Tren Wisata Berubah, Kemenparekraf Gulirkan Program BISA di Jember

oleh -48 views

Jakarta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi (Kemenparekraf/Baparekraf) menggulirkan program Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) untuk kembali menggerakkan sektor pariwisata yang terdampak Covid-19. Program BISA digelar hampir di seluruh destinasi wisata. Kali ini giliran destinasi wisata Puncak Badean, Bangsal Sari, Kabupaten Jember, Jawa Timur yang menjadi fokus perhatian.

Deputi Bidang Kebijakan Strategis Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, R Kurleni Ukar memaparkan, pandemi Covid-19 tak dapat dipungkiri memberikan efek yang besar pada seluruh rantai nilai pariwisata. Sebagai sektor yang terdampak paling awal dan resiko penularan salah satu yang tertinggi, industri pariwisata Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penurunan kedatangan wisatawan dan okupansi hotel, perlambatan perjalanan domestik, penurunan konsumsi produk UMKM hingga pemangkasan lapangan pekerjaan. “Padahal selama ini pariwisata merupakan sektor padat karya yang menyerap lebih dari 13 juta pekerja. Angka itu belum termasuk dampak turunan atau multiplier effect yang mengikuti, termasuk industri turunan yang terbentuk di bawahnya,” papar Kurleni Ukar, Rabu (14/10/2020).

Ia melanjutkan, pada tahun ini diestimasikan terjadi penurunan wisatawan mancanegara yang berada pada kisaran angka 12-16 juta orang dan potensi devisa hilang mencapai 12-16 juta dollar. Menurut Kurleni Ukar, pariwisata merupakan salah satu sektor berdaya ungkit pemulihan ekonomi yang kuat karena memiliki kontribusi backward dan forward linkage yang luas ke sektor lainnya. Oleh karena itu, ia menilai agar dapat bertahan di masa pandemi ini, seluruh stakeholder industri pariwisata dan ekonomi kreatif perlu menyadari bahwa tren pariwisata dunia akan berubah. “Penerapan protokol kesehatan, tingkat adaptasi pada kenormalan baru dan utamanya faktor health and hygiene serta safety and security akan menjadi prioritas bagi wisatawan dalam menentukan tujuan berwisata,” papar dia.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan target Indonesia untuk meningkatkan ranking Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) pada 2020. Hasil TTCI 2019, Pariwisata Indonesia masih menempati peringkat ke-102 dalam kategori Health and Hygiene dan peringkat ke-80 dalam kategori Safety and Security dari 140 negara.

Di sisi lain, Direktur Pengendalian Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan Kabupaten Jember atas terselenggaranya program BISA yang direalisasikan selama dua hari yakni pada 14-15 Oktober 2020.

“Semoga kegiatan ini juga dapat menjadi titik awal bagi seluruh pemangku kepentingan untuk membangun sinergi yang lebih baik ke depannya,” harap Hassan Abud. Ia juga mengapresiasi para peserta yang berpartisipasi pada program BISA bergandengan tangan meningkatkan kebersihan, keindahan, kesehatan dan keamanan destinasi pariwisata untuk membangun kesiapan menjalani pariwisata produktif dan aman di era normal baru.

Di sisi lain, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk melaksanakan program semacam padat karya dalam upaya mitigasi dampak Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif diperlukan langkah-langkah yang cepat, tepat, fokus dan terpadu melalui sinergitas antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya. Dalam kerangka itu pula Deputi Bidang Kebijakan Strategis menginisiasi Gerakan Bersih, Indah, Sehat, dan Aman (BISA).

“Gerakan BISA ini bertujuan untuk memberdayakan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif serta masyarakat yang terdampak ekonominya. Gerakan ini diharapkan akan mendorong perbaikan indikator Health and Hygiene dan Safety and Security di lingkungan destinasi pariwisata untuk peningkatan peringkat TTCI,” ujar Hassan Abud.

Di akhir sambutan, Hassan Abud menilai penurunan tingkat penularan Covid-19 membutuhkan kesadaran dan komitmen dari seluruh pihak, baik pemerintah daerah, pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, hingga masyarakat umum. Upaya yang dilakukan tidak hanya sebatas menjalankan 3M; mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak sebagai kebiasaan baru dan wajib, namun juga pelaksanaan 3T; Testing, Tracing dan Treatment oleh pemerintah daerah. “Dengan demikian, daerah bisa menjadi zona hijau, menumbuhkan rasa safe and secure bagi wisatawan sehingga mereka akan berdatangan dengan sendirinya,” demikian Hassan Abud.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *