Langkah Strategis Pengembangan Geopark Kaldera Toba

oleh -103 views

Balige – Pengembangan Geopark Kaldera Toba kini menjadi perhatian serius pemerintah. Pengembangan itu merujuk pada rekomendasi UNESCO yang telah menetapkan Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark Kaldera Toba pada Juli lalu. Tak hanya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), namun juga lintas kementerian memfokuskan diri pada pengembangan Geopark Kaldera Toba.

Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kosmas Harefa menuturkan, tujuan dari pengembangan Geopark Kaldera Toba untuk meningkatkan kualitas obyek sekaligus memenuhi rekomendasi UNESCO. “Ada empat dasar pengembangan Geopark warisan geologi yang bernilai internasional. Salah satunya adalah memiliki keunikan warisan geologi berskala internasional dan terdapat keterkaitan geodiversity, biodiversity dan culture diversity,” kata Kosmas, Jumat (6/11/2020).

Hal lainnya adalah pengelolaan melalui badan pengelola yang ditetapkan oleh pemerintah setempat yang mengoptimalkan tugas dan fungsi bidang-bidang dalam organisasi pengelola Geopark. “Jaringan juga harus berperan aktif dalam keanggotaan jejaring Geopark Indonesia, APGN (Asia Pacific Geopark Network) dan GGN (Global Geopark Network) sebagai tempat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan serta kerja sama antar-kawasan Geopark. Yang terpenting juga adalah visibilitas. Dalam arti memiliki pusat informasi, sarana, prasarana dan bahan promosi untuk mengenalkan kepada wisatawan,” tutur dia.

Kasubdit Geologi Mineral Pertambangan, Deputi Sumber Daya Energi Mineral Pertambangan, BAPPENAS, Togu Pardede memaparkan menegaskan perlunya sinkronisasi program rencana aksi nasional Geopark yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024. Ia menjelaskan, geologi Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik yang mengakibatkan Indonesia memiliki keragaman geologi (geodiversity) yang bernilai sebagai warisan geologi (geoheritage) yang memiliki keterkaitan dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) dan keanekaragaman budaya (cultural diversity). “Hal ini menjadi potensi sebagai peningkatan nilai tambah Geopark,” katanya.

Dalam rangka pengembangan geopark maka dibentuk Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) untuk koordinasi, sinergi dan sinkronisasi. Dalam realisasinya memerlukan sinergi semua pihak mulai dari pemerintah pusat, daerah hingga stakeholder terkait lainnya. “Pengembangan Geopark setidaknya berkontribusi terhadap 10 dari 17 tujuan SDGs yang melibatkan semua stakeholder mulai pemerintah, filantropi, akademisi, media dan lain sebagainya,” kata dia.

Saat ini, potensi yang bisa dikembangkan dalam kerangka pariwisata adalah menggaet wisatawan domestik usia muda atau milenial yang memang mendominasi awal recovery pariwisata. “Geopark (pariwisata) menjadi pemicu awal economic recovery, menyerap tenaga kerja dan menjadi multiplier effect sektor lain. Pendekatan terintegrasi promosi Geopark dan kepatuhan protokol kesehatan menjadi dua koin tak terpisahkan. Pemenuhan protokol kesehatan serta pelatihan pekerja pariwisata menjadi syarat dibukanya hotel, restoran, kafe dan lainnya. Selain itu, promosi Geopark melalui voucher liburan, diskon pesawat, hotel, restoran, tarif masuk dan lainnya perlu gencar dilakukan,” kata dia.

Yang tak kalah penting adalah transformasi digitalisasi yang belakangan ini berkembang dan mendominasi arus informasi. “Digital transformation dan touchless solution perlu diakselerasi (pembayaran, peta, informasi dan lainnya) untuk physical distancing. Insentif fiskal melalui libur atau diskon pajak dan retribusi hotel, restoran, kafe dan lainnya perlu dilakukan beberapa bulan hingga wisata mulai normal,” saran dia.

General Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba, Hidayati menuturkan, ada 16 geosite di Toba Kaldera UNESCO Global Park. “UNESCO Global Geopark adalah area geografis tunggal dan terpadu di mana situs dan lanskap geologi yang memiliki nilai penting secara internasional yang dikelola dengan konsep holistik meliputi perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan bottom-up,” papar dia.

Hidayati menerangkan, pendekatan bottom-up tersebut adalah menggabungkan konservasi dengan pembangunan berkelanjutan sambil melibatkan masyarakat lokal. “Hal lain yang bisa dikembangkan adalah pertanian berbasis inovasi dan pengetahuan. Maka, diperlukan pemetaan produk sesuai sebaran tanah yang unik hasil pelapukan batuan,” ujarnya.

Geopark juga dapat dikembangkan menjadi objek dan daya tarik wisata, selain menjadi tempat kegiatan perdagangan dan pembuatan barang kerajinan (geoproducts) seperti cetakan fosil dan cinderamata serta pengembangan agrowisata.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *