari musim tanam sebelumnya yang mencapai 7,2 ton/ha GKP, dan pendapatan petani terus meningkat.

Pemberdayaan petani dan poktan tidak lepas dari bimbingan Erma Purwanti, SP sebagai penyuluh pertanian di wilayah kerja BPP/Kostratani Minasatene, bersama Hj. Maryana sebagai koordinator penyuluh pertanian kecamatan Minasatene dan Andi Faizal, penyuluh pertanian Kostrada Pangkajene Kepulauan.

Pendampingan dalam proses pemberdayaan petani, poktan dan Gapoktan maupun kelompok lainnya menuju kemandirian dalam melaksanakan usahataninya ; mandiri dalam berpikir, bertindak, maupun mengendalikannya sehingga usahataninya bisa berkembang, produktif, dan menguntungkan serta menjanjikan. Sekaligus mendorong lahirnya generasi muda atau petani milenial terjun langsung pada sektor pertanian.(RSL/NF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *