Sebelum Menikmati Seba Baduy 2020, Yuk Mengenal Urang Kanekes Lebih Dekat

oleh -147 views

JAKARTA – Urang Kanekes jadi fenomena bahkan aset besar pariwisata. Masyarakat Baduy tersebut merupakan aktor utama yang memikat dalam Seba Baduy 2020, 29 April hingga 6 Mei. Sebab, mereka melakukan tradisi long march ratusan kilometer dalam Seba Baduy. Urang Kanekes juga tetap hidup sehari-hari dengan tradisinya, meski dihadapkan dengan deru modernisasi jaman.

Kehidupan tradisional Urang Kanekes selalu menarik untuk dieksplorasi. Selain adat, mereka juga patuh terhadap pemerintahan sebuah negara. Hal ini dibuktikan dengan upacara Seba yang digelar setahun sekali. Mereka menemui pemerintah daerah (Gubernur Banten) melalui Bupati Lebak sembari membawa hasil bumi (palawija, padi, dan buah).

“Urang Kanekes ini sangat luar biasa. Mereka patuh dan mengakui keberadaan pemerintah. Hal itu dilakukannya sejak jaman Kesultanan Banten hingga NKRI saat ini. Tradisi Seba tentunya akan terus berlangsung secara turun temurun. Dan, menikmati beragam tradisi mereka tentu menjadi experience yang sangat menarik,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati, Rabu (29/12).

Mengenal Urang Kanekes, mereka tinggal di Kaki Pegunungan Kendeng. Secara geografis masuk area Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Desa tersebut berada pada ketinggian 300-600 mdpl yang merupakan tanah vulkanik, endapan, dan campuran. Mengacu sensus penduduk 2010, populasi Urang Kanekes berjumlah 26 Ribu jiwa.

Konsep pemerintahan Urang Kanekes pun unik. Untuk sistem negara, Urang Kanekes diperintah oleh Jaro Pamarentah (Kepala Desa). Pada tataran adat, mereka dipimpin Pu’un atau Pimpinan Adat Kanekes. Dari aspek komunikasi, mereka menggunakan Bahasa Sunda. Meski demikian, mereka fasih memakai Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan masyarakat luar.

“Masyarakat Baduy sangat berwarna. Mereka luar biasa karena terus memegang aturan dan tradisi dari nenek moyang. Aturan-aturan itu tetap dipertahankan dan menjadi daya tarik bagi pariwisata. Untuk itu, silahkan berkunjung langsung ke sana. Pokoknya saat event Seba Baduy 2020, wisatawan harus mampir dan tinggal lama di desa mereka,” terang Eneng.

Secara umum Urang Kanekes terbagi dalam tiga kelompok besar. Ada Tangtu, Panamping, dan Dangka. Kelompok Tangtu biasa disebut sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam). Masyarakat di sini paling ketat memegang adat. Mereka tinggal di Kampung Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khasnya adalah memakai pakaian berwarna putih alami dan biru tua (warna tarum), lalu ikat kepala putih.

Mereka memiliki beberapa aturan baku. Sebjt saja, tidak diperkenankan menggunakan moda transportasi bermotor. Kelompok Tangtu juga tidak boleh memakai alas kaki hingga memakai beragam piranti elektronik. Untuk rumah, posisi pintu harus menghadap utara atau selatan. Selain warna, busana juga harus ditenun atau dijahit sendiri. Tidak diperbolehkan memakai busana modern.

“Beragam tradisi dan aturan adat menjadi keunikan tersendiri. Apalagi, mereka mematuhi dan menjalankannya secara utuh. Keunikan ini tentu bagus untuk konten media sosial, baik text, foto, atau video,” jelas Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelengggara Kegiatan (Event) Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Rizki Handayani.

Selain Tangtu yang ketat, keunikan juga dimiliki Panamping.Familiar sebagai Baduy/Kanekes Luar, mereka tinggal di Kampung Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lainnya. Ciri unik yang mudah dijumpai adalah pakain dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum). Secara adat, mereka adalah orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanakes Dalam.

Secara adat ada beberapa hal yang membuat mereka dikeluarkan dari Kanekes Dalam. Selain melanggar adat, mereka memang berkeinginan keluar dari Kanekes Dalam. Bisa saja mereka menikah dengan anggota Kanekes Luar. Ciri masyarakat Kanekes Luar adalah mengenal teknologi. Pembangunan rumahnya memakai alat bantu modern, hingga berpindah agama. Adapun Dangka tinggal di Kampung Padawaras dan Sirahdayeuh. Kampung ini berfungsi sebagai buffer zone atas pengaruh luar.

“Pembagian kelompok masyarakat Baduy menjadi sesuatu yang menarik. Wisatawan bisa melihatnya langsung dengan berkunjung ke sana. Mereka juga produktif dengan beragam hasil karya dan kerajinan tangan,” tutup Rizki.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *