Menpar Ajak Investor Properti Dunia Berinvestasi di Sektor Pariwisata

oleh -714 views

SUARAJATIM.CO.ID– Menteri Pariwisata Arief Yahya tidak hanya getol mempromosikan Wonderful Indonesia di pasar dunia. Sang ahli marketing tersebut juga aktif menawarkan skema investasi bagi investor. Tentu saja untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata di tanah air.

Hal itu juga yang dilakukan Arief Yahya pada December Business Meeting & Global Summit Asosiasi Real Estate Sedunia (FIABCI). Dalam event di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12), Arief Yahya didaulat jadi keynote speaker.

Di hadapan ratusan investor properti dunia, Menpar Arief memaparkan peluang investasi di sektor properti Pariwisata. Khususnya, homestay desa wisata.

“Homestay Desa Wisata bakal menjadi portofolio industri baru dalam pengembangan amenitas pariwisata Indonesia. Homestay Desa Wisata merupakan program Kemenpar sebagai bentuk kebijakan pembangungan berkelanjutan dan konservasi budaya. Target Kemenpar untuk membangun 10.000 kamar homestay desa wisata di periode 2017-2019. Begitu juga resort. Ini akan menjadi peluang menguntungkan di sektor properti,” ujarnya.

Menpar punya alasan mengapa homestay dan resort bisa menjadi bisnis menguntungkan badi para investor.

Pertama, pariwisata Indonesia berkembang pesat. Pariwisata telah ditetapkan menjadi core economy bangsa. Terbukti pertumbuhan pariwisata Indonesia mencapai 22% atau tiga kali lipat pertumbuhan dunia. Pada 2016, sektor pariwisata Indonesia menumbang devisa sebesar US$ 13,5 miliar. Tahun 2017, sumbangan devisa dari sektor pariwisata melesat menjadi sekitar US$ 16,8 miliar.

Begitu juga angka kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman ke Indonesia terus naik. Pada 2017, wisman yang berkunjung sebanyak 14,04 juta orang. Torehan ini naik 21,88 persen dari tahun 2016 yang berada dikisaran 11,52 juta wisman.

“Kami punya target mendatangkan 20 juta kunjungan wisman dan 275 juta perjalanan wisatawan nusantara di tahun 2019. Untuk mewujudkan visi tersebut setidaknya kita butuh 100 ribu kamar di berbagai destinasi wisata di Indonesia. Ini untuk menjawab kebutuhan amenitas yang melompat jauh,” terang Menpar.

Kedua, homestay dan resort lebih mudah dan lebih murah dibangun ketimbang membangun hotel. Karena skalanya kecil, membangun homestay dan resort akan lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan membangun hotel. Biaya yang dikeluarkan pun tidak tinggi seperti membangun hotel.

Desainnya pun sudah dipikirkan. Kemenpar telah menggelar Sayembara Desain Arsitektur Nusantara untuk homestay. Ada 10 pemenang yang mewakili desain arsitektur homestay untuk 10 destinasi prioritas yang sudah di tetapkan.

Ke-10 desain homestay ini nantinya akan menjadi acuan pembangunan homestay di Tanah Air. Dengan begitu diiharapkan desain arsitekturnya memiliki ciri khas yang mengacu pada budaya dan kearifan lokal Nusantara, sekaligus menjadi bagian atraksi Pariwisata.

“Selain itu cakupannya pun luas sampai ke pelosok nusantara.
Indonesia memiliki 10 destinasi prioritas atau 10 Bali Baru yang sedang dikembangkan. Insfrastruktur dibeberapa destinasi sudah memadai. Tinggal investor masuk. Jadi silahkan berinvestasi di sektor properti Pariwisata. Kami akan sangat senang membantu,” pungkas Menpar Arief Yahya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *