We Love Bali Sambangi Keunikan Pesepeda Belanda di Pura Maduwe Karang

oleh -184 views

SINGARAJA – Usai menikmati wisata sejarah sekaligus bentang alam yang memanjakan mata di eks Pelabuhan Buleleng, 40 peserta kampanye We Love Bali Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) melanjutkan perjalanan ke spot wisata berikutnya bertema religi dan budaya di Pura Maduwe Karang.

Ya, Pura Maduwe Karang terletak di Desa Kubutambahan Kecamatan Kubutambahan dengan jarak 12 Km dari kota Singaraja ke arah timur. Pura Maduwe Karang memiliki areal seluas 6000 M². Secara historis berdasarkan kepercayaan umat Hindu khususnya masyarakat Desa Kubutambahan, Pura Maduwe Karang mempunyai arti dan makna yang sangat penting.

Diperoleh keterangan bahwa pendirian Pura Maduwe Karang ini berkaitan dengan perjalanan Rsi Markandya, dari Jawa ke Bali ( dalam rangka pembangunan Pura Besakih ). Diperkirakan bahwa Rsi Markandya datang ke Bali dengan 40 orang pengiring untuk mendirikan Pura Sanghyang Tiga yang terbuat dari Turus Lumbung, dengan pengemit/penjaga berupa seekor binatang yaitu macan dan sekaligus ke 40 orang pengiring tersebut menjadi pengamong pura. Akhirnya kira-kira tahun 1890 dibangunlah pura tersebut sampai selesai pada tahun 1895, yang kemudian diberi nama Pura Maduwe Karang.

Secara etimologi nama Pura Maduwe Karang terdiri dari dua suku kata, yaitu maduwe dan karang. Maduwe berarti mempunyai (dari kata duwe = punya + me) dan karang berarti tegalan. Jadi maduwe karang berarti mempunyai tanah atau tegalan. Sesuai namanya, maka pura ini erat kaitannya dengan orang-orang yang berkecimpung di bidang pengolahan tanah seperti lahan kering (tegalan) dan kebun (abian).
Pada tahun 1904 terjadi pemugaran di Pura Maduwe Karang dari 4 buah sekepat menjadi bebaturan. Pada tahun 1922 diperbarui lagi dengan bentuk yang lebih sempurna dan dirampungkan pada tahun 1935, dengan ciri adanya relief orang naik sepeda (yang konon menggambarkan W . O . J .

Nieuwenkamp, pelukis Belanda yang ikut memberikan sumbangan 25 ribu Gulden untuk pembangunan pura). Pada tahun 1981/1982 lebih disempurnakan dengan bangunan tembok/pagar dan sebuah bale lantang di jaba tengah, sehingga tampak lebih megah dan anggun seperti sekarang.

Menurut Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, berdasarkan ciri-ciri fisik dari patung dan ukiran di Pura Maduwe Karang menunjukkan keunikan dibandingkan daerah lainnya di Bali dan dianggap berciri khas Buleleng.

“Untuk memulihkan kondisi ini, sekaligus mengembalikan perekonomian masyarakat, Kemenparekraf/Baparekraf menggelar program We Love Bali, sekaligus memanfaatkan momentum akhir tahun 2020 dan meramaikan kembali pariwisata Bali mulai 2021,” ungkap Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, Senin (07/12/2020).

“Melalui We Love Bali, kita sekaligus memperkenalkan dan mengedukasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment friendly (ramah lingkungan),” tambahnya.

We Love Bali menjadi bukti komitmen besar Kemenparekraf/Baparekraf. Menaikan lagi branding-nya, eksplorasi masif digulirkan melalui ‘We Love Bali’. 10 Program Famtrip yang telah dilaksanakan selama selama 2 bulan terakhir kini memasuki penghujung dan dilaksanakan pada 6-8 Desember 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *