Para Peserta Forum Tour Operator Ecotorurism Terpesona CMC Tiga Warna dan Kayutangan Heritage di Malang

oleh -31 views

MALANG – Program pengenalan daerah destinasi ecotourism di Jawa Timur oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Forum Tour Operator Sangat Efektif.

Daerah destinasi mulai dari Kayutangan Heritage di Kota Malang, CMC Tiga Warna di Malang Selatan dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, membuat 18 orang para wisatawan yang berprofesi sebagai pelaku travel operator itu kepincut. Mereka berasal dari tour operator international seperti Malaysia, Singapura dan Thailand berjumlah 6 orang Dan 12 orang peserta lainnya berasal dari Jawa Timur, Bali dan Jakarta.

Semuanya diajak merasakan langsung pengalaman dan keidahan destinasi tersebut untuk menyiapkan paket ecotourism menarik, bagi market masing-masing di daerah dan negaranya.

Di Kawasan Heritage Kauyatangan para peserta diajak nostalgia di kampung yang memiliki ciri khas deretan rumah berarsitektur kolonial Belanda. Ada 60 rumah tua yang berhasil diidentifikasi di kampung ini.

Seluruhnya relatif terjaga bentuk aslinya. Di depan rumah dipasang plakat informasi usia bangunan sampai pemilik pertamanya. Rumah tertua dicatat dibangun pada 1870.

Sementara, di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna yang merupakan kawasan konservasi untuk pohon bakau dan terumbu karang yang berada di Dukuh Sendang Biru, Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sitiarjo, Kabupaten Malang, Jawa Timur para peserta terpesona komitmen pengelola kawasan tersebut.

Pengelola objek wisata CMC Tiga Warna berkomitmen untuk memastikan kebersihan pantai. Salah satunya dengan menerapkan sistem check list barang bawaan pengunjung menuju pantai. Saat memasuki kawasan wisata ini, pengunjung harus melewati pos pemeriksaan tas dan potensi sampah.

Seperti air minum kemasan, tisu basah, tas plastik, masker, dan barang bawaan lainnya yang berpotensi jadi sampah dicatat di selembar kertas oleh petugas. Nantinya, ketika meninggalkan lokasi, pengunjung harus kembali membawa barang-barang tersebut keluar.

Petugas akan melakukan pengecekan kembali. Bila ada sampah yang tertinggal di lokasi wisata, pengunjung akan dikenai sanksi dengan kembali ke pantai dan mengambil sampah yang ditinggalkan, atau membayar denda sebesar Rp 100 ribu.

Salah satu peserta yang berasal dari Singapura Faizal Syed Mohamed, mengaku sangat menyukai program ecoutourism yang baru pertama ditawarkan Kemenparekraf itu, ia mengaku program ini sangat cocok dengan marketnya yang ada di negaranya.

“Yang lebih menyenangkan lagi adalah, kami bisa melihat dan melakukan aksi langsung seperti menanam mangrove. Ini pengalaman yang membanggakan, saya rasa eksperience yang didapat akan kami kabarkan market, sangat unik dan berbeda,”katanya.

Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan (PWAB) Kemenparekraf, Alexander Reyaan mengatakan ecotourism adalah benchmark yang paling bagus untuk Sustainable Tourism Development (STD).

Pengembangan ekowisata tidak sama dengan mass tourism yang mengejar jumlah wisatawan mancanegara (wisman). Di ecotourism lebih mencari kualitas wisman dengan value yang lebih besar.

“Kemenparekraf mengembangkan kedua konsep itu. Keduanya saling melengkapi, saling mendukung. Kita harus punya destinasi dengan mass tourism, kita juga terus mengembangkan atraksi untuk high end tourism,” katanya.

Prinsipnya tidak boleh merusak alam dan memegang teguh prinsip konservasi, karena pariwisata adalah urusan pelestarian. Ada banyak contoh, konservasi yang membawa rezeki jangka panjang.

“Justru kalau dirusak, dengan cepat akan menjadi malapetaka dan mudah menyelesaikannya,” pungkas Alexander Reyaan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *