Happy Ending di Festival Lembah Baliem

oleh -1.920 views

SUARAJATIM.CO.ID– Festival Lembah Baliem 2018 memberikan experience luar biasa bagi wisatawan. Parade budaya digelar tiga hari full hingga memberikan banyak inspirasi, 7-9 Agustus 2018. Disajikan megah, festival ini mampu menjadi magnet penarik wisatawan mancanegara (wisman)

Festival Lembah Baliem di Distrik Welesi, Pegunungan Jayawijaya, Papua, dibanjiri wisman. Festival ini total menyedot anemo 1.380 wisman. Artinya, rata-rata kunjungan wisman setiap hari festival sekitar 460 orang. Jumlah tersebut naik dari penyelenggaraan estival tahun lalu. Pada 2017, Festival Lembah Baliem total dikunjungi oleh 1.335 wisman atau 445 orang per hari.

Wisman berasal dari 4 benua, seperti Asia, Australia, Eropa, juga Amerika. Komposisi Asia didominasi oleh paspor Tiongkok, Taiwan, Jepang, juga Korea Selatan. Ada juga wisman dari India. Untuk Eropa terdiri Italia, Spanyol, Swedia, Swiss, Jerman, Belanda, dan Polandia. Komposisi lain berupa Australia, Selandia Baru, hingga Amerika Serikat.

“Kami gembira karena kunjungan wisman tetap positif. Meski tipis, ada kenaikan. Penyelenggaraan di tahun ini tetap meriah. Kami berharap wisatawan bisa puas selama berada di sini, lalu datang lagi tahun depan,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jayawijaya Alpius Wetipo, Kamis (9/8).

Serupa wisman, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) juga positif. Selama penyelenggaraan, total ada 6.000 wisnus yang memadati festival. Setiap harinya Festival Lembah Baliem dikunjungi oleh 2.000 wisnus. Angka ini naik 1.560 wisnus dari tahun sebelumnya yang dikunjungi 4.440 orang. Alpius pun menambahkan, festival tahun ini digelar dengan anggaran terbatas.

“Secara keseluruhan untuk wisatawan masih bagus, meski ada banyak kesulitan yang harus dihadapi. Tahun 2018 ini tahun politik dan ada juga isu keamanan. Bujet penyelenggaraan festival tahun ini juga hanya Rp6 Miliar. Untuk itu, beberapa penyesuaian konsep dilakukan. Ternyata masih bagus karena festival meriah,” lanjutnya.

Penyelenggaraan bujet festival tahun ini mengalami penyusutan sekitar Rp5 Miliar. Sebab, festival tahun lalu menyedot anggaran hingga Rp11 Miliar. Dengan keterbatasan anggaran Rp6 Miliar, treatment pun diberikan bagi distrik. Setiap distrik hanya menampilkan 1 atraksi entah tarian atau perang-perangan. Lalu, anggaran Rp6 Miliar tersebut dialokasikan untuk promosi, penyelenggaraan event, dan karnaval.

“Dengan kondisi seperti ini, kami ukup puas. Meski ada banyak kekurangan, terutama menyangkut ketersediaan hotel dan penginapan. Kami memang kekurangan untuk ketersediaan kamar. Kondisi ini akan menjadi bahan evaluasi bagi kami. Semua akan diperbaiki tahun depan, termasuk atraksinya,” ujar Alpius lagi.

Selama tiga hari penyelenggaraan event, total ada delapan sub event yang ditampilkan. Selain tarian dan simulasi peperangan, ada juga sikoko, puradan, witawo, anyaman, karapan babi, juga pikon. Bahkan, sub event ini tetap jadi komoditi yang menarik perhatian wisatawan. Mereka tetap membidikan mata kamera kepada setiap event yang ditampilkan.

Mengawali festival di hari ketiga, Distrik Hubikiat menampilkan tarian adat. Tarian ini bercerita sejarah perjalanan masuknya pemerintah Indonesia di Wamena. Menambah artistik, para penari pun membaluri tubuh dengan warna hitan dan putih. Tema lain diangkat Distrik Trikora. Mereka ini menampilkan Tari Perang. Pemicunya adalah sengketa lahan pertanian, meski endingnya damai.

Aksi eksotis juga dilakukan Distrik Bugi. Mereka menampilkan lalu menampilkan simulasi pembuatan api secara tradisional melalui gesekan kayu yang diberi rumput kering. Selain tarian, perlombaan panah juga mendapat apresiasi dengan keikutsertaan 11 wisman. Suasana bertambah heboh manakala Wisman Amerika Serikat Matthew William tampil dengan koteka plus asesoris lengkap.

“Saya tertarik melihat orang-orang di sini dari kemarin memakai koteka. Karena penasaran, saya pun memakainya. Saya senang berada di Wamena. Budayanya luar biasa. Masyarakatnya juga sangat ramah. Keramahan seperti ini sudah tidak ada di negara saya,” jelasnya.

Kegembiraan wisatawan di Festival Lembah Baliem pun membuat Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya sumringah. Sebab, kenyamanan mengikis berbagai isu negatif yang berpotensi muncul. “Kami tentu gembira mendengan semuanya bergembira di Lembah Baliem. Nature dan culture di sana eksotis. Infrastrukturnya juga memadai,” tutup Menpar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *