Pencak Silat Simbol Kemajuan Ekraf Majalengka di Bimtek dan Gerakan BISA Kemenparekraf

oleh -114 views

MAJALENGKA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kratif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) SDM Ekonomi Kreatif Fotografi dan Gerakan Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA). Program tersebut dipusatkan di Desa Wisata Argamukti, Kabupaten Majalengka, Selasa (8/9/2020).

Pada kesempatan itu, ditampilkan Pencak Silat Paleredan Kadipatenan Cikaracak. Pencak silat atau biasa disebut silat adalah seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia. Seni bela diri ini telah dikenal luas oleh dunia. Pencak silat adalah olahraga bela diri yang memerlukan konsentrasi.

Nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki cara pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam. Mereka menciptakan bela diri dengan menirukan gerakan binatang yang ada di alam sekitar, seperti gerakan kera, harimau, ular, atau burung elang. Asal mula ilmu bela diri di nusantara ini kemungkinan juga berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak, misalnya seperti dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.

Silat diperkirakan menyebar di Kepulauan Nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat ditentukan secara pasti. Kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya dan Majapahit disebutkan memiliki pendekar-pendekar besar yang menguasai ilmu bela diri dan dapat menghimpun prajurit-prajurit yang kemahirannya dalam pembelaan diri dapat diandalkan.

Analis Kebijakan Ahli Madya, Koordinator Edukasi III Direktorat Pengembangan SUmber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, Deputi Bidang SUmber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Toar RE Mangaribi menegaskan, untuk mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun mancagera memang butuh sentuhan kreatif dalam membranding setiap destinasi yang ada di Majalengka.

Menurutnya, destinasi dan ekonomi kreatif pada era kekinian mesti dipromosikan secara digital. Sebab, eranya memang memasuki digitalisasi, di mana promosi dilakukan secara daring untuk dapat menggaet wisatawan. Oleh sebab itu, Toar menilai Kemenparekraf/Baparekraf menggagas kegiatan ini dalam rangka menguatkan dua hal. Pertama adalah aspek promosi destinasi wisata dan ekonomi kreatif. Kedua yakni menjamin kepada wisatawan yang akan melakukan perjalanan wisata bahwa mereka akan aman dan nyaman berada di destinasi wisata di Indonesia lantaran telah memenuhi standar protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan pemerintah.

“Untuk itu kegiatan ini kami gagas untuk mendukung penuh industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Majalengka agar dapat bergeliat kembali. Kami bekali dengan Bimtek Fotografi, karena memang saat ini eranya digital. Inilah kesempatan bagi ekonomi kreatif untuk mempromosikan diri,” kata Toar pada pembukaan Bimtek SDM Ekonomi Kreatif Fotografi dan Gerakan BISA, Selasa (8/9/2020).

Menurut dia, sebagus apapun produk ekonomi kreatif jika tidak dipromosikan maka akan sulit menjangkau pasar. Untuk itu ia menyarankan agar menjalin kolaborasi antarsemua pihak untuk mempromosikan produk kreatif yang dimiliki oleh Kabupaten Majalengka. “Kalau ada produk tapi belum bisa memasarkan, silakan dijalin kerja sama, kolaborasi di antara kita. Silakan petakan potensinya, mapping dulu,” tutur dia.

Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani menerangkan dasar penyelenggaraan acara. Bimtek fotografi dan Gerakan BISA dikreasi untuk mengakselerasi pariwisata dan ekonomi kreatif. Gerakan ini juga sebagai bentuk dukungan dan penguatan terhadap industri pariwisata di Kabupaten Majalengka. Program BISA, Ricky menerangkan, digagas untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata ke sejumlah destinasi di Indonesia, salah satunya ke Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning di Majalengka. 

“Program BISA menjadi bagian dari padat karya. Untuk itu, kami ajak peserta untuk membersihkan destinasi wisata Gunung Kuning dan Desa Wisata Argamukti di Majalengka. Kegiatan ini untuk semakin menaikkan kesadaran semua pihak akan pentingnya kebersihan lingkungan. Kalau desa wisata bersih, otomatis akan indah, sehat dan aman,” tegasnya.

Di sisi lain, Ricky menjelaskan Bimtek fotografi diselenggarakan dengan narasumber berkompeten yang merupakan fotografer bersertifikat yakni Denny Harliyanso yang langsung mengaplikasikannya di Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning Majalengka. 

Tujuannya, kata dia, untuk mempromosikan destinasi wisata Gunung Kuning dan Desa Wisata Argamukti untuk menarik perhatian wisatawan berkunjung ke Majalengka. Mengenai aspek perlindungan wisatawan selama berlibur, Ricky menegaskan Gerakan BISA menjadi landasan bagi sebuah destinasi wisata berbasis penerapan protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah.

Kedua hal ini, Bimtek fotografi dan Gerakan BISA akan mendukung penuh kebangkitan pariwasata Kabupaten Majalengka yang terdampak Covid-19. Keduanya merupakan sinergi apik untuk menggeliatkan kembali industri pariwisata Majalengka. “Bimtek fotografi menjadi pemikat wisatawan, sementara Gerakan BISA menjadi pedoman pengelola destinasi dan wisatawan untuk dapat melakukan perjalanan wisata yang aman di masa adaptasi kebiasaan baru ini,” terangnya.

Pada Bimtek fotogeafi, peserta yang berjumlah sekitar 100 orang itu akan diajarkan mengambil foto dengan alat sederhana seperti smarphone namun dengan teknik dan kualitas tinggi.

“Konten branding menjadi kebutuhan yang sangat vital. Bukan hanya harus bagus, tapi foto harus bisa merepresentasikan dan bercerita sebuah obyek atau destinasi wisata secara menyeluruh. Dengan begitu, wisatawan bisa langsung tergerak untuk datang ke destinasi wisata. Hal seperti inilah yang diperlukan,” jelas Ricky lagi.

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya mengungkapkan, program BISA dan Bimtek sudah barang tentu akan memperkuat posisi Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning di Majalengka di masa pandemi ini.

“Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kesiapan Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning dalam menyambut wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru terus ditingkatkan melalui program BISA. Sementara program Bimtek fotografi merupakan stimulus bagi mereka untuk melakukan branding dengan konten-konten yang semakin bagus,” ungkap Wisnu.

Program Gerakan BISA, Wisnu melanjutkan, sebagai dasar bagi destinasi wisata agar dapat memberikan keamanan dan kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung. “Sebab, program Gerakan BISA ini menjadi implementasi penerapan protokol kesehatan di destinasi wisata. Pogram Gerakan BISA juga memberikan transformasi pengetahuan baru melalui audiensi. Melalui Gerakan BISA kami juga berupaya untuk terus meningkatkan kualitas destinasi wisata,” ujarnya.

Kemenparekraf/Baparekraf, kata dia, selalu mendorong destinasi wisata untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan. Sehingga, wisatawan mendapat jaminan keamanan tak terinfeksi Covid-19. “Protokol kesehatan ini didisiplinkan kepada pengelola destinasi wisata, masyarakat dan wisatawan dengan cara menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan,” tuturnya.

Bupati Majalengka, Karna Sobahi sependapat dengan Toar. Menurutnya, ketika orang yang datang ke suatu destinasi, khususnya di Majalengka dan merasakan kepuasan, maka berapapun harga dari sebuah destinasi pasti akan dibayarnya. “Maka dari itu mohon ini dikelola dengan baik. Ekonomi kreatif kita luar biasa. Tahun ini saya kucurkan Rp10 miliar. Itu akan dibangun layanan fasilitas, apakah untuk kuliner, cinderamata atau lainnya, sehingga obyek wisata kita semakin siap. Itu akan berimbas pada bergeraknya ekonomi rakyat. Pariwisata dan ekonomi kreatif bisa menjadi lokomotif perekonomian di Majalengka,” ujarnya.

Yang menjadi fokus perhatiannya adalah bagaimana mengelola obyek wisata meski di masa pandemi seperti saat ini. “Karena pandemic covid ini perlu dijawab. Cara kita, stretegi menjawab Covid-19 ini adalah mendisiplinkan diri dengan protokol kesehatan. Itu semata-mata untuk melindungi yang datang ke obyek wisata agar tak terjadi cluster wisata,” kata dia.

“Ekonomi kreatif dan seni budaya juga jaga baik-baik. Obyek wisata ini harus dijual keluar agar menarik mereka. Orang Arab sekarang banyak melirik Majalengka. Makanya banyak villa orang Arab di sini. Banyak investor yang datang ke sini. rakyat harus cerdas,” tambah Karna.

Dalam Gerakan BISA, Kemenparekraf/Baparekraf menyalurkan beragam kebutuhan untuk disiplin protokol kesehatan seperti wastafel portable anti Covid-19 dan peralatan kebersihan. Wastafel ini didesain khusus dengan meminimalkan sentuhan tangan. Bila ingin mengalirkan air, tinggal menekan pijakan kaki di bawah. Pun demikian dengan sabun pencucitangannya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *