Festival Lembah Baliem Etalase Peradaban

oleh -934 views

SUARAJATIM.CO.ID– Festival Lembah Baliem 2018 menjadi peradaban Papua. Kearifan lokal tetap terpelihara, meski arus masuk modernisasi kuat. Masyarakat tetap bangga dengan budayanya. Baju adat dikenakan dalam keseharian, lalu peperangan bertransformasi menjadi atraksi pariwisata.

“Masyarakat tetap mempertahankan budaya. Ini identitas kami. Beberapa budaya atau kebiasaan di sini ada yang berubah, tapi hanya fungsinya saja. Peperangan misalnya. Sekarang peperangan diubah jadi komoditi pariwisata,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jayawijaya Alpius Wetipo pada Rabu (8/7).

Didiami oleh Suku Hubula, Lembah Baliem menjadi fenomena. Peperangan di Lembah Baliem menjadi budaya yang diatur dalam hukum Honai (rumah tradisional). Biasanya digunakan untuk menyelesaikan sengketa wilayah atau masalah lainnya. Secara garis besar ada 2 kelompok perang, yaitu perang saudara dan perang antar suku berbeda marga.

Untuk perang saudara, sengketa pun bisa diselesaikan langsung dengan membayar denda. Denda yang dibayarkan harta dengan rupa diantaranya babi. Namun, untuk peperangan antar suku berbeda marga akan diselesaikan melalui dalam Honai. Alpius menambahkan, Honai memiliki fungsi penting bagi masyarakat Suku Hubula di Lembah Baliem.

“Honai memang penting. Ada Honai perang. Hal ini memunculkan filosofi sakral terkait kepercayaan. Perang ini ada sisi positif dan negatif. Saat ini sisi positif yang diambil melalui nilai-nilainya. Dengan adanya agama dan pemerintahan, perang diubah jadi Tarian Perang. Berkisah keseharian warga lokal di sini. Secara hukum perang sudah tidak boleh, itu masa lalu,” lanjutnya lagi.

Gambaran keseharian masyarakat memang terekan jelas melalui Festival Lembah Baliem, 7-9 Agustus 2018. Digelar di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua, festival tersebut banyak menyajikan tarian perang. Para penari mengenakan baju adat lengkap dengan berbagai persenjataan. Alpius mengatakan, baju adat tetap dikenakan sehari-hari oleh masyarakat.

“Terkait dengan baju adat, ini masih dipakai dalam keseharian. Namun, banyak juga masyarakat yang mengenakan busana biaya. Kami tetap bangga dengan baju adat dan asesorisnya. Bagi masyarakat di luar Papua mungkin aneh, tapi inilah budaya kami. Tuhan memberi baju adat dan kami pakai. Kami tidak telanjang karena ada penutupnya,” kata Alpius.

Bangga dengan budayanya, baju adat Suku Hubula terdiri dari beberapa bagian. Baju wanita pun diberi nama noken atau syu. Untuk pria biasanya memakai koteka atau holim. Melengkapi baju, seekam yang berbentuk rumbai ini biasanya dikenakan di lengan. Asesoris lainnya seekamalep, yaitu berupa gelang. Ada juga penutup kepala atau kare-kare yang terbuat dari bulu Burung Kasuari atau ayam.

Khusus bagi pemimpin pasukan, mereka memegang syuesi. Yaitu, semacam tongkat komando yang terbuat bulu Burung Kasuari atau ayam. Ada juga walemo yang terbuat dari rangkaian kerang. Asesoris ini menutup dada dan dikenakan dengan cara dikalungkan. “Kami lestarikan semuanya sebagai sebuah peradaban. Kami seimbangkan antara modernisasi dengan kearifan lokal,” tuturnya.

Melengkapi baju adat, Suku Hubula melengkapi diri dengan senjata. Ada sege atau tombak panjang yang terbuat dari kayu yoli. Panjangnya 1,5 meter hingga 2,5 meter dengan ujung runcing. Mereka juga membawa panah. Busurnya terbuat dari kayu mamau, lalu talinya memakai mul (rotan). Anak panah terbuat dari kayu vinteh dengan ujung runcing. Senjata lain, karok (parang) juga pisue (kapak).

“Mereka memang luar biasa. Modernisasi dan kearifan lokal memang harus seimbang. Jangan sampai modernisasi ini menggerus budaya lokal sehingga kehilangan identitasnya. Memang, setiap daerah itu punya keunikan masing-masing yang harus dieksplore,” tegas Dina M Sirait, wisatawan asal Lampung.

Tetap lestarinya budaya lokal Papua mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menurutnya, Lembah Baliem memang berhasil melestarikan beragam kearifan lokal. “Culture ini jadi daya tarik utama kedatangan wisman. Dan, Lembah Baliem berhasil melestarikan budaya secara turun temurun. Hal ini tentu sangat membanggakan,” tutup Menpar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *