Tari Gandrung Digandrungi Pengunjung NATAS 2019

oleh -554 views

SINGAPURA – NATAS Travel Fair 2019 jadi galeri bagi budaya Indonesia. Khasanah nusantara yang ditampilkan Tari Gandrung. Show-nya pun dilakukan setiap hari. Selain publik Singapura, sedikitnya 5 negara di Asia juga ikut mengagumi tarian khas Banyuwangi, Jawa Timur, tersebut.

Pameran NATAS Travel Fair 2019 semakin berwarna dengan kehadiran Tari Gandrung, 22-24 Februari. Meski hanya dibawakan 3 penari, tapi menyita perhatian pengunjung NATAS 2019. Sebab, gerak dan musiknya dinamis. Kostum yang dikenakannya juga unik dengan dominasi aksen merah. Tarian tersebut dibawakan oleh Yoseph Agus Kristian, Rita Daryuni, dan Mina Meylinda.

“Tari Gandrung sangat diminati di NATAS 2019. Para pengunjung tidak segan bertanya segala sesuatu terkait tarian ini. Dengan senang hati kami jelaskan semuanya. Mulai dari asalnya, aksesibilitas, hingga destinasi yang ada di Banyuwangi. Sebab, Tari Gandrung dari Banyuwangi,” ungkap Penari Gandrung Yoseph Agus Kristian, Minggu (24/2).

Disajikan di booth milik Indonesia di Hall 5, Singapore Expo, Singapura, tarian yang disajikan Gandrung Marsan. Durasi tariannya 8 menit dan hanya sekali show per hari. Imbasnya, para pengunjung langsung memadati booth Indonesia begitu Tari Gandrung akan tampil. Selain publik Singapura, pengunjung asal India, Tiongkok, Malaysia, Thailand, hingga Jepang juga ikut bergabung menikmati tarian ini.

“Antusiasme pengunjung selalu besar. Mereka selalu menunggu. Apalagi, begitu tahu kami sudah siap dengan kostum Tari Gandrung dan musik mulai diperdengarkan. Ada juga pengunjung dari Malaysia yang ikut menari sebelum pertunjukan. Untuk NATAS 2019, kami membawakan Tari Gandrung Marsan. Sebab, tarian ini sangat unik. Ada unsur centil, gagah, dan jenaka,” kata Yoseph lagi.

Mari mengenal Tari Gandrung. Secara harfiah, ‘Gandrung’ diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan terhadap Dewi Sri. Dewi Sri ini analogi Dewi Padi yang menjadi representasi kesejahteraan. Tarian ini sedikitnya punya 8 varian. Selain Gandrung Marsan, ada juga Jejer Gandrung, Paju Gandrung, Seblang Subuh, dan Seblang Lukinto. Varian lainnya, Gandrung Dor, Gama Gandrung, dan Jaripah.

“Tari Gandrung memiliki historis panjang. Semua aspeknya menarik. Tari Gandrung pun familiar. Tarian ini pernah ditampilkan dalam opening ceremony Asian Games 2018 di Jakarta. Respon positif publik di NATAS 2019 tentu sangat bagus bagi pariwisata Indonesia dan Banyuwangi pada khususnya,” terang Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Menampilkan Gandrung Marsan, tarian ini sangat khas. Sebab, ada bagian yang mewajibkan para penari mengenakan kumis. Kerap menjadi obyek penelitian, Gandrung Marsan menjadi penegas eksistensi Tari Gandrung Lanang. Mengacu sejarahnya, tarian ini dibawakan 9 penari pria yang mengenakan kostum gandrung wanita. Ada banyak karakter yang dibawakan dengan inspirasi figur Marsan.

Marsan merupakan penari Gandrung Lanang yang hidup pada era 1890. Nama Marsan waktu itu paling terkenal. Menariknya, Gandrung Marsan juga menjadi satu-satunya Tari Gandrung Lanang yang dibuat sejak 1914. “Ada banyak kajian dan penelitian yang diberikan untuk Tari Gandrung Marsan. Semuanya pun mengarah kepada Marsan. Figur yang menjadi pengembang tarian ini,” jelas Rizki lagi.

Selain kombinasi sejarahnya, penampilan Tari Gandrung makin unik dengan gerakannya. Secara umum, Tari Gandrung memiliki 3 bagian. Mulai dari Jejer, Ngibing (Maju), dan Seblang Subuh. Jejer menjadi pembuka seluruh pertunjukan Gandrung. Untuk Maju, para penari berinteraksi dengan penonton. Lalu, Seblang Subuh menjadi penutup rangkaian show Tari Gandrung.

“Tari Gandrung ini menjadi daya tarik di NATAS 2019. Pengunjung sangat mengagumi taran ini, apalagi kostumnya memang menarik. Kehadiran Tari Gandrung membuat publik NATAS 2019 mengenal lebih jauh Indonesia dan Banyuwangi. Bagaimanapaun, Indonesia memiliki alam dan budaya luar biasa,” kata Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati.

Kostum Tari Gandrung khas dengan pengaruh kuat Kerajaan Blambangan. Untuk bagian kepala, penari biasanya mengenakan Omprok atau Mahkota. Omprok terbuat dari kulit kerbau dengan ornamen emas dan merah. Ada karakter tokoh Antasena, putra dari Bima dalam pewayangan. Omprok juga diberikan cundhuk mentul, bahkan dipasangi hio untuk memberikan kesan magis.

“Kehadiran Tari Gandrung lengkap dengan kostumnya menjadi fenomena. Pengunjung terlihat antusias untuk melihat sampai menggali pengetahuannya. Kami yakin, begitu melihat betapa kayanya budaya di nusantara, pengunjung langsung mendatangi table untuk memastikan paket wisatanya,” jelas Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Area III Regional I Florida Pardosi.

Untuk baju, warna dasarnya adalah merah dengan ornamen kuning emas plus manik-manik. Pada sisi leher dipasang ilat-ilatan yang menutup dada. Lengannya dilengkapi kelat bahu, lalu pada pinggangnya memakai sembong. Untuk selendang ditempatkan di bahu. Untuk bawahannya, penari kerap memakai batik Gajah Oling lengkap dengan kaus kakinya.

“Tari Gandrung memang menarik dan Indonesia sangat kaya. Bila datang ke Indonesia, wisatawan bisa menikmati beragam seni dan budaya. Setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing. Experience akan lengkap karena alam di Indonesia sangat eksotis. Kondisi ini ditunjang dengan aksesibilitas dan amenitas yang bagus,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *