Lebih Dekat dengan Kampung Tua Lewat Photo Fiesta 2019

oleh -527 views

BATAM – Photo Fiesta 2019 segera digelar. Event bergengsi ini bakal menyasar Kampung Terih dan Tanjung Uma, 23-24 Maret mendatang. Di kedua tempat itulah budaya Melayu berkembang dan dipertahankan hingga sekarang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardiwinata mengatakan, admosfer Melayu bisa langsung dirasakan begitu peserta menginjakkan kaki di Kampung Terih maupun Tanjung Uma. Peserta juga bisa berinteraksi dengan warga setempat, sekadar menyapa atau bertanya keseharian mereka.

Sekilas tentang Tanjung Uma, wilayah kampung ini langsung berhadapan dengan negara Singapura. Mayoritas penduduk adalah etnis Melayu dan berprofesi sebagai nelayan. Salah satu hasil laut yang bisa ditemui adalah gorap.

“Gorap merupakan hewan laut jenis kerang, namun mempunyai bentuk yang berbeda. Gorap sangat mudah ditemui di Tanjung Uma ketika air laut surut. Nah, aktivitas warga mencari gorap, mungkin bisa dibidik menjadi karya fotografi yang menarik,” ujarnya, Kamis (21/3).

Saat bulan Ramadhan yang sebentar lagi datang, Tanjung Uma akan berubah menjadi surganya kuliner Melayu. Di sini akan banyak warga yang menjajakan makanan khas. Stand-stand kuliner pun didirikan. Beragam sajian bisa dipilih dengan harga relatif murah, mulai dari camilan hingga makanan berat. Seperti laksa, lodeh kacang, kue jala, otak-otak, ikan bakar, dan lain-lain.

Tak kalah dengan Tanjung Uma, Kampung Terih pun mempunyai kuliner yang siap memanjakan lidah para pengunjung. Di sini, wisatawan bisa dengan mudah mendapati olahan kepiting atau ketam. Umumnya, ketam disajikan dengan cara digoreng tepung, disambal atau dimasak dengan bumbu merah. Pengunjung bisa menikmati olahan ketam dengan harga mulai dari Rp5000.

Kadis Pariwisata Kepulauan Riau Boeralimar menambahkan, tujuan digelarnya Photo Fiesta 2019 antara lain untuk meningkatkan kedatangan wisatawan. Termasuk mempromosikan Pulau Batam sebagai tempat yang tepat untuk menikmati waktu luang dan olahraga, serta sebagai kota MICE yang paling disukai pendatang.

“Kampung Terih dan Tanjung Uma sudah berbenah demi menyambut event Photo Fiesta 2019. Saya kira para peserta akan puas berburu foto di kedua tempat tersebut. Selain banyak spot-spot menarik, peserta juga bisa membidik aktivitas keseharian masyarakat setempat,” ucapnya.

Sementara General Manager Batam View Beach Resort Anddy Fong menyatakan, Photo Fiesta 2019 bukan kompetisi photography biasa. Pada pelaksanaannya akan ada Workshop yang akan diisi oleh Liew Tong Leng dari Nikon, yang salah satunya membahas tentang Teknik Fotografi Fireworks.

“Akan ada Kompetisi Foto Mini, dimana para peserta akan diangkut ke tempat yang dirahasiakan dalam misi waktu yang terbatas. Di sini juga akan ada sesi kembang api yang diatur khusus untuk para photographer,” jelasnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizky Handayani menyatakan, tahun lalu, Photo Fiesta juga digelar oleh Batam View Beach Resort bekerjasama dengan Julian W. Photography, Singapura. Saat itu, acara cukup sukses sehingga digelar kembali tahun ini.

“Pada kesempatan ini, masing-masing peserta dikenakan biaya sebesar 208 dollar, sudah termasuk biaya inap 2 hari – 1 malam, 2 kali makan siang, sekali makan malam, ikut dalam photo competition, workshop photography, dan lain-lain,” ungkapnya, didampingi Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar, Dessy Ruhati.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan, Batam selalu menawarkan event-event yang kreatif. Berbagai jenis kegiatan dimunculkan sehingga wisatawan berdatangan sesuai dengan passion-nya. Mulai dari sport, kuliner, budaya, hingga seni photography. Namun demikian, 3A tetap menjadi tolak ukur seberapa jauh kesiapan sebuah destinasi untuk dipromosikan.

“Industri pariwisata tidak bisa lepas dari 3A. Jika pariwisata ingin maju dan banyak dikunjungi wisatawan, maka harus ada atraksi yang bisa dijual. Selanjutnya aksesibilitas harus memadai, baik sarana infrastuktur maupun moda transportasi yang bisa menjangkau lokasi. Terakhir, soal amenitas harus pula diperhatikan karena ini masuk kebutuhan dasar. Harus ada hotel atau minimal homestay yang bisa disewa wisatawan,” bebernya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *