Kemenparekraf/Baparekraf Perkuat CHSE 3 Kota Jawa Tengah Senilai Rp1,7 Miliar

oleh -249 views

SOLO – Anggaran program CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, Environment Sustainability) Rp1,7 Miliar disuntikan Kemenparekraf/Baparekraf. Realisasinya melalui revitalisasi 3 destinasi besar di Jawa Tengah, seperti Purworejo, Magelang, dan Solo. Penegasannya pun diberikan melalui program Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sosialisasi CHSE, Kamis (12/11) dan Sabtu (14/11), pada 2 kota berbeda.

“Revitalisasi destinasi menjadi salah satu formula untuk mendorong dan mengembalikan iklim industri pariwisata di daerah. Sebab, pasar itu harus diberikan garansi berupa keselamatan dan kesehatan secara menyeluruh. Artinya, Purworejo, Magelang, dan Solo sangat aman dikunjungi sepanjang New Normal,” kata Tenaga Ahli Revitalisas Destinasi Pariwisata Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Tendi Nuralam.

Rangkaian program Bimtek dan Sosialisasi CHSE digelar di Magelang, Kamis (12/11). Adapun Solo jadi tuan rumah pada Sabtu (14/11). Dari 2 kota, Bimtek dan Sosialisasi CHSE melibatkan 200 orang. Mereka adalah pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Selain penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), bantuan fisik senilai Rp1,7 Miliar dialirkan untuk revitalisasi destinasi.

“Penguatan secara riil di lapangan harus dilakukan. Untuk itu, beragam bantuan fisik diberikan pada 3 destinasi besar di Jawa Tengah. Momentum masa transisi New Normal harus dilakukan. Pangsa pasar domestik sangat besar, apalagi fase berikutnya masuk tahap pemulihan ekonomi dunia,” terang Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Hari Santosa Sungkari.

Dari 3 destinasi besar Jawa Tengah, total mengalirkan 11 item program pendukung CHSE. Komposisinya terdiri dari masing-masing 1 unit Toilet Portable, Toilet Prefab, dan Sumur Bor. Ada juga 30 unit Papan Informasi, 35 unit Signage/Wayfinding, 30 Perlengkapan Petugas CHSE, hingga 23 unit Tempat Sampah. Diberikan juga 10 unit Perlengkapan Susur Goa, 14 unit Thermogun, 15 unit Tempat Cuci Tangan, dan 2 unit Bangunan TIC Kios.

“Komitmen terus diberikan Kemenparekraf/Baparekraf kepada daerah. SDM dan revitalisasi fisik sama-sama digulirkan dengan standardisasi tinggi yang harus dipenuhi. Apalagi, CHSE mengharuskan pada destinasi menerapkannya secara menyeluruh. Jaminan dan kepastian harus diberikan pada wisatawan,” jelas Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Oni Yulfian.

Menaikkan standardisasi destinasi Solo, kawasan Jalan Slamet Riyadi dipoles. Kemenparekraf/Baparekraf akan membangun 1 unit Toilet Prefab. Ada juga penyediaan masing-masing 10 unit Papan Informasi, Signage/Wayfinding, hingga Perlengkapan Petugas CHSE. Diberikan juga alat Thermogun dan Tempat Cuci Tangan dengan jumlah masing-masing 5 unit. Ada juga 1 unit Bangunan TIC Kiosk dan 9 unit Tempat Sampah.

“Realisasi pembangunan segera dilakukan. Rencananya serentak setelah sepekan Bimtek dan Sosialisasi CHSE di Solo. Kami harus bergerak cepat, apalagi tahun depan ekonomi dunia sedang dipulihkan. Hal ini tentu bagus untuk pariwisata, khususnya pasar domestik,” tegas Koordinator Area I Pengembangan Destinasi Regional I Wijonarko.

Sama seperti Solo, Purworejo juga mendapat bantuan fisik dengan lokasi di Goa Seplawan. Bentuknya ada revitalisasi Toilet dan pembangunan Sumur Bor. Ada juga masing-masing 5 unit penyediaan papan informasi, tempat cuci tangan, dan tempat sampah. Masing-masing 10 unit peralatan diberikan melalui Signage/Wayfinding, perlengkapan petugas CHSE, juga perlengkapan susur goa. Untuk Thermogun ada 5 unit, lalu 1 unit lainnya adalah bangunan TIC Kiosk.

Untuk Magelang, bantuan diberikan pada poros destinasi Candi Mendut-Pawon-Borobudur. Secara fisik jumlah Toilet Portable ada 1 unit, lalu masing-masing 15 unit bagi Papan Informasi dan Signage/wayfinding. Untuk Perlengkapan Petugas CHSE ada 10 unit. Kemenparekraf/Baparekraf juga mengalirkan masing-masing 5 unit untuk Thermogun dan Tempat Cuci Tangan. Adapun tempat sampah yang disiapkan ada 9 unit.

“Bantuan fisik revitalisasi destinasi akan membuat wisatawan semakin nyaman. Kualitas destinasi juga pasti naik. Kalau industri pariwisata pulih, otomatis ada value ekonomi yang bisa dinikmati masyarakat. Mereka bisa mendapatkan lagi jaminan kesejahteraannya,” tutup Sub Koordinator Area I A Pengembangan Destinasi Regional I Andhy Marpaung.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *