Sesepuh NU Garut: Pilpres 2019 Bukan Soal Politis Belaka, Tapi Terkait Ideologis.

oleh -449 views

GARUT – Pengasuh Pondok Pesantren Al Halim, Tarogong Garut, KH Raden Ali Muhyiddin menegaskan, bahwa Pilpres 2019 bukan sekadar pertarungan politik. Menurutnya, Pilpres kali ini sudah taruhan ideologis.

Hal itu diungkapkan Kiai Ali saat tim Master C19 Portal KMA bertandang ke Ponpen Al Halim.”Pilpres ini simple sebetulnya, ini pertarungan Khilafah melawan NKRI, Aswaja melawan Wahabi. Jadi gak usah banyak debat,” tandasnya, Sabtu (2/3).

Lebih lanjut Kiai Ali menjelaskan,pada Pilpres kali ini melibatkan kelompok yang hendak merongrong NKRI. Dan, kelompok itu terang-terangan mendukung salah satu calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02.

“Sudah jelas juga di mana kelompok pendukung khilafah yang ingin mengubah dasar ini dengan cara apapun. Karena itu, Nahdliyyin diminta bergerak agar negeri ini tidak dikuasai oleh mereka,” tukasnya.

Perintah dari Kiai Ali pun disambut antusias GP Ansor Kabupaten Garut. Menurut Ketua GP Ansor Garut, R. Muhammad Abdullah Badar, pihak akan mempersolid gerakan untuk memenangkan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin (KMA).

“Kami sudah tahu mana yang harus kita menangkan. GP Ansor pusat jug sudah mengintruksikan anggota bergerak,” ujarnya dalam Halaqoh GP Ansor bersama Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin,

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Master C19 Portal KMA, Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin mengapresiasi kaum muda Nahdliyin dan GP Ansor Pasundan yang sudah membulatkan tekad memenangkan paslon 01.

Gus Syauqi juga berharap GP Ansor tidak ragu menjelaskan ke masyarakat bahwa paslon 01, kombinasi pimpinan yang ideal. “Meski itu tidak mudah, tapi kami yakin Banser bisa melakukan itu,” tuturnya.

Gus Syauqi meyakini, mayoritas masyarakat Indonesia menginginkan paslon 01 yang terpilih. Hanya saya, masih banyak yang terpengaruh dengan isu isu hoaks yang terus menerus diluncurkan paslon 02.

“Misalnya, Pak Jokowi dibilang keturunan PKI. Abah akan diganti dengan Ahok kalau terpilih nanti. Itu semua hoax. Pergantian wakil presiden tidak gampang. Terlebih yang menggantikan Ahok,” tandasnya.

Lebih lanjut dijelaskan terkait banyak isu hoaks yang digulirkan kubu 02. Menurut putra Kiai Ma’ruf Amin ini, itu karena warga Nahdliyin tidak pernah menjelaskan fakta yang sebenarnya. “Kita baru menjelaslan setelah isu itu ramai. Padahal kalau lebih dulu kita jelaskan faktanya, mungkin isu hoax tidak bisa masuk ke masyarakat,” katanya.

“Makanya, kita punya teori. Hoax harus kita lawan dengan fakta. Kebenaran harua kita sampaikan dengan cara yang benar agar masyarakat bisa muda mencerna fakta,” pungkasnya.

Wakil Ketua LTN PBNU, Gus Mashudi Abdurrahman menambah, terkait maraknya kelompok yang menghina ulama NU, agar kaum muda Nahdliyyin tidak perlu banyak berdebat. Tetapi langsung saja dieksekusi. “Dalam kondisi saat ini, jika ada yang menghina Kyai, tidak usah marah-marah dan mendebat. Langsung hajar saja!,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *