Kemenparekraf Sertifikasi deWi Batulayang Bogor

oleh -204 views

BOGOR – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) kembali melakukan asesmen lapangan dalam rangka Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan.

Proses asesmen kali ini dilakukan di Desa Wisata Batulayang Kabupaten Bogor, Provinsi jawa Barat pada tanggal 30 November -1 Desember 2020.

Dalam asesmen ini, tim Kemenparekraf terdiri dari dua orang auditor, Prof. Winda M Mingkid dan Prof. Jatna Suprijatna M.Sc, Ph.D, yang melakukan asesmen dan tanya jawab secara daring dan didampingi juga oleh Yustisia Kristiana dan Dr Theodosia C.Nathalia, tim sekretariat Indonesia Sustainable Tourism Certification (ISTC).

Mereka melakukan verifikasi mengecek kesiapan desa wisata Batulayang Bogor dalam sertifikasi tersebut. Selain itu, juga memantau kesiapan desa wisata menyambut kunjungan wisatawan.

“Total ada 16 desa wisata (DeWi) berkelanjutan sebagai proyek percontohan sertifikasi, salah satunya yang terpilih adalah desa wisata Batulayang Bogor,” kata Koordinator Kelembagaan Regional II Direktorat Kelembagaan Kemenparekraf Hendry Noviardi

Selain DeWi Batulayang Kabupaten Bogor, Daerah Istimewa Yogyakarta ada 3 (tiga) DeWi yang dilakukan penilaian, yaitu DeWi Pentingsari Sleman, DeWi Nglanggeran Gunung Kidul dan DeWi Jatimulyo

“Jawa Tengah terpilih empat desa wisata, yaitu DeWia Candirejo di Magelang, Dewi Karangrejo Magelang. DeWi Kandri Kota Semarang dan DeWi Lerep Kabupaten Semarang,” lanjutnya

Sementara itu, tambahnya, Provinsi Bali terpilih dua DeWi, yaitu DeWi Panglipuran, Kabupaten Bangli, DeWi Pemuteran Kabupaten Buleleng. Sementara itu Jawa Timur ada dua DeWi yaitu DeWi Pujon Kidul Kabupaten Malang dan DeWi Osing Kemiren Kabupaten Banyuwangi.

“DeWi yang lain adalah DeWi Liang Ndara di Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur. Selebihnya di Nusa Tenggara Barat (NTB), DeWi Bilibante Kabupaten Lombok Tengah, Kembang Kuning Kabupaten Lombok Timur dan Sesaot Kabupaten Lombok Barat,” pungkasnya

Hendry juga menambahkan, proses sertifikasi ini dilakukan oleh tim auditor dari Kemenparekraf bekerjasama dengan ISTC, lembaga formal berwenang melegalitas desa wisata. Di masa pandemi Covid-19, desa wisata juga diminta ketat memberlakukan protokol kesehatan. Bagi pengunjung, perlu pakai masker, jaga jarak, dan membiasakan cuci tangan pakai sabun.

Winda M Mingkid yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Sam Ratulangi yang melakukan proses asesmen di DeWi Batulayang secara daring mengatakan, Asesmen Lapangan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan ini dilakukan dengan melakukan kunjungan ke lapangan untuk melihat potensi yang dimiliki Desa Wisata ini

“Asesmen dilakukan sebagai re-aktivasi dan pemulihan sektor wisata setelah lebih dari enam bulan aktifitas wisata tertutup karena pandemi Covid-19,” ujarnya

Selain itu, asesmen juga menjadi momentum untuk re-save atau re-design dan revitalisasi desa wisata kita, sekaligus untuk daya saing pariwisata. Latar belakangnya juga agar destinasi desa wisata ini lebih kualitas, lebih kredibel dan mampu berkalibrasi serta bersaing secara domestik dan internasionall

“Pada tahap pertama sebelum dilakukan asesmen sertifikasi desa wisata berkelanjutan, kita melakukan pertemuan dengan masyarakat dan pemerintah daerah untuk berdiskusi dan berkoordinasi terkait asesmen ini,” tuturnya

Menurutnya, ada empat kategori yang akan dilakukan penilaian. “Bagaimana me-manage desa ini, bagaimana sosial dan ekonominya, budayanya dan bagaimana pengelolaan lingkungan mereka,” lanjutnya

Rudy Hidayat, Kasie Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor, yang turut mendampingi proses asesmen lapangan ini memberikan apresiasi pada Kemenparekraf/Baparekraf yang telah mendukung pengembangan desa wisata di daerahnya.

“Apresiasi untuk Kemenparekraf yang sangat yang diberikan dapat memacu teman-teman DeWi Batulayang lebih maju dan menghasilkan ide-ide kreatif lebih baik lagi. Semoga DeWi Batulayang dapat memenuhi semua kelengkapan persyaratan yang dibutuhkan tim auditor sehingga dengan sertifikasi itu nantinya dapat menjadikan desa sebagai destinasi penyangga yang bisa memberikan efek positif pada perekonomian masyarakat ,” harapnya

Saat ini , imbuihnya, 32 Desa Wisata yang tersebar di 40 kecamatan belum diperbolehkan beroperasi secara penuh karena perpanjangan PSBB, tetapi tetap diperbolehkan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat

DeWi Batulayang tepatnya terletak di Kampung Pasir Manggis, Batulayang, Cisarua, Kabupaten Bogor, udara pegunungan yang sejuk serta panorama alam nan indah menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi di sela waktu liburan, hutan yang masih asri serta aliran Sungai Cimandala yang mengalir jernih dari salah satu anak hulu Ciliwung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *