Promosi Destinasi Wisata di Majalengka, Kemenparekraf Gelar Bimtek Fotografi dan Gerakan BISA

oleh -91 views

JAKARTA – Memasuki adaptasi kebiasaan baru, semua sektor mulai berbenah, tak terkecuali Kementerian Pariwisata dan Eknomi Kreatif/Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf). Kemenparekraf/Baparekraf menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) fotografi untuk mempromosikan Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning di Kabupaten Majalengka. Selain Bimtek fotografi, di dua lokasi lokasi itu juga akan diselenggarakan Gerakan Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) yang merupakan program pemulihan destinasi wisata berbasis protokol kesehatan.

Kedua kegiatan ini sudah barang tentu akan semakin menguatkan promosi pariwisata di Majalengka, khususnya Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning. Bimtek fotografi akan memberikan wawasan bagi para peserta untuk menghasilkan foto yang bagus dalam rangka promosi Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning Majalengka di media sosial. Sementara Gerakan BISA diselenggarakan sebagai jaminan kepada wisatawan bahwa kedua destinasi tersebut telah memenuhi standar protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan pemerintah di tengah pandemi Covid-19.

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya mengungkapkan, program BISA dan Bimtek sudah barang tentu akan memperkuat posisi Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning di Majalengka di masa pandemi ini.

“Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kesiapan Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning dalam menyambut wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru terus ditingkatkan melalui program BISA. Sementara program Bimtek fotografi merupakan stimulus bagi mereka untuk melakukan branding dengan konten-konten yang semakin bagus,” ungkap Wisnu, Minggu (6/9/2020).

Program Gerakan BISA, Wisnu melanjutkan, sebagai dasar bagi destinasi wisata agar dapat memberikan keamanan dan kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung. “Sebab, program Gerakan BISA ini menjadi implementasi penerapan protokol kesehatan di destinasi wisata. Pogram Gerakan BISA juga memberikan transformasi pengetahuan baru melalui audiensi. Melalui Gerakan BISA kami juga berupaya untuk terus meningkatkan kualitas destinasi wisata,” ujarnya.

Kemenparekraf/Baparekraf, kata dia, selalu mendorong destinasi wisata untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan. Sehingga, wisatawan mendapat jaminan keamanan tak terinfeksi Covid-19. “Protokol kesehatan ini didisiplinkan kepada pengelola destinasi wisata, masyarakat dan wisatawan dengan cara menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan,” tuturnya.

Dalam Gerakan BISA, Kemenparekraf/Baparekraf menyalurkan beragam kebutuhan untuk disiplin protokol kesehatan seperti wastafel portable anti Covid-19 dan peralatan kebersihan. Wastafel ini didesain khusus dengan meminimalkan sentuhan tangan. Bila ingin mengalirkan air, tinggal menekan pijakan kaki di bawah. Pun demikian dengan sabun pencucitangannya.

Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani menjelaskan, nantinya rangkaian pembukaan program BISA pun diakhiri dengan aksi bersih-bersih di dua destinasi tersebut yakni Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning Majalengka. Kebersihan adalah salah satu aspek yang ditonjolkan untuk memberi kenyamanan bagi wisatawan.

“Program BISA menjadi bagian dari padat karya. Untuk itu, kami ajak peserta untuk membersihkan Desa Wisata Argamukti dan destinasi wisata Gunung Kuning di Majalengka. Kegiatan ini untuk semakin menaikan kesadaran semua akan pentingnya kebersihan lingkungan. Kalau desa wisata bersih, otomatis akan indah, sehat, dan aman,” tegasnya.

Di sisi lain, Ricky menjelaskan Bimtek fotografi diselenggarakan dengan narasumber berkompeten yang merupakan fotografer bersertifikat yakni Denny Harliyanso yang langsung mengaplikasikannya di Desa Wisata Argamukti dan Gunung Kuning Majalengka. 

Pada kesempatan itu, peserta akan diajarkan teknik fotografi menggunakan alat sederhana smartphone, namun menghasilkan kualitas gambar yang representatif. Untuk menghasilkan karya foto yang menarik, Denny akan memberikan beragam tips. Peserta diajak mengerti fokus terhadap obyek. Mereka juga nantinya dituntut tampil beda baik teknik, sudut foto dan momentumnya. Salah satu materi yang akan disampaikannya juga adalah pemahaman foto bercerita. Hal ini menyangkut pesan yang disampaikannya.

“Konten branding menjadi kebutuhan yang sangat vital. Bukan hanya harus bagus, tapi foto harus bisa merepresentasikan dan bercerita sebuah obyek atau destinasi wisata secara menyeluruh. Dengan begitu, wisatawan bisa langsung tergerak untuk datang ke destinasi wisata. Hal seperti inilah yang diperlukan,” jelas Ricky lagi.

Di sisi lain, Ricky memaparkan jika pemasaran destinasi wisata secara digital akan lebih efektif menjangkau wisatawan. “Pemasaran menjadi titik sentral sebuah destinasi. Kini pemasaran memakai konsep digital sehingga lebih efektif dan cepat. Untuk itu, penyesuaian harus dilakukan. Model pemasaran dengan bantuan pamflet sudah mulai ditinggalkan. Sekarang fokusnya ke digital, apalagi banyak orang sekarang punya smartphone,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *