Tuan Kentang Hadir untuk Festival Sriwijaya dan Asian Games

oleh -1.641 views

SUARAJATIM.CO.ID– Dua event bergengsi digelar secara bersamaan di Palembang, Sumatera Selatan. Yaitu Festival Sriwijaya dan Asian Games 2018. Wisatawan dipastikan akan kota yang identik dengan kuliner Pempek ini. Palembang pun siap untuk dieksplorasi habis-habisan oleh para turis.

Salah satu sisi Kota Palembang yang harus dieksplor, berada tidak jauh dari Sungai Musi. Yaitu sebuah kampung yang isinya adalah perajin kain. Namanya kampung Tuan Kentang. Sejak awal tahun 2017, Pemerintah Kota Palembang bekerja sama dengan Bank Indonesia menjadikan kampung ini sebagai destinasi wisata baru. Dengan membangun sebuah galeri yang menampilkan kain-kain hasil karya penduduk setempat.

“Selain untuk meningkatkan perekonomian penduduk setempat, program binaan ini juga diharapkan dapat menaikkan rasa percaya diri para perajin kain sehingga level kain yang diciptakan pun menjadi naik. Dan menjadi destinasi wisata baru, terlebih ada terdapat Festival Sriwijaya dan Asian Games, Momentumnya tepat untuk promosi,” ujar Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional I Kementerian Pariwisata Masruroh di Palembang, Kamis (23/8).

Jika ditempuh dengan menggunakan motor atau mobil, dari Pusat Kota ke Griya Kain, hanya diperlukan waktu 15 – 20 menit. Galeri bernama Griya Kain Tuan Kentang tersebut, berada di Jalan Aiptu A. Wahab RT 27, Lorong HMM, Tuan Kentang, Seberang Ulu 1.

Kain-kain songket jumputan yang dijual di tempat ini merupakan hasil buatan dari warga. Biasanya, para produsen kain songket jumputan ini melakukan proses pembuatan kain di malam hari, dan mengumpulkan hasil kainnya ke Griya Kain Tuan Kentang untuk dijual kepada konsumen.

Perbedaan yang mencolok antara kain songket yang diproduksi di daerah Tangga Buntung, dengan kain songket yang diproduksi di daerah Sebrang Ulu I adalah kain yang diproduksi di daerah Tangga Buntung merupakan kain songket tenun, yang mana pada prosesnya, kain songket dibuat dengan cara menggabungkan benang secara memanjang dan melintang, dan menggunakan alat tenun yaitu Gedogan.

“Bagi wisatawan yang ke sini sangat cocok untuk dijadikan buah tanggan, Terlebih bagi wisatawan mancanegara seperti Malaysia, Singapura dan negara Asia Tenggara lainnya,” kata Masruroh.

Tidak jauh dari Benteng Kuto Besak tempat dihelatnya Festival Sriwijaya 2018. Ada juga Kampung Kapitan.

Dari segi fisik awalnya Kampung Kapitan adalah kelompok 15 bangunan rumah panggung milik etnis Tionghoa di masa kolonial Hindia Belanda tersebut. Namun saat ini peninggalan bangunan leluhur etnis Tionghoa yang tersisa hanyalah dua rumah panggung dari tiga bangunan rumah saja.

Nama Kampung Kapitan diambil dari pangkat Kapitan yang disematkan pemerintah kolonial pada Tjoa Ham Him. Pada masa itu, Kapitan Tjoa Ham Him mengabdi kepada Belanda dengan tugas memungut pajak dari warga lokal dan pengusaha Tionghoa. Ia juga mengerjakan tugas-tugas administratif lain.

Secara kultural, Kampung Kapitan merupakan simbol pembauran antara etnis Tionghoa, Melayu, dan Eropa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk rumah Kapitan yang merupakan perpaduan arsitektur ketiganya. “Ini menjadi destinasi yang disinggahi setelah Pulau Kemaro, terlebih bagi wisatawan asal Malaysia dan Singapura,” tambah wanita yang akrab di sapa Iyung itu.

Pada bagian pilar depan rumah yang berukuran asli 22 x 25 meter Kampung Kapitan terbuat dari beton berbentuk silinder yang bagian tengahnya menggelembung layaknya ciri khas bangunan Eropa. Lokasi Kampung Kapitan terletak di Jalan KH Azhari nomor 1839, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, atau berhadapan langsung ke Sungi Musi, Jembatan Ampera

Sedangkan bentuk bagian depan mengadopsi bentuk rumah limas khas Palembang atau Melayu. Namun, pada bagian tengah rumah terdapat ruang terbuka yang menjadi ciri khas bangunan Tiongkok. Ruang terbuka ini berfungsi mengatur sirkulasi udara dan cahaya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga langsung memberi respons positif, atas kesigapan destinasi wisata di Palembang. Menurutnya sebuah event atau festival akan menggairahkan dan membangkitkan kesenian dan kebudayaan lokal yang merupakan modal dasar pembangunan kepariwisataan.

“Moment Festival Sriwijaya ke-27 dan Asian Games 2018 di Palembang ini harus dimanfaatkan untuk melakukan promosi, baik oleh para pengusaha maupun destinasi wisata di Palembang,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *