Proses Tax Refund Wisman Harus Disederhanakan

oleh -1.778 views

SUARAJATIM.CO.ID– Menteri Pariwisata Arief Yahya terus mendorong regulasi yang bisa memperoleh banyak devisa. Salah satunya dengan menyederhanakan proses tax refund Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi wisatawan mancanegara.

Menurutnya, permasalahan wisman dari berbagai penjuru dunia hampir sama. Yaitu menghabiskan terlalu banyak waktu di bandara untuk mendapatkan tax refund Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Menpar Arief mengatakan tax refund saat ini dapat dilakukan jika turis berbelanja minimal Rp 5 juta dalam satu faktur. Seharusnya, lanjut Menpar Arief, tax refund sudah dapat diberlakukan kalau turis sudah berbelanja minimal Rp 1 juta dalam satu faktur.

“Sistem pengembalian pajak bagi para wisatawan asing (tax refund) perlu dikaji bersama dengan Kementerian Keuangan. Dan, harus diikuti dengan komitmen semua anggota ritel. Dalam hal ini anggota Hippindo untuk mendaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak dan Toko Kena Pajak. Sehingga benar-benar menjadi daya tarik wisata belanja yang lebih mudah dipromosikan,” kata Menpar Arief Yahya saat press conference jelang pembukaan Hari Belanja Diskon Indonesia (HBDI), Senin (30/7).

Menpar Arief juga merinci peraturan tax refund yang perlu dikaji adalah menyederhanakan proses pengembalian pajak. Lalu memperpanjang waktu klaim diperpanjang dari saat ini 1 bulan setelah pembelian bisa menjadi 3 bulan. Serta, meningkatkan jumlah PKP (Pengusaha Kena Pajak) Toko Retail sehingga jumlah peserta tax refund semakin banyak.

“Regulasi, biasanya tax free, tax refund, sudah lazim. Di kita (Indonesia) belum lazim. Kita selalu berpikir banyak tax, banyak pendapatan. Padahal tidak, saya dulu kerja di Telkomsel, 99% pendapatan Telkomsel itu recurring revenue dari pulsa bukan starter pack, Kalo bisa klaim jangan sebulan, biar wisman bisa datang lagi untuk mengklaim. Bisa juga dengan perpanjangan klaim itu wisman bisa makin banyak belanja di Indonesia.” ujarnya.

Pria asal Banyuwangi itu juga menyampaikan potensi wisata kuliner dan belanja di Indonesia sangat besar. Namun performancenya rendah. Analisanya lantaran kemungkinan masalahnya ada dua yaitu regulasi dan teknologi.

Untuk Teknologi, Menpar Arief mendorong agar para pedagang atau peritel bertransformasi diri ke online, Menpar mencontohkan kesukesakan event di dunia yang bisa meraih omset tinggi saat mereka bertransormasi ke online. Yaitu Hari Jomblo Dunia yang jatuh pada tanggal 11-11. Omsetnya mencapai USD 25 Miliar.

“Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) yang juga diselenggarakan secara online yaitu Garuda Indonesia Online Travel Fair (GOTF). GOTF lebih besar pendapatannya 1 triliun dari GATF. Kalo dilakukan dengan online, kelak yang menjadi besar adalah Inbound-nya. Sebab More digital more global. Trend dunia saat ini memang seperti itu. Kalo tidak bertransformasi maka akan mati,” ujarnya.

Menpar Arief juga memberikan masukan agar para pedagang bekerjasama dengan perusahaan yang terbiasa dengan distribusi atau dengan jasa logistik dan pengiriman semisalnya Gojek.

“Sehingga delivery nya lebih murah. Karena the future is online, Jika bisnis mu buruk itu berarti ada masalah di Deregulasi dan Teknologi. Jika bisnis mu bagus juga karena kamu sudah menerapkan Deregulasi dan Teknologi,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *