Bimtek dan Sosialisasi CHSE Eksplorasi Warna Kreatif Tradisional Destinasi Solo

oleh -387 views

SOLO – Beragam warna kreatif tradisional destinasi Solo dimunculkan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sosialisasi CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, Environment Sustainability). Kekuatannya jadi modal utama bangkit sepanjang masa transisi New Normal. Apalagi, karya kriya dan kuliner tradisional itu sejatinya sudah memiliki akses ke mancanegara.

Bimtek dan Sosialisasi CHSE edisi Solo, Sabtu (14/11), menjadi media branding produk kreatif tradisional. Penyelenggaraannya dilaksanakan di Swiss-belHotel, Solo, Jawa Tengah. Pesertanya berjumlah 100 orang. Backgroundnya para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satu kriya asal destinasi Solo yang bisa dinikmati datang dari Cil-Cil Craft. Basic-nya permainan anak edukatif dengan rasa etnik kental.

“Nuansa tradisional tetap kami pertahankan. Semuanya dituangkan dalam bentuk permainan edukatif. Hanya saja, kemasannya dibuat mengikuti perkembangan jaman. Ada banyak sekali jenis produk yang dihasilkan. Sebab, kami desain sendiri produknya,” ungkap Owner Cil-Cil Craft Herumanto Moektijono.

Cil-Cil Craft sudah menghasilkan sedikitnya 700 varian produk permainan edukatif. Bahan bakunya pun berasal dari limbah kayu. Ada kayu Mahoni, Jati, dan Mindi. Mereka juga mengolah limbah kertas jadi tempat lilin. Produknya sempat dipamerkan di Singapura. Adapun permainan edukatif tradisional dari kayu dikembangkan menjadi bermacam varian, seperti puzzle, anyam, hingga beragam miniatur.

Khusus puzzle, permainan ini menggunakan motif batik dan tokoh wayang. Motif batik yang diadopsi diantaranya Kawung, Parang, dan Madubronto. Adapun tokoh wayang yang dipilih adalah Pandawa dan Punakawan. Varian lainnya adalah balok dengan tema etnik, yaitu bentuk Joglo, Pura, dan Honai. Cil-Cil Craft juga menawarkan permainan proses permainan menyusun balok berupa pembuatan keris.

“Program Bimtek dan Sosialisasi memiliki posisi strategis. Media branding berbagai karya kreatif yang ditawarkan destinasi Solo. Wisatawan pun bisa mengeksplorasinya saat berkunjung ke Solo. Destinasi ini sangatlah aman karena menjalankan program CHSE. Semuanya distandardisasi dan punya kepastian,” terang Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Hari Santosa Sungkari.

Beragam permainan edukatif dengan konten tradisional dibanderol Rp20 Ribu hingga Rp200 Ribu. Lebih menarik, produk ini sempat dihubungkan dengan pangsa Amerika Serikat dan Jerman. Produk tersebut kini dipasarkan online di BliBli dengan varian sekitar 130 produk yang ditawarkan. Platform lainnya adalah Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee. Pemesanan juga bisa melalui telepon nomor 0811294317.

“Destinasi Solo memang eksotis. Ada beragam produk unik dan menarik yang ditawarkan di sana. Dan, kultur budaya mereka sangatlah kuat. Pastikan produk kreatif tradisional ini jadi cindera mata terbaik saat berkunjung ke Solo,” kata Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Oni Yulfian.

Selain karya kriya permainan edukatif tradisional, Bimtek dan Sosialisasi CHSE menawarkan kuliner tradisional. Produknya adalah Apem Sewu Bibimia dengan resep otentik warisan leluhur. Selain history, keunikan lain terlihat dari komposisi bahan bakunya. Ada tepung beras, tape singkong, dan gula merah. Resep ini sudah ada sejak ratusan tahun silam. Sebab, Apem Sewu menjadi camilan prajurit keraton.

Para prajurit keraton dahulu tinggal di Kampung Sewu yang berada di bantaran sungai. Karena kerap banjir, mereka menggunakan Apem Sewu menjadi pendukung ritual sakral. Nuansa sakral dirasakan hingga kini. Sebelum pandemi Covid-19, setiap bulan Oktober selalu digelar Kirab Apem Sewu. Apem ini pun dibuat oleh Owner Bibimia Maria Latuasan. Maria kini menjadi satu-satunya perajin Apem Sewu yang masih tersisa.

“Selain kriya, kuliner Solo sangatlah terkenal. Cita rasanya juga nikmat karena dibuat dari resep turun temurun. Beberapa varian juga memiliki nilai kesakralan dengan history luar biasa. Dengan produk yang sangat beragam, kuliner Solo dijamin memberikan experience yang mengesankan,” papar Koordinator Area I Pengembangan Destinasi Regional I Wijonarko.

Saat ini Apem Sewu Bibimia memiliki 3 varian produk. Sebut saja, varian Original yang menggunakan gula merah. Ada juga varian Waluh dan Ubi Ungu yang dikombinasi pandan. Harganya 1 pax dengan isi 10 pcs sekitar Rp30 Ribu. Pangsa pasarnya wisman asal Kanada, Amerika Serikat, dan Jerman. Jerman bahkan sempat menawarkan kerjasama. Bila tertarik bisa menghubungi 085293691966 atau Instagram apemsewu_bibimia.

“Produk-produk kreatif seperti ini tentu akan didukung penuh. Sebab, ini bagian dari konservasi budaya nenek moyang. Jadi, semuanya tetap original dan lestari. Meski sangat kental dengan nuansa tradisional, produk ini tidak kehilangan pamornya. Potensi pangsa pasarnya tetap terbuka hingga luar negeri,” tutup Sub Koordinator Area I A Pengembangan Destinasi Regional I Andhy Marpaung.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *