Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Kemenparekraf Susun Pola Perjalanan Overland Borobudur

oleh -118 views

JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah menyusun pola perjalanan overland Borobudur, Jawa Tengah. Penyusunan pola perjalanan ini diperuntukkan sebagai pedoman bagi wisatawan yang tengah berlibur. Orientasinya sudah barang tentu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Borobudur.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf, Rizki Handayani menerangkan, pola perjalanan ini disusun agar pihaknya paham pola pergerakan wisatawan dan siapa yang akan didorong untuk didatangkan menikmati keindahan alam Indonesia.

“Penyusunan pola perjalanan ini agar kita mengetahui pola pergerakan dan siapa yang akan didorong untuk datang ke Indonesia,” kata Rizki pada acara Focus Group Discussion (FGD) “Pembahasan Pola Perjalanan Wisata Overland Wonderful Flores, Journey Into the Magnificent Toba Caldera dan Borobudur Trail of Java Civilization” di Hotel Sari Pacific Jakarta, Rabu (27/1/2021).

Perempuan yang karib disapa Kiki itu berharap pertemuan ini akan memperbaiki, melengkapi, meningkatkan kualitas dari yang sebelumnya. Ia berharap nantinya pola perjalanan wisata overland ini tak hanya sekadar dokumen, tapi harus jadi inspiring. Ia ingin kualitasnya ditingkatkan.

Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan Kemenparekraf, Alexander Reyaan mengingatkan, pola perjalanan wisata di Borobudur sudah banyak operatornya. Beda seperti di Labuan Bajo yang memang membutuhkan jalur perjalanan wisata. “Maka, jalur perjalanan wisata overland Borobudur harus berbeda dan lebih berkualitas,” kata Alexander Reyaan.

Pria yang karib disapa Alex itu melanjutkan, setidaknya Kemenparekraf telah menyusun empat jalur perjalanan wisata Borobudur yang terdiri dari jalur religi, jelajah alam, jalur warisan budaya dan jalur batik klasik Indonesia. “Pada pertemuan ini kami meminta koreksi sampai penetapan jalur. Jadi ini belum fix dan kami butuh masukan,” ujar Alex.

Sejauh ini, wisatawan ke Borobudur didominasi kunjungan secara grup. Untuk negara didominasi Belanda, Malaysia, Singapura, USA, India, Thailand, Vietnam, Belgia, Italia dan sejumlah negara lainnya. Untuk jalur religi, pola perjalanan yang disusun meliputi Vihara Buddhagaya, Candi Borobudur, Masjid Gedhe Mataram, Candi Prambanan, Candi Sam Poo Kong, Masjid Agung Surakarta. “Kami minta jalur ini diubah karena tidak fokus. Kalau mengambil contoh di Flores, jalurnya itu Gereja dan Seminari. Kami berharap hanya satu segmen pasar saja yang dibidik agar fokus,” tutur Alex.

Sementara untuk jalur jelajah alam terdiri dari Rawa Pening, Gedong Songo, Ketep Pass, Puthuk Setumbu, Kalibiru, Lava Tour, Nglanggeran, Grojogan Sewu. “Untuk jalur warisan budaya terdiri dari Lawang Sewu, Kota Lama Semarang, Candi Borobudur, Keraton Yogyakarta, Candi Prambanan, Keraton Surakarta” imbuhnya.

Sedangkan untuk jalur batik klasik Indonesia terdiri dari Batik Trusmi, Batik Kauman, Museum Batik, Batik Surakarta, Batik Lasem. Julius Rahmanto yang dihadirkan sebagai pembanding memaparkan lima pola perjalanan wisata yang bisa dieksplor di Borobudur. Pertama, basic-nya adalah reconnect dan refresh dalam bentuk trip wisata.

“Ada juga jalur sisa peradaban kerajaan kuno dengan delapan daya tarik yang dimunculkan. Historical Culture Experience, Buddhist Pilgrimage (wisata religi yang mengudang seluruh penganut Buddhist dunia untuk datang, mempelajari serta berziarah ke Mandala terbesar di dunia yakni Borobudur) dan Cultural Musical Show (pertunjukkan kolosal reguler dengan kisah epic kuno masa Jawa Kuno, kolaborasi dengan koreografer, penari dan lain-lain,” papar Julius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *