Gelar FGD, Kemenparekraf Evaluasi Reaktivasi Industri Pariwisata untuk Nakes

oleh -72 views

BANDUNG – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) “Monitoring dan dan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Reaktivasi Industri Pariwisata Melalui Penyediaan Akomodasi, Fasilitas Pendukung Lainnya, Serta Sarana Transportasi Bagi Nakes dan Fakes Covid-19 di Indonesia” yang diselenggarakan di Grand Mercure Bandung, Jawa Barat Kamis (14/10/2021).

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Nia Niscaya menjelaskan, jika dilihat sepintas, sesungguhnya seperti terlihat paradoks antara penganan Covid-19 dan program di Kemenparekraf/Baparekraf. “Itu seperti hujan. Bagus untuk petani tetapi tidak untuk wisatawan,” tutur Nia dalam sambutannya sebelum membuka acara.

Namun, setelah disinergikan dengan baik, ada korelasi kuat program yang bisa dikolaborasikan antara penanganan Covid-19 dan program Kemenparekraf/Baparekraf. Hal itu berkaitan dengan penyediaan akomodasi, fasilitas pendukung lainnya serta sarana transportasi bagi nakes dan fasilitas kesehatan Covid-19 di Indonesia.

“Perencanaan reaktivasi industri, kita beri produknya, mafaatnya untuk diberikan kepada nakes. Tentu ini semua dalam rangka pemulihan ekonomi nasional,” tutur Nia. Untuk itu, atas segala dedikasi yang telah diberikan, Nia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para tenaga kesehatan yang telah berjuang hebat di tengah pandemi Covid-19.

“Kami berikan penghormatan yang tinggi untuk para nakes yang telah berjuang sedemikian rupa menekan angka Covid-19,” ujar Nia.

Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf/Baparekraf M Ricky Fauziyani menerangkan, pihaknya telah menyebarkan kuisioner kepada para nakes yang mendapat implementasi program Kemenparekraf/Baparekraf. Hasilnya cukup memuaskan. Dikatakan Ricky, untuk komponen akomodasi ada enam indikator yang menjadi tolok ukur.

Di antaranya adalah pelayanan binatu/loundry 86,9 persen baik dan sangat baik, kebersihan kamar 86,1 persen baik dan sangat baik, kelengkapan fasilitas kamar 82,16 persen baik dan sangat baik, prosedur protokol kesehatan 94,1 persen baik dan sangat baik serta pelayanan dan keramahtamahan 93,69 persen baik dan sangat baik.

“Selain itu juga pelayanan petugas resepsionis 93,6 persen, kebersihan kamar 90 persen, kelengkapan kamar 86,7 persen, kualitas makanan 71 persen dan varian menu makanan 64 persen baik dan sangat baik,” tutur Ricky.

Selanjutnya, untuk komponen transportasi ada delapan indikator yang menjadi tolok ukur. Hasilnya cukup baik. Di antaranya adalah pengecekan suhu tubuh sebelum masuk bus 72 persen baik dan sangat baik, disinfektan tersedia di dalam bus 91 persen baik dan cukup baik, kondisi bus 95,7 persen baik dan sangat baik.

Lalu untuk kebersihan bus 96,5 persen baik dan sangat baik, ketepatan waktu 95,5 persen baik dan sangat baik, kebersihan dan kerapihan awak bus 95,8 persen baik dan sangat baik, prosedur protokol kesehatan 96,2 persen baik dan sangat baik serta pelayanan dan keramahan 97,1 persen baik dan sangat baik.

“Jumlah responden dalam survei ini sebanyak 1.557 yang terdiri dari tenaga keperawatan 70 persen, tenaga medis 22 persen dan lainnya 8 persen. Ada 40 rumah sakit, 37 hotel dan 57 armada yang dilibatkan dan survei ini dilaksanakan pada pada periode 1 September hingga 1 Oktober 2021,” tutur Ricky.

Hadir pada kesempatan itu pimpinan otobus, direktur rumah sakit general manager hotel di Pulau Jawa dan Bali, Pemprov Jawa Barat dan sejumlah tenaga kesehatan baik secara online maupun offline.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *