Ribuan Wisatawan Saksikan Momen Langka Ritual Cuci Parigi Pusaka

oleh -1.503 views

SUARAJATIM.CO.ID – Ritual adat Cuci Parigi Pusaka mampu menarik perhatian wisatawan. Tercatat belasan ribu pengunjung menyaksikan event yang menjadi bagian Pesta Rakyat Banda 2018. Event di Negeri Lonthoir Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), adaah momen langka. Karena, digelar 10 tahun sekali.

Cuci parigi atau sumur pusaka ini dibuka Gubernur Maluku Said Assagaff. Diawali dengan ritual mengarak belang darat oleh 99 pria dan tarian cakalele dari rumah adat Lonthoir ke parigi pusaka. Para pria ini yang akan membersihkan parigi pusaka itu.

Gubernur Maluku Said Assagaff mengajak masyarakat banyak bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Juga beterima kasih kepada para leluhur karena menjalankan tradisi cuci Parigi Pusaka ini sejak dahulu.

“Mari kita semua, masyarakat harus banyak-banyak bersyukur karena Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan sumber daya alam yang berlimpah, di antaranya parigi pusaka ini. Kita juga harus berterimah kasih kepada para leluhur, orang tua-tua kita yang sudah menjalankan tradisi cuci parigi pusaka ini secara turun temurun,” kata Assagaff.

Dia meminta tradisi ini terus dijaga untuk warisan generasi muda. Apalagi, ajang Cuci Parigi Pusaka ini juga bisa menjadi ajang promosi pariwisata Banda Naira, Maluku dan Indonesia. Karena selain disaksikan warga Banda, juga warga luar Maluku lainnya serta wisatawan mancanegara (wisman).

“Cuci Parigi Pusaka ini merupakan rangkaian Pesta Rakyat Banda 2018. Saya harapkan kedepan Dinas Pariwisata bisa menata lebih baik lagi kegiatan ini sehingga bisa dijual untuk pengembangan potensi wisata Banda,” kata Assagaff.

Ketua Panitia Cuci Parigi Pusaka Hidayat Yusuf mengungkapkan, selain untuk membersihkan parigi, cuci parigi pusaka ini dimaknai untuk pensucian diri warga dan negeri. Dinamakan Parigi Pusaka, salah satu keistimewaannya adalah air parigi tidak pernah kering meski musim kemarau berkepanjangan. Air parigi juga sehat diminum tanpa dimasak. Bahkan menurut warga, rasa air dari parigi pusaka ini sama seperti air zam zam dari Tanah Susi Mekkah.

“Cuci parigi pusaka ini digelar setiap 10 tahun sekali. Tujuannya tentu untuk membersihkan parigi dan juga mensucikan warga dan negeri dari kotoran,” kata Hidayat.

Dia menjelaskan, Cuci Parigi Pusaka juga menjadi ajang merawat persaudaraan. Karena melibatkan warga lainnya terutama warga Kampung Baru dan marga Silawane dari Tehoru, Maluku Tengah yang ikut dalam ritual ini. Selain itu, di momen ini warga Banda di rantau pulang kampung untuk menyaksikan tradisi kolosal ini.

Usai ritual mengarak belang darat, pemuda dari 9 So (suku) langsung membersihkan air di dalam parigi itu. Dengan diiringi musik kabata, menggunakan bahasa adat dan irama tifa. Proses membuang air dari dalam parigi berlangsung sekitar 2 jam.

Ditengah proses membuang air, puluhan pria dan wanita penari cakalele asal Negeri Kampung Baru, gandong atau adik Negeri Lonthoir masuk ke areal parigi. Mereka juga ikut bersama cuci parigi pusaka ini.

Dalam prosesi ini, nampak banyak orang menyiram dan menggosok wajah dan tubuhnya dengan air dari perigi. Meski airnya terlihat kotor karena tanah lumpur, namun warga tidak merasa gatal.

“Justru air ini jadi rebutan warga. Ada yang buat disiram langsung atau dibawa pulang dan menyiram tubuh keluarga yang di rumah,” terang Hidayat.

Usai parigi dineringkan, pasukan cakaleke kemudian menjemput kain gajah dari rumah adat. Kain gajah dengan panjang 99 meter itu diantar ke Parigi Pusaka. Kain gajah berwarnah putih digunakan untuk membilas air di parigi hingga kering. Selama prosesnya, diiringi dengan tarian Siamali Negeri Lonthoir dan melantunkan kabata, bahasa tanah.

Kain gajah kemudian dibawa puluhan wanita ke pantai Negeri Lonthoir. Kain gajah kemudian dibersihkan lagi di pantai. Prosesi cuci parigi ini berlangsung disaat air laut surut. Tujuannya, agar saat air pasang, air di parigi pun kembali banyak lagi.

Hidayat menceritakan, Cuci Parigi Pusaka Lonthoir tujuannya mengingatkan warga akan penyebaran Islam di Lonthoir. Kala itu, sejumlah ulama penyebar Islam dari Timur Tengah mencari air untuk berwudhu ketika hendak menunaikan shalat. Tiba-tiba seekor kuncing muncul dari semak-semak.

“Di tempat kemunculan kuncing itulah ternyata ada sumber mata air yang kemudian menjadi parigi pusaka ini. Dulu di sini tidak ada mata air. Parigi ini berada di ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut,” ungkapnya.

Kepala Bidang Destinasi Area IV Asdep Pengembangan Destinasi Regional III, Kamal Rimosan mengatakan, event Cuci Parigi Pusaka menjadi agenda terjadwal bagi wisman. Khususnya wisman yang berasal dari negara-negara yang pernah berebut pulau Banda.

“Pulau Banda ini dulu jadi rebutan banyak negara karena kekayaan alamnya. Seperti Belanda, Spanyol, dan Portugis. Kerena nilai sejarah itulah banyak yang ingin datang langsung. Apalagi masyarakat Banda sudah mendeklarasikan berdamai dengan masa lalu,” terang Kamal.

Dia berharap, selama rentang 10 tahun itu, ada event yang menggambarkan atraksi budaya Cuci Parigi Pusaka ini. Tujuannya, bagi wisman yang datang, tetap sedikit merasakan sensasinya.

“Ya mungkin semacam atraksi budaya apa saja yang digelar di lokasi yang sama. Sehingga Parigi ini bisa menjadi destinasi tujuan wisata baru,” ujar Kamal.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi masyarakat Banda yang melestarikan budaya ini. Apalagi, acara ini menjadi bagian rangkaian Pesta Rakyat Banda.

“Harus kita sadari bersama, kebudayaan itu bila makin dilestarikan maka akan makin menyejahterakan. Apabila ditambah event-event bagus, impact-nya pasti akan luar biasa,” ujar Menpar Arief Yahya.

Selain itu, Banda Neira juga terkenal dengan situs sejarah yang dapat dikunjungi wisatawan. Seperti Benteng Belgica, rumah pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, pemimpin kemerdekaan revolusioner.

“Kepulauan Banda juga terkenal dengan tempat diving dan snorkeling-nya, berkat air yang jernih, kehidupan laut yang melimpah dan terumbu karang yang indah,” papar Menpar Arief Yahya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *