Gara-gara Pariwisata, Bengkulu Siapkan Penerbangan Internasional

oleh -535 views

SUARAJATIM.CO.ID, BENGKULU – Sebuah langkah besar disiapkan Provinsi Bengkulu tahun 2019. Didukung sektor pariwisata yang tumbuh positif, Bengkulu akan membuka rute penerbangan internasional. Tidak tanggung-tanggung, Bandara Fatmawati akan dihubungkan dengan dua negara sekaligus, Malaysia dan Singapura.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sangat optimis hal ini bisa terealisasi.

“Kami berencana membuka rute penerbangan langsung internasional. Malaysia dan Singapura akan jadi rute internasional pertama. Traffic penumpang untuk 2 rute ini sangat tinggi. Bengkulu juga didukung oleh potensi pariwisata yang semakin tumbuh,” ungkapnya kemarin.

Potensi pariwisata besar memang dimiliki The Land of Rafflesia. Alam dan budayanya sungguh luar biasa. Bengkulu juga banyak memiliki event, seperti Festival Tabut. Lebih spesial lagi, Bengkulu menjadi habitat dua flora langka dunia. Ada Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus. Salah satu zona tumbuh flora ini adalah Taman Konservasi Puspa Langka di Hutan Lindung Bukit Daun Register V.

“Kami memiliki banyak event budaya. Bengkulu juga punya bunga langka, seperti Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus. Ini akan jadi daya tarik wisata yang luar biasa. Membuka direct flight internasional adalah cara terbaik menaikan industri pariwisata,” jelas Rohidin lagi.

Dibidiknya Malaysia dan Singapura sebagai poros prioritas, dilakukan atas banyak pertimbangan. Kedua negara ini memiliki kedekatan emosional sejarah dengan Bengkulu. Sebab, ada banyak masyarakat keturunan Bengkulu di Malaysia dan Singapura. Mereka pun sering berkunjung ke The Land of Rafflesia. Di Malaysia, bahkan ada perkampungan khusus keturunan darah Bengkulu.

“Rute internasional Bandara Fatmawati jadi fokus kami. Pasar pada 2 negara ini sangat menjanjikan. Ada kedekatan nilai histori dan budaya. Untuk Malaysia ada perkampungan khusus Bengkulu. Mereka itu sering datang ke sini. Kalau Singapura, pergerakan wisatawannya besar,” katanya.

Selain faktor psikologis tersebut, jarak tempuh The Land of Rafflesia dengan Malaysia dan Singapura cukup dekat. Waktu flight-nya sekitar 1 jam. Jarak tempuh tersebut dinilainya kompetitif karena singkat. Rohidin menambahkan, awal pembukaan rute internasional baru ini direncanakan tidak reguler. Semua akan disesuaikan dengan intensitas dan kebutuhan maskapai.

“Jarak tempuhnya singkat. Wisatawan tidak akan bosan menunggu sepanjang perjalanan. Pendeknya waktu tempuh ini jadi potensi menarik. Untuk awal-awal penerbangan mungkin tidak langsung setiap hari. Sepekan bisa 1 atau 2 kali trip. Tapi, semua diserahkan kepada maskapai,” lanjut Rohidin lagi.

Demi mewujudkan rute baru internasional, pemerintah daerah mendorong percepatan proses peralihan manajemen operasional bandara ke Angkasa Pura. Rohidin mengatakan, upaya percepatan peralihan ini sedang dilakukan.

“Kami berupaya semuanya bisa selesai di tahun ini, baik proses peralihan manajemen bandara maupun pembukaan rute internasional. Kalau proses ini selesai, semua lebih mudah,” ujarnya.

Selain aksesibilitas, pengembangan pariwisata Bengkulu juga didorong dari destinasi. Mengacu data BPS Bengkulu, pertumbuhan desa wisata The Land of Rafflesia mencapai 200%. Sepanjang 2018, Bengkulu telah memiliki 16 desa wisata. Bandingkan pada 2014 yang hanya memiliki 5 desa wisata. Desa wisata saat ini dilengkapi kemudahan aksesibilitas, amenitas bagus, internet juga pelayanan prima.

“Pariwisata Bengkulu sedang bergairah. Kalau pertumbuhannya ingin cepat, memang dibutuhkan akses langsung ke mancanegara. Sebab, atraksinya banyak. Alam dan budayanya luar biasa. Bengkulu ini juga memiliki banyak desa wisata. Infastruktur penunjangnya sangat bagus. Profil Bengkulu ini layak jadi destinasi pariwisata unggulan,” terang Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

The Land of Rafflesia memiliki profil menjanjikan. Pertumbuhan daerahnya pesat. Wilayah ini memiliki 20 daerah atau 1,5% dengan status desa mandiri pada 2018. Ada 85,8% desa berkembang dengan angka riil 1.150 desa. Lalu, posisi tertinggalnya hanya 171 desa atau 12,7%. Bandingkan pada 2014 yang hanya memiliki 0,4% desa mandiri, 73,9% desa berkembang, dan 25,7% desa tertinggal.

“Upaya pembangungan yang dilakukan pemerintah tepat sasaran. Progress-nya akan semakin melejit bila sektor pariwisata dikuatkan. Dengan kunjungan wisman besar, dampak makronya luas. Ekonomi di Bengkulu akan bergerak cepat, investasi juga mengalir. Kami akan dukung untuk merealisasikan akses lagsung internasional. Komitmen pemerintah daerah di sana harus diapresiasi,” tutup Menpar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *