Berburu Batik Lulantatibu di Festival Crossborder Nunukan

oleh -278 views

NUNUKAN – Wisatawan yang berkunjung ke Nunukan, Kalimantan Utara, akhir minggu ini, dipastikan bakal happy. Pasalnya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Festival Crossborder Nunukan, 27-28 April. Event ini menjadi momentum yang tepat untuk berburu batik khas Nunukan, Batik Lulantatibu.

Batik Lulantatibu merupakan penggabungan dari 5 etnis asli di Nunukan. Terdiri dari Dayak Lundayeh, Tagalan, Taghol, dan penggabungan Tidung-Bulungan. Batik ini pun bukan batik sembarangan. Karena ada pesan yang begitu besar yang tersirat didalamnya. Batik Lulantatibu melambangkan kemakmuran, kesuburan, kekuatan, pertahanan, dan persatuan.

“Batik Lulantatibu menjadi ciri khas yang dimiliki Nunukan. Bahkan menjadi kebanggaan masyarakat Nunukan. Karena merupakan penggabungan 5 suku besar yang ada di Nunukan. Motifnya keren dengan perpaduan warna yang menarik, sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh,” ungkap Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II Adella Raung, Kamis (25/4).

Sedikitnya ada 5 motif khas etnis Dayak asli yang dikolaborasikan dalam Batik Lulantatibu. Ada motif tempayan yang menjadi identitas Dayak Lundayeh. Familiar sebagai arit tabuk, motif ini punya makna perlindungan seperti fungsi tempayan. Motif lain berupa bunga raya yang dimiliki Dayak Tidung dan Bulungan. Bunga raya ini menjadi simbol tolak bala, pengobatan, hingga kesuburan.

Motif berikutnya yang disatukan berupa tameng dan menjadi identitas Dayak Taghol. Tameng ini punya arti sebagai pertahanan diri dan kekuatan. Terakhir, motif kebabuayo atau dada buayo. Motif ini menjadi identitas Dayak Tagalan. Karakternya ditampilkan melingkar yang memiliki pusat dan dihiasi ornamen titik-titik.

Motif-motif tersebut dikolaborasikan dengan unsur alam. Batik Lulantatibu memasukan unsur kayu melalui motif bulatan, lengkap dengan lingkar tahunnya.

Ciri Borneo berupa ulir atau sulur juga dimasukan. Ulir yang mengembang ke luar ini memiliki makna, warga Nunukan tetap ingat daerah asal meski berada jauh di perantauan. Unsur lain yang dimasukan adalah gambaran air atau sungai dan batu.

“Motif-motif yang membedakan batik Nunukan dengan batik lainnya. Selain itu, Batik Lulantatibu juga memasukan unsur lain yang banyak ditemui dalah keseharian yang membuatnya makin kaya,” terang Adella.

Sementara itu Kepala Bidang Pemasaran Area III Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar, Sapto Haryono menambahkan, Festival Crossborder memang diset mengangkat potensi di daerah perbatasan. Hal ini dilakukan untuk mendorong pengembangan perekonomian masyarakat.

“Karena tak dapat dipungkiri jika wilayah perbatasan memiliki potensi yang melimpah. Ya salah satunya Batik khas Nunukan, Batik Lulantatibu,” ungkap Sapto

Bagi Menteri Pariwisata Arief Yahya, Festival Crossborder merupakan cara efektif mengangkat seluruh potensi pariwisata yang ada di perbatasan. Karena dengan adanya atraksi wisata maka akan terjadi pergerakan wisatawan. Dengan itu maka bisa dipastikan terjadi pula perputaran perekonomian dari atraksi wisata tersebut.

“Batik Lulantatibu memiliki karakter khas yang unik. Dengan itu segmen pasarnya juga pasti akan menjanjikan. Tinggal terus didorong untuk mendapatkan tempat di hati wisatawan. Makanya atraks-atraksi wisata di Nunukan juga terus didorong oleh Kemenpar, sehingga menjadi pemicu bagi perkembangan perekonomian masyarakat,” papar Menpar Arief.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *