Kolaborasi Kemenparekraf dan Traveloka Bangkitkan Pariwisata Bali dari Krisis

oleh -75 views

BALI – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berkolaborasi dengan Traveloka memberikan stimulus diskon besar-besaran untuk perjalanan wisata. Hal itu dipaparkan pada Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Berwisata Sehat dan Aman dengan Adaptasi Kebiasaan Baru dan Market Update Traveloka” di The Anvaya Beach Resort Bali, Rabu (2/12/2020).

 

Direktur Pemasaran Regional 1 Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu menjelaskan, pemerintah melalui Kemenparekraf/Baparekraf sadar betul keprihatinan yang dialami industri pariwisata dan ekonomi kreatif imbas pandemi COVID-19. Kendati begitu, Vinsensius optimistis kita bisa melalui hal tersebut dengan baik.

“Kita pernah melewati beberapa krisis. Saya pernah menangani bom Bali 1 dan 2 untuk menangani media internasional. Tapi untuk proses recovery-nya sangat cepat. Tapi ini (COVID-19) krisis yang betul-betul luar biasa. Dampak parahnya terhadap sektor pariwisata, sehingga sampai saat ini sudah sembilan bulan masih menderita,” kata Vinsensius dalam sambutannya.

Ia melanjutkan, pemerintah tak tinggal diam atas kondisi ini. Pemerintah melalui Kemenparekraf/Baparekraf selalu hadir untuk menanggulangi hal tersebut dan mengurangi rasa keprihatinan. “Tanpa mengurangi rasa hormat, kami bersama kementerian lain sudah melakukan sesuatu untuk membantu para industri, para pelaku pariwisata,” papar dia.

Program-program itu di antaranya mulai dengan program sembako, fasilitas tenaga kesehatan di hotel-hotel kamar yang kosong, fasilitasi OTG yang notabene di Jakarta hampir 50 persen yang mengambil kebijakan isolasi mandiri. Tak hanya itu, Kemenparekraf juga memfasilitasi sertifikasi gratis bagi hotel, restoran, atraksi yang sudah berjalan. “Program ini akan berlanjut sampai tahun depan,” tutur dia.

Di sisi lain, untuk kembali menggairahkan destinasi wisata Vinsensius menjelaskan jika Kemenparekraf/Baparekraf menyiapkan program stimulus besar-besaran discount untuk membantu travel agent, sehingga pergerakan wisatawan bisa bergeliat kembali. “DNA-nya pariwisata itu adalah perjalanan wisatawan. Jika pergerakan perjalanan itu terhenti, maka pariwisata juga apes ikut terhenti. Maka dari itu kita gerakkan kembali dengan berbagai fasilitas dan Kemenparekraf memberikan hibah bagi 100 kabupaten,” ujarnya.

Kendati begitu, tak seluruh kabupaten mendapat program stimulus hibah ini. “Pertimbangannya adalah kontribusi pajak. Kalau kepala daerah tidak menempatkan pariwisata sektor unggulannya, berarti sektor pariwisata tidak masuk dukungan dan itu salah satu pertimbangan. Mekanismenya seperti apa, itu ada di Kementerian Keuangan,” kata Vinsensius.

Untuk menggerakkan kembali perjalanan wisata, selain stimulus discount Kemenparekraf/Baparekraf juga menggandeng Traveloka sebagai mitra strategisnya. “Kemenparekraf merangkul semua mitra dan kita tahu Traveloka memiliki market yang besar dan bisa menjangkau lebih luas. Kita menggandeng TVI, salah satunya adalah Traveloka,” jelas dia.

Ke depan, Vinsensius menegaskan jika kerja sama juga akan diperluas dengan jangkauan yang lebih luas dan lebih besar lagi.

“Before Christmas adalah momentum yang baik. Tapi pertimbangannya bukan soal tourism, melainkan tentang ekonomi. Belum lagi dari sisi supply pasar-pasar kita. Pemerintah terus memperjuangkan tourism, tapi tentu dengan berbagai persyaratan. Ini sedang dalam proses. Kita berdoa saja tetap semangat. Dua hal itu yang tidak bisa diambil oleh COVID-19 yakni semangat dan iman,” tegas dia.

Vice President Market Management Indonesia Accommodation Traveloka, John Safenson memaparkan, yang terpenting saat ini adalah merumuskan program yang bisa menggugah mereka yang memiliki uang untuk melakukan perjalanan wisata kembali. “Tentunya dengan berbagai promosi kita yakinkan agar mereka itu mengurangi fire of traveling dan ketakutan mereka untuk melakukan perjalanan wisata,” ucapnya.

Di tengah adaptasi kebiasaan baru, Jhon menilai sesungguhnya sudah banyak orang yang ingin melakukan perjalanan wisata. Sehingga, hal ini sesungguhnya mempengaruhi perilaku konsumen di masa pandemi. “Beberapa strategi dalam masa pandemi kami lakukan seperti Traveloka Live Sale setiap hari Jumat lebih banyak menggoda konsumen yang masih banyak uang yang melakukan perjalanan. Kalau tidak digoda mereka tidak akan melakukan perjalanan. Jadi harus melakukan langkah persuasif dengan melakukan live streaming,” imbuhnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *