Menpar Arief Yahya: Percepat Recovery Lombok

oleh -946 views

SUARAJATIM.CO.ID– Menangisi nasib, menyesali keadaan, apalagi menyalahkan orang lain, itu tidak akan banyak membantu di saat bencana seperti di Lombok saat ini. “Yang perlu kita percepat adalah proses recovery, terutama 3A, Akses, Amenitas, Atraksi sebagai destinasi wisata,” kata Menpar Arief Yahya.

Tidak ada orang yang ingin tertimpa bencana. Tetapi tidak ada yang bisa menolak ketika bencana itu tiba. “Bencana bisa terjadi di mana saja, kapan saja, menimpa siapa saja. Yang paling penting, adalah bagaimana menangani dan melayani customers (baca: wisatawan, red) dengan baik dan mengesankan,” kata Arief Yahya lagi.

“Kita semua sedih, kita semua
berbela sungkawa, berduka sedalam-dalamnya. Karena itu, kita harus saling bantu, saling support, agar proses recoverynya lebih cepat. Ukurannya, kira-kira 3 Minggu, untuk bangkit lagi, memperbaiki fisik dan non fisik atau layanan,” kata Menpar Arief Yahya.

Karena itu, dia memberikan apresiasi yang besar pada para industri dan asosiasi pariwisata yang dalam suasana bencana masih mengutamakan layanan prima. Masih memberikan free of charge (FoC) di hari pertama pasca bencana. Dia juga mengacungi jempol pada asosiasi yang sigap, gerak cepat, koordinatif, dan tegar dalam kesulitan.

“Saya bisa merasakan kesulitan itu. Kami
berdoa agar semua tetap sehat, selamat dan terus berfikir positif,” ungkap Arief Yahya.

Dia juga berterima kasih pada Kemenhub, Basarnas, BNPB, Kemenlu, Panglima TNI, Kapolri, Angkasa Pura II, Disparrov NTB, PHRI, Asita, GIPI, asosiasi MICE, Garuda Indonesia, Lion Air, dan semua pihak yang responsif. Langkah tanggap darurat di pariwisata terutama di 3A, berlangsung cepat dan berkesan bagus.

Menpar juga berterima kasih pada Presiden Joko Widodo yang cepat menginstruksikan ke semua
Kementerian dan Lembaga untuk menangani bencana alam Lombok dengan cepat. Karena Lombok adalah satu dari 10 Destinasi Prioritas atau 10 Bali Baru.

Lombok juga strategis dalam peta pariwisata Indonesia. Lombok menjadi salah satu paket yang dipasarkan di Asian Games 2018, pada 18 Agustus sd 2 September 2018 ini. Termasuk dipaketkan di IMF World Bank Annual Meeting 2018.

Lombok juga sudah memiliki reputasi dunia, baik di Halal Tourism, maupun di TripAdvisor. Lombok juga menjadi pilihan pulau terbaik nomor 3 dunia oleh Travel and Leisure. “Banyak sekali prestasi yang mengangkat brand Lombok sebagai
bagian dari Wonderful Indonesia yang keren,” jelas Arief Yahya.

Ada pertanyaan wartawan, apakah bencana ini tidak merusak image Lombok ke depan? “Saya jawab tidak! Sekali lagi, bencana bisa menimpa siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Bencana itu bisa disebabkan oleh alam, seperti erupsi dan gempa ini. Juga bisa disebabkan oleh technology failure, seperti kecelakaan pesawat, pembangkit listrik, dan lainnya,” jelas Arief Yahya.

Bencana juga bisa disebabkan oleh sosial, seperti kerusuhan, demonstrasi, bom dan lainnya. “Dulu ada wartawan asing menanya dan memojokkan saya soal bom di Thamrin. Saja jawab juga, bom juga bisa terjadi di Linds Cafe di Sydney, di Paris, di London, di mana saja. Kita semua adalah korbannya, Indonesia, Prancis, Australia, USA, UK adalah korban, yang sama-sama tidak ingin terjadi kekacauan oleh bencana,” sebutnya.

Lalu setelah bencana apakah semua negara itu tidak didatangi wisatawan? “Tidak juga kan? Tergantung, bagaimana manajemen penanganan bencananya. Jadi kita harus optimis, kita akan segera bangkit!” tegasnya.

Karena itu, semakin solid, speed, smart, (3S) dalam recovery, semakin cepat akan bangkit. Level pertama, mitigasi bencana dan tanggap darurat buat wisatawan sudah berjalan baik. Level kedua, memastikan dan memperbaiki 3A, Akses, Amenitas dan Atraksi, sedang berjalan. Nah, level ketiga, recovery, memperbaiki sarana dan prasarana pariwisata itulah yang harus dikebut.

“Mari kita berdoa, agar suasana kembali pulih, dan Lombok tetap menjadi salah sati destinasi wisata terbaik dunia,” ajak Mantan Dirut PT Telkom ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *