Program Busta 2021 Direlease Kemenparekraf/Baparekraf, Momentum Genjot Bisnis Industri Kopi

oleh -172 views

MEDAN – Momentum terbaik menaikan kuota bisnis dimiliki pelaku industri kopi Indonesia. Sebab, inspirasi diberikan Kemenparekraf/Baparekraf melalui program Bimtek Untuk Barista (Busta) 2021, 24-25 Februari 2021. Kemasannya melalui online (hybrid), selain offline dari AEKI Carita Kopi, Medan, Sumatera Utara. Apalagi, support ditawarkan Kemenparekraf/Baparekraf untuk memajukan industri kopi nusantara.

“Brand kopi Indonesia di mancanegara sangatlah kuat. Kopi ini tentu tetap memiliki masa depan cerah secara ekonomi. Apalagi, dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini. Kopi bahkan bisa ditransaksikan secara online. Yang penting kreatif dan inovatif terkait produk jadinya,” ungkap Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya, Rabu (24/2).

Digulirkan Rabu (24/2) pagi WIB, program Busta milik Direktorat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf diikuti 751 peserta online. Dibuka 10-18 Februari 2021, jumlah pendaftar online sebenarnya mencapai 1.623 nama. Mereka ini adalah para Barista dari berbagai wilayah di nusantara, terutama 5 Destinasi Super Prioritas.

Mengacu komposisi Destinasi Super Prioritas, terdapat 349 nama Barista yang bergabung dari Kawasan Danau Toba dan sekitarnya (Sumatera Utara). Slot 209 nama diisi Barista dari seputaran Destinasi Candi Borobudur (Jawa Tengah dan DI Yogyakarta), lalu 34 Barista zona Destinasi Mandalika (Nusa Tenggara Barat). Ada juga 8 Barista dari Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur) dan 13 nama di Likupang (Sulawesi Utara).

“Indonesia memang penghasil kopi terbaik di dunia. Dan, kopi Indonesia akan semakin kuat bila semua bersinergi. Program ini tentu jadi momentum positif untuk mendorong kapasitas ekonomi produk kopi. Kami siap mendorong kemajuan industri kopi secara menyeluruh. Apalagi, setiap destinasi pariwisata memiliki kekhasan kopinya sendiri,” terang Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani.

Indonesia memang menjadi donatur kopi dunia terkemuka. Pada 2016 saja, Indonesia menjadi negara ke-4 penghasil kopi terbesar dunia. Kapasitas produksinya mencapai 660 Ribu Ton per Tahun. Sedikitnya ada 1 juta keluarga yang menggantungkan hidupnya dari industri dan perdagangan kopi. Lalu, produksi kopi pada 2019 mencapai 761,1 Ribu Ton. Jumlah tersebut naik 0,67% dari produksi tahun sebelumnya.

“Kopi terus menjadi tren global. Apalagi, kini paradigmanya bergeser. Selain generasi tua, kopi juga sangat digemari kau milenial. Kopi jadi budaya kaum milenial. Ini artinya, pasar kopi semakin luas dan besar potensinya. Untuk itu, melalui program Bimtek ini semua elemen terkait kopi dikuatkan kembali,” tegas Ricky.

Untuk jenis kopi yang dihasilkan terbagi 3. Ada jenis Kopi Robusta, Arabika, dan Liberika. Dari slot itu, Kopi Robusta memiliki volume produksi terbesar dan memiliki slot ekspor 20% dari produksi dunia. Kopi Ribusta ini dihasilkan dari perkebunan seluas 1,15 Ribu Hektar. Luasannya sekitar 92% dari total perkebunan Kopi di Indonesia. Produksinya rata-rata 668 Kg per Hektar lahan.

“Pengembangan skill lanjutan menjadi penting untuk mendukung kualitas. Kami optimistis, kopi dari Indonesia akan selalu memenangkan hati masyarakat dunia. Untuk itu, kreativitas tetap diperlukan dan program ini juga diarahkan untuk mensikapi problem ekonomi karena pandemi Covid-19,” papar Koordinator Edukasi II Direktorat Pengembangan SDM Kemenparekraf Jemmy Alexander.

Terus menguatkan tone kopi nusantara, inspirasi pun diberikan para narasumber. Total ada 4 ahli kopi yang dihadirkan, seperti Sujonsen, Fadli Hazmi, Saidul Alam, dan Putri Lestari. Praktisi Kopi Sujonsen pun menjelaskan, pengetahuan story telling tetap diperlukan oleh seorang Barista. Selain sejarah, story telling juga menjadi acuan dasar penyajian kopi bercita rasa tinggi.

“Terima kasih kepada Kemenparekraf/Baparekraf. Program ini sangat bagus untuk seluruh Barista, apalagi mereka yang baru. Ada banyak informasi yang disampaikan. Sebab, sebelum melangkah jauh, seorang Barista harus tahu sejara kopinya. Dengan begitu, mereka akan menentukan racikan yang ideal untuk mengeluarkan cita rasa terbaiknya,” jelas Sujonsen.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *