Guntur Sakti: Maaf Ya #ItuBukanKemenpar

oleh -629 views

SUARAJATIM.CO.ID, JAKARTA – Di Twiterland tiba-tiba muncul postingan yang bernada minor dan dialamatkan ke Kemenpar RI, 16 Februari 2019. Kemenpar dituding main comot foto orang, sampai foto Phi Phi Island “dicuri”, lalu diberi caption Raja Ampat, dan ditempel logo Wonderful Indonesia. Beberapa media online juga memberitakan hal itu, hanya dengan sumber dari interaksi di twitter, bahkan sudah menjalar ke Facebook.

Rata-rata isinya, memojokkan Kementerian Pariwisata, dianggap memalukan! Salah menggunakan foto, dan lain-lain. Yuk, kita wawancana dengan Guntur Sakti, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, biar jelas, tidak simpang siur, dan resmi. Agar tidak diputar balikkan persepsi publik, dari logika yang tidak utuh.

Selamat pagi Pak Guntur Sakti (GS)?

Selamat pagi, selamat berakhir pekan. Jangan lupa piknik. Ajak keluarga, handai tolan, sahabat, rekan, menikmati Pesona Indonesia.

Maaf Pak GS, Kemenpar sedang dibicarakan di Twitter dan FB, soal Phi Phi Island dilabeli Raja Ampat, dijadikan materi promosi Pariwisata Indonesia. Apa itu benar pak?

Astagfirullah hal ‘adzim..
Menurut Anda, dengan logika Anda, dengan reputasi Kemenpar saat ini, mungkin nggak itu dilakukan oleh Kemenpar?

Maaf ya #ItuBukanKemenpar. Melalui akun Twitter @Kemenpar_RI juga sudah kami jawab, bahwa untuk gambar dan materi promosi tersebut bukanlah materi promosi resmi dari Kementerian Pariwisata. Kami sudah berkoordinasi dan mendapatkan penjelasakan yang cepat dan akurat dari Angkasa Pura II. Atas perhatian dan respons cepat AP2 kami juga mengucapkan terima kasih. Salam Pesona Indonesia.

Ooo, begitu? Tapi kok bisa lolos? Di dipasang di Bandara Soekarno Hatta?

Ini saya tidak sedang bantah membantah ya. Saya tidak mau berpolemik dan saling caci maki ya mas. Karena memang bukan kita yang membikin, bukan pekerjaan promosi, bukan permintaan Kemenpar, dan gambar MMT itu tidak di ruang reklame. Saya ingin mendudukkan masalah yang sebenarnya ya, biar tidak simpang siur.

Kami sudah investigasi, baik internal maupun eksternal. Secara internal, belum ada pekerjaan promosi outdoor dengan menggunakan MMT, di Bandara Soekarno Hatta.

Secara eksternal, kami sudah koordinasi dengan AP2. Ternyata, MMT yang bergambar bukan Raja Ampat dengan Logo yang juga salah itu, hanya untuk menutup pekerjaan lift, agar rapi, tidak berantakan, ditutup dengan multipleks putih dan diberi digital printing (MMT) itu. Tujuan vendor atau kontraktor, agar kelihatan rapi, bersih, dan nyaman di pandang.

Tujuannya sendiri baik kan? Vendor itu searching sendiri, download sendiri, mendesain sendiri, mengambil logo sendiri, menempel sendiri, tanpa approval atau persetujuan baik AP2 maupun Kemenpar. Mereka juga tidak meminta foto resmi ke Kemenpar. Kami punya stok foto dan video yang banyak sekali, dan untuk promosi Pariwisata free kok, tidak perlu bayar.

Lokasi pemasangannya pun bukan titik promosi. Hanya untuk menutupi lift yang sedang under construction. Pekerjaan kontraktor itu juga tidak menggarap bidang promosi. Jadi terlalu prematur kalau mencibir, mencaci maki, merendahkan Kemenpar dan AP2, dari case yang seperti ini.

Apakah kejadian seperti ini sering terjadi?

Nah, banyak sekali. Anda lihat bus-bus pariwisata di seluruh Indonesia, punya travel agent, rata-rata logo Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia-nya logo lama. Sudah ganti lama. Tetapi yang dipasang masih yang lama saja.

Kegiatan Pariwisata di daerah, juga masih sering membuat backdrop, logonya masih salah. Masih lama. Bak belakang truk yang kata-katanya lucu-lucu itu juga banyak yang membuat gambar Wonderful Indonesia, dan tidak standar. Warung-warung, kaus, topi, banyak, kalau mau mencari kesalahan.

Apakah tidak ada sosialisasi? Adalah mas! Bahkan ada Tim Brand Guardian. Tim yang tugasnya menjaga, melaporkan, dan mengoreksi jika ada unsur penting dalam branding Wonderful Indonesia terganggu. Kita menjaga itu, agar country branding kita terus naik. Sekarang peringkat 47, menuju 30 besar dunia.

Detail sekali, soal warna sulur di materi promosi Wonderful Indonesia saja, dipelototi. Hijau melambangkan: Kreativitas, ramah kepada alam dan keselarasan. Ungu : Daya Imajinasi, Keimanan, Kesatuan Lahir dan Batin. Jingga : Inovasi, Semangat Pembaruan, dan Keterbukaan. Biru : Kesemestaan, Kedamaian, dan Keteguhan. Magenta : Keseimbangan, Akal Sehat, dan Sifat Praktis

Kalau hijau, itu promosi aktivitas yang terkait Nature, atau alam. Seperti gunung, hutan, danau, sawah, pantai, bawah laut. Ada brand position, posisi di kanan atas, kiri atas, bawah kanan, dan lainnya. Ada yang horizontal, vertical, cropping, background hitam, background putih, dan lainnya.

Silakan cek di http://www.kemenpar.go.id/userfiles/Kemenpar%20-%20Wonderful%20Indonesia%20Brand%20Guidelines(1).pdf biar kalian tahu, betapa brand itu dijaga, dibangun, dan terus dipromosikan dengan serius. Pak Menpar Arief Yahya itu selalu menggunakan global standar, untuk menjadi pemain kelas dunia.

Sudah disosialisasi, mengapa sering ada yang salah?

Nah, itulah tugas kita bersama. Menaikkan awareness logo Wonderful Indonesia kita yang sudah menjadi Country Branding Indonesia di mana saja di seluruh dunia, dalam TTI, Tourism, Trade, Investment.

Kalau orang mau memasang logo dan foto apa tidak dilarang?

Tidak! Silakan aja. Makin banyak masyarakat yang cinta pariwisata, dengan sukareka menggunakan logo ligo pariwisata, itu makin bagus.

Asal untuk tujuan mempromosikan Pariwisata, destinasi, calendar of event di daerahnya. Dan kita surprise, banyak masyarakat kita yang saking cintanya pada Pariwisata Indonesia, mereka membuat logo-logo sendiri, mendesain sendiri, dan mamasang sendiri. Yang perlu kita ingatkan adalah, hati-hati dengan hak cipta. Foto dan konten video harus standar, kelas dunia, dan menggunakan foto yang cocok dengan destinasi yang dipromosikan.

Bahkan kita sudah membuat kerjasama (sudah sampai pada level perjanjian kerjasama, sudah melalui tahap curration, co creation, dan competition. Banyak perusahaan besar yang sudah memasang logo Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia di produknya, baik yang di dalam maupun keluar negeri.
Contohnya, Aqua Danone, Credit Card BRI, Telkomsel, Go Fresh, Papatonk, Prompan, dan lainnya yang jumlahnya sudah mendekati 100 perusahaan ternama. Tentu mereka tidak akan mau bekerjasama jika kita tidak punya reputasi dunia.

Bagaimana dengan yang sudah terlanjut mencaci maki?

Ya, terima kasih atas segala comments-nya. Semoga percakapan ini bisa menjelaskan secara gamblang. Salam Pesona Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *