Stop Polemik Airlangga Positif Covid-19, Itu Untuk Lindungi Kepentingan Nasional Lebih Besar

oleh -110 views

JAKARTA – Tidak usah lagi berpolemik soal isu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang sempat positif Covid-19. Sebab, negara memiliki kalkulasi dan strategi tersendiri untuk mengamankan kepentingan strategis nasionalnya. Negara harus menjaga dan memastikan stabilitasnya, khususnya perekonomian yang ikut terpuruk akibat pandemi Covid-19. Apalagi, perekonomian menjadi kunci hidup bagi seluruh masyarakat.

Pejabat positif Covid-19 bukan hal baru. Sejak awal pandemi Covid-19 muncul di Indonesia, ada banyak pejabat yang dinyatakan positif. Mengacu Kabinet Indonesia Maju, ada sekitar 8 menteri yang dikabarkan positif Covid-19. Namun, hanya 3 menteri yang mengumumkan status positif Covid-19 tersebut. Sebut saja, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Kelautan dan Perikanan Edi Prabowo, serta Menteri Agama Fachrul Razi.

“Pertimbangan kepentingan yang lebih besar harus diutamakan. Ada pertimbangan lain agar seluruh kegiatan lancar. Ekonomi juga tidak terganggu,” ungkap Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono.

Publik sebelumnya sempat mempertanyakan posisi Airlangga yang tidak mengumumkan status positif Covid-19. Status tersebut pun terkuak manakala Airlangga berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalessen Covid-19 di Jakarta, Senin (18/1). Sebab, hanya mantan pasien positif Covid-19 yang bisa menjadi donatur Plasma Konvalessen Covid-19.

Perlu diketahui, plasma darah Konvalessen Covid-19 sangatlah berharga. Sebab, plasma konvalesen memiliki kandungannya antibodi SARS-Cov-2. Plasma ini kemudian diproses agar dapat didonorkan kepada pasien aktif Covid-19. Gejalanya bisa berat dan kritis. Terapi plasma darah Konvalessen pun menjadi metode tambahan bagi pasien Covid-19. Sebab, menjadi konsep imunisasi pasif melalui donor plasma darah.

“Covid-19 kan hal kesehatan yang sangat pribadi. Kalau positif, maka seyogyanya yang bersangkutan mengumumkannya langsung. Sekali lagi, kalau ada menteri yang terkena Covid-19, bukan tugas Istana untuk mengumumkannya. Diharapkan dari masing-masing individu saja,” terang Heru.

Bertarung menjaga stabilitas ekonomi sepanjang pandemi Covid-19, tangan dingin Airlangga pun berbuah manis. Diseimbangkan dengan kesehatan, performa perekonomian Indonesia pun impresif. Sukses mengatrol roda ekonomi nasional di tengah kelumpuhan global akibat pandemi Covid-19. IHSG dan nilai tukar rupiah saat ini terus menunjukan kinerja positif.

Angka IHSG sudah kembali lagi ke nilai Rp7.033,76 Triliun pada 29 Desember 2020. Jumlahnya naik Rp2.477 Triliun bila dikomparasikan dengan posisi terendah di akhir Maret 2020. Posisi riil IHSG hingga 29 Desember sudah berada pada level 6.036. Pada Rabu (13/1), IHSG membukukan kenaikan tertinggi 7,63% secara year to date tahun berjalan. Prosentase tersebut pun menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN.

Lalu, bagaimana dengan nilai tukar rupiahnya? Nilai tukarnya menyentuh Rp14.130 per USD1. Perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh positif 4,5% hingga 5,5% pada 2021. Atas performa itu, wajar bila publik puas dengan kinerja pemulihan ekonomi nasional. Acuannya, hasil survei LKPI yang menyatakan tingkat kepuasan 76,6% dari 1.225 responden di berbagai wilayah di Indonesia.

Lebih lanjut, neraca perdagangan 2020 tetap terjaga hingga membukukan angka surplus USD21,74 Miliar. Berkah di tengah pandemi, apalagi Indonesia surplus dagang besar terakhir pada 2011 dengan nominal USD26,06 Miliar. Indonesia bahkan mengalami defisit perdagangan USD3,59 Miliar pada 2019. Setahun sebelumnya pun defisit USD8,7 Miliar di tahun 2018.

Namun, Indonesia masih surplus perdagangan USD11,84 Miliar pada tahun 2017. Dua tahun sebelumnya juga surplus, seperti USD9,48 Miliar pada 2016 atau 2015 yang membukukan angka USD7,67 Miliar. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Alia Karenina mengatakan, Airlangga sudah melakukan testing, tracing, dan treatment.

“Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat terdeteksi Covid-19 pada 2020. Saat itu sudah diterapkan testing, tracing, dan treatment (3T) secara optimal. Jadi, sebenarnya sudah tidak ada masalah,” kata Alia.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *