Menjajal Medan Terjal Air Terjun Kembar Banyumala Era New Normal

oleh -46 views

BULELENG – Usai ratusan kali berswafoto di The Blooms Garden yang kekinian dan berwisata religi budaya melihat keabadian Pura Ulun Danu Beratan di Bedugul. Hari pertama program famtrip dalam kampanye We Love Bali Kemenparekraf/Baparekraf 6-8 Desember 2020 era New Normal ditutup dengan wisata alam Air Terjun Kembar Banyumala, di Kabupaten Buleleng.

Ya, Pulau Bali memiliki ratusan destinasi yang menakjubkan. Mulai dari wisata air di tepi pantai, lalu wisata danau, hingga wisata religi di berbagai Pura tersaji. Tujuan wisata di Pulau Dewata yang ramah keluarga dan fun pun melimpah. Sama halnya dengan tempat wisata bagi para pecinta alam dan berjiwa petualang.

Khusus bagi para wisatawan dalam negeri maupun mancanegara yang berjiwa petualang dan cinta alam, maka destinasi Air Terjun Kembar Banyumala di Kabupaten Buleleng layak masuk dalam daftar kunjungan Anda.
Hanya saja bagi para wisatawan tersegmentasi ini, kondisi fisik harus dipersiapkan betul guna menaklukkan bentang alam yang tersaji di sepanjang perjalanan menuju dan arah sebaliknya dari lokasi air terjun.

Pada Minggu (6/12/2020), rombongan Famtrip We Love Bali Kemenparekraf/Baparekraf yang berjumlah sekitar 40 peserta mencapai lokasi air terjun ini dengan melalui rintangan jalanan yang curam. Namun begitu tiba di sana, semua upaya sulit tadi tak akan membekas, tertutup oleh pesona keindahan alam sekitar.
Air Terjun Banyumala, yang terletak di Desa Pakraman Wanagiri, Sukasada, Kabupaten Buleleng, memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, Air Terjun Banyumala terbentuk dari dua air terjun yang berdampingan, kemudian terbagi lagi menjadi beberapa cabang sebelum mencapai permukaan kolam di dasarnya. Karena itulah air terjun ini disebut kembar.

Pemandangan kian elok karena air terjun kembar tersebut diapit hijaunya rimbun pohon, sehingga tampak kontras dan menyejukan mata. Keindahan Banyumala dapat disandingkan dengan air terjun lain yang berada di sekitarnya, seperti Air Terjun Sekumpul ataupun Air Terjun Gitgit Karena letaknya yang relatif tersembunyi dan agak sulit dijangkau, keberadaan air terjun ini belum banyak diketahui oleh para wisatawan. Di sana Anda hanya akan mendengar curahan air yang tak terlalu deras mengalir di dinding tebing bebatuan di antara pepohonan hijau.

Tepat di bawahnya terdapat sebuah kolam yang tidak terlalu dalam dan terbentuk secara alami dengan airnya yang sangat jernih serta tenang membuat Anda bisa merasa aman untuk berenang di dalamnya.

Adapun jika fisik Anda masih mumpuni, di lokasi pemberhentian kendaraan sebelum berjalan kaki menuju Air Terjun Kembar Banyumala terdapat permainan outbond di Highland Wanagiri Village. Di sana wisatawan bisa bersepeda, hingga berayun-ayun di atas langit.

Dari berbagai keunikan yang telah disebutkan di atas, tentu saja membuat Air Terjun Kembar layak masuk ke dalam Program We Love Bali, yang merupakan kerjasama antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) dengan Pemerintah Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Bali dan segenap unsur yang terlibat dalam pariwisata Bali.

“Melalui We Love Bali, semua berusaha mempercepat kenaikan jumlah wisatawan ke Indonesia. Pulau Bali tentu saja menjadi salah satu ujung tombak pariwisata Indonesia untuk mengembalikan kondisi perekonomian masyarakat di era New Normal,” beber Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, Minggu (6/12/2020).

“Tapi tidak hanya itu, melalui We Love Bali, kita sekaligus memperkenalkan dan mengedukasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainability (lingkungan berkelanjutan),” imbuhnya.

Program We Love Bali jadi penegas implementasi CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, dan Environment Sustainability). Kemasannya melalui Familiarization Trip (Famtrip) media nasional dengan zonasi 5 destinasi utama Pulau Dewata. Secara keseluruhan program ini telah melibatkan 409 pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, 8.421 tenaga kerja serta 4.800 peserta dari masyarakat umum yang berasal dari Provinsi Bali. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *