Responsif Terhadap Masalah, Mahasiswa Dituntut Aktif di Pembangunan

oleh -842 views

SUARAJATIM.CO.ID, BANDUNG – Di era Revolusi Industri 4.0, informasi berubah dengan sangat cepat. Untuk bertahan dan bersaing, dibutuhkan fleksibilitas plus elastisitas tinggi terhadap tantangan. Kompetensi kompleks pun dibutuhkan, bila mahasiswa ingin menang dalam rivalitas Revolusi Industri 4.0 tersebut.

“Skill dan fleksibilitas tinggi diperlukan bagi mahasiswa. Tujuannya, untuk memenangkan persaingan di dalam Revolusi Industri 4.0 yang semakin kencang. Mereka harus mampu melewati setiap tantangan. Hal ini sudah harus dipersiapkan dari sekarang,” ungkap Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Senin (13/8).

Memenangkan persaingan dalam era Revolusi Industri 4.0, mahasiswa harus memiliki kompetensi yang kompleks. Kualitas dan kapabilitas harus didukung dengan karakter problem solving, critical thinking, hingga innovative. “Hal ini sudah menjadi paket kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Kalau ingin sukses dan bertahan, maka piranti-piranti tersebut harus dimiliki. Iklimnya sangat berbeda sekarang,” katanya.

Memberikan support, audiensi pun dilakukan Kantor Staf Kepresidenan (KSP). KSP memberikan kuliah umum dengan tema ‘Wawasan Kebangsaan’ di Telkom University. Dihadapan 3.500 mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019, KSP juga memberikan transformasi pengetahuan sekaligus motivasi. Tujuannya, agar mahasiswa baru memiliki arah dan mentalitas teruji.

“Sekarang kuncinya kemampuan adaptasi. Kalau bisa menyesuaikan dengan berbagai keadaan dan perubahan, segala jenis tantangan akan menjelma menjadi peluang terbaik,” jelas Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodawardhani dalam kualiah umum tersebut.

Telkom University merupakan penggabungan dari empat institusi. Posisinya berada di bawah Yayasan Pendidikan Telekom. Yaitu, Institut Teknologi Telkom, Institut Manajemen Telkom, Politeknik Telkom dan Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia Telkom (STISI Telkom). “Profil yang dimiliki oleh Telkom University ini luar biasa. Potensinya besar menghasilkan mahasiswa handal,” terangnya.

Jaleswari yang sebelumnya juga dikenal sebagai pengamat militer memaparkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mampu bersaing. Indonesia bahkan dinilai mampu menguasai perekonomian dunia pada era revolusi Industri 4.0. Alasannya, Indonesoa memiliki sumber daya yang kaya. Entah, sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

“Indonesia juga didukung oleh infrastruktur transportasi kian maju. Infrastruktur ini bahkan mampu menghubungkan antara pulau paling ujung ke ujung yang lain,” ungkapnya.

Diuraikan Jaleswari, jika dulu berdagang ke Papua menjadi sulit, sekarang tidak lagi. Sebab, adanya pembangunan bandara dan pelabuhan di seluruh pelosok Indonesia. Kebijakan ini memang menjadi fokus kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Gencarnya pembangunan infrastruktur terbukti menurunkan harga. Harga dari bahan pokok, bahan bangunan dan juga bahan bakar minyak di tanah Papua bahkan semakin murah,” ungkap Jaleswari.

Data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) menunjukkan adanya penurunan harga gula pasir di Wamena 14 persen dan harga semen hingga 40 persen. Deputi V Kepala Staf Kepresidenan juga berpesan, agar mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dapat berperan aktif dalam menyukseskan pembangunan bangsa karena pada 30 tahun mendatang.

“Kantor Staf Presiden aktif menggelar diskusi dengan milenials. Lewat program KSP Mendengar, masukan anak muda untuk pembangunan bangsa kami terima dan salurkan kepada Presiden,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *