Co-Branding Destinasi Jadi Momentum Bangkitnya Pariwisata Garut

oleh -85 views

GARUT – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknis Kemitraan Strategi Promosi Pariwisata di Era Adaptasi Kebiasaan Baru di Garut. Bimtek itu menjadi momentum kebangkitan pariwisata Garut yang terdampak pandemi Covid-19.

Anggota Komisi X DPR RI, Fediansyah menuturkan, hampir 80 persen wilayah di Garut merupakan konservasi alam dan hutan. Sudah barang tentu kawasan konservasi alam dan hutan itu menjadi tujuan wisata di Kabupaten Garut. Bagi Ferdiansyah, promosi pariwisata Garut tak bisa berdiri sendiri.

“Semua pihak harus ikut membantu mempromosikan obyek wisata yang ada di Garut ini. Tidak mungkin beban ini diberikan ke dinas pariwisata setempat saja. Kita harus bersama-sama dan nanti difasilitasi oleh Kemenparekraf yang bisa menyampaikan bagaimana mempromosikan, bentuk, metode atau klasifikasi bagaimana cara menyampaikan promosi,” kata Ferdiansyah di Garut, Rabu (28/10/2020).

Meski sama-sama destinasi wisata, namun Garut tentu memiliki treatment berbeda dalam mempromosikannya. Sebab, segmentasi pasar destinasi wisata di Garut sudah barang tentu berbeda dengan destinasi wisata lainnya di Indonesia. “Karena beda segmentasinya, maka berbeda pula caranya. Berbeda caranya, berbeda pula sasarannya. Kita harapkan melalui kegiatan ini segmentasi market wisata Garut bisa dituangkan dalam bentuk aplikatif,” harapnya.

Tak hanya itu, Ferdiansyah juga berharap Bimtek ini memberi gambaran menyeluruh bagaimana nantinya mekanisme viralisasi promosi destinasi wisata di Garut. “Kami berharap hal ini menjadi perhatian bersama. Bagaimana pula co-branding di Garut ini bisa menjadi daya tarik wisata. Apakah dodo Garut bisa menjadi co-branding Kemenparekraf ataukah domba Garut. Ini harus dipikirkan,” ujarnya. Ia berharap Kemenparekraf/Baparekraf terus mengawal strategi pemasaran pariwisata Garut. “Mudah-mudahan ke depannya harus dibuat lebih matang dan nanti di tahun 2024 menjadi titik take off pariwisata di Kabupaten Garut,” harap dia.

Ferdiansyah menambahkan, melalui Bimtek ini salah satu yang ditekankan adalah penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. “Sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability) ini berfungsi sebagai jaminan wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan,” tutur dia. Salah satu komitmen yang disepakati bersama dalam membangun kepariwisataan Garut adalah berbasis budaya. Untuk itu, Ferdiansyah mengajak semua pihak untuk menjaga ekosistem kepariwisataan yang ada di Garut.

“Jadi yang kami lakukan dari DPR RI dan Kemenparekraf tidak seberapa pahit dan getirnya dibanding yang dialami dunia pariwisata. Tetapi setidaknya, kehadiran kami dalam konteks pariwisata dan ekonomi kreatif bisa sedikit menjadi pelipur lara yang terjadi di dunia pariwisata. Program ini nanti untuk diimplemantasikan. Kita tidak belajar lagi 3A (Akses, Amenitas dan Atraksi), tapi harus dikemas menjadi sebuah karya yang bagus,” harap dia. Melalui kegiatan ini Ferdiansyah berharap Kabupaten Garut menjadi lebih aman, bersih, indah dan program CHSE juga harus dilanjutkan.

Direktur Pemasaran Regional I, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu menjelaskan, pemerintah, dalam hal ini Kemenparekraf menyadari betul keprihatinan yang dialami para pelaku pariwisata di seluruh penjuru Tanah Air. Vinsensius Jemadu menegaskan pemerintah tak tinggal diam atas situasi tersebut. “Pemerintah hadir bersama untuk menanggung beban yang ada di sektor pariwisata sekalipun dengan keterbatasan yang ada. Perlu kami sampaikan, sejak bulan Juni kemenparekraf berusaha dengan skala yang kecil untuk membantu memberikan fasilitas, akomodasi, tenaga kesehatan di beberapa kota. Tujuannya untuk membantu agar hotel-hotel bisa mempekerjakan karyawannya kembali,” ulas dia.

Hal lainnya, pemerintah juga terus mencari skema terbaik untuk mengatasi situasi ini, utamanya di sektor pariwisata. Salah satunya adalah dengan memfasilitasi sektor pariwisata agar dapat tetap bergerak pada masa pandemi ini. Namun ia mengakui upaya pemerintah itu tak sebanding dengan tingkat kerugian yang dialami para pelaku jasa usaha pariwisata.

Pada era new normal atau adaptasi kebiasaan baru, Kemenparekraf/Baparekraf berupaya keras membangkitkan kembali sektor pariwisata yang terpuruk. Salah satunya dengan memfasilitasi obyek wisata protokol kesehatan yang menjadi orientasi baru wisatawan dalam menentukan pilihan destinasi yang akan dikunjunginya. Ya, menurut Vinsensius Jemadu, pandemi Covid-19 yang masih berlangsung tak dapat menghentikan siapa pun untuk menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga.

Hanya saja, pola baru dari kunjungan mereka adalah memperhatikan fasilitas lain daripada sarana penunjang di obyek wisata, yakni penerapan disiplin protokol kesehatan. Umumnya, wisatawan akan memilih destinasi yang menerapkan protokol kesehatan dengan baik untuk dikunjungi. “Oleh karenanya, kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan menjadi fasilitas baru yang dicari oleh wisatawan sebelum mereka mengunjungi obyek wisata. Bimtek ini juga salah satu tujuannya adalah memperkuat protokol kesehatan di obyek wisata,” kata Vinsensius Jemadu.

Vinsensius Jemadu menerangkan, salah satu hal penting dari pelaksanaan Bimtek ini adalah upaya menguatkan SDM (Sumber Daya Manusia) terkait di sektor kepariwisataan agar setara dengan daerah lainnya.

“SDM di Garut ini perlu ditingkatkan supaya betul-betul setara dengan SDM-SDM destinasi pariwisata yang premium. Oleh karena itu, buatlah sesuatu untuk SDM di Garut ini. Sekarang ini kan momentumnya digitalisasi. Garut ini luar biasa indahnya, tapi sayang kalau tidak dipromosikan secara digital,” kata Vinsensius Jemadu.

Ia menyadari pandemi Covid-19 begitu berdampak pada sektor pariwisata di Indonesia, tak terkecuali Garut. Dengan momentum Sumpah Pemuda, ia berharap masyarakat terus meningkatkan kesadaran disiplin protokol kesehatan agar memberikan jaminan keamanan bagi wisatawan yang akan melakukan perjalanan wisata, khususnya ke sejumlah destinasi di Garut.

“Dengan momentum Sumpah Pemuda,mari kita bersatu melawan COVID-19 dengan disiplin memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Itulah upaya efektif mengatasi COVID-19. Kita menyadari bahwa COVID-19 ini merubah semua tatanan hidup baik sosial, budaya, ekonomi bahkan politik. Salah satu yang paling dampak adalah sektor pariwisata,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Budi Gan Gan Gumilar menegaskan, salah unggulan pariwisata Garut adalah seni budaya. Kabupaten Garut, kata Budi, merupakan wilayah yang cukup dinamis. “Jadi kreativitas yang diinisiasi para seniman dan budayawan di Kabupaten Garut sangat luar biasa,” papar dia. Salah satunya adalah seni tari yang digerakkan oleh salah seorang guru di SMK 11 Garut. “Seni budaya ini digerakkan oleh Teh Destri. Teh Destri itu salah satu yang biasa menggawangi kegiatan gebyar pesona Garut. Biasanya prosesi pembukaan itu Teh Destri yang merangkai atraksi kegiatan prosesinya,” urai dia

Di sisi lain, Budi mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya Bimtek Kemenparekraf/Baparekraf yang memberikan penguatan SDM dan mendorong promosi digital pariwisata di Kabupaten Garut. “Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan kepada sektor pariwisata di Garut ini. Semoga era new normal kembali menggeliatkan sektor pariwisata kita di Garut ini,” harapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *