Wow, TIFAF 2019 Dimeriahkan 6 Delegasi Mancanegara

oleh -456 views

Kukar – Pembukaan Tenggarong International Folk Arts Festival (TIFAF) berlangsung meriah di Stadion Rondong Demang, Minggu (22/9). Selain tuan rumah, 6 negara turut meramaikan event ini. Antara lain Belanda, Thailand, Rusia, Srilanka, Rumania, dan Mesir.

Masing-masing delegasi tampil memukau dengan tarian khas negaranya. Tepuk tangan masyarakat dan sejumlah pejabat pun bergemuruh setiap kali tarian selesai dibawakan. Banyak orang berdecak kagum karena setiap tarian punya keunikan tersendiri.

Tampil sebagai pembuka yaitu delegasi dari Belanda. Berbeda dengan tim tari pada umumnya, mereka yang hadir justru para sesepuh atau orang-orang tua yang tergabung dalam Folkloristische Dansgroep. Meski tak lagi muda, namun gerakan mereka masih energik membawakan tarian Hellendoorn.

Delegasi kedua berasal dari Thailand. Mereka membawakan Lakhoon Lek atau pertunjukan wayang ala Negeri Gajah Putih yang mengangkat kisah Ramayana. Berbeda dengan wayang di Indonesia, karakter Lakhoon Lek adalah boneka, dimana masing-masing karakter dimainkan 3 orang. Satu orang memegang bagian kaki, satu orang memegang badan dan tangan kanan, sementara seorang lagi memegang tangan kiri sembari menjaga keselarasan gerak.

Delegasi ketiga dari Rusia. Dengan jumlah 12 laki-laki dan 14 perempuan, mereka tampil atraktif membawakan tari Molodicka. Yaitu tarian pernikahan yang berasal dari Kuban Cossacs, Rusia Selatan. Atraksi dan gerakan yang ditampilkan sangat dinamis, selaras dengan musik pengiring, sehingga membuat penonton terkesima.

Delegasi keempat dari Srilanka, menampilkan 25 peserta yang tergabung dalam Ranranga Dance Academy. Mereka membawakan Tari Pooja. Yaitu gabungan dari beberapa tarian budaya tradisional yang ada di Srilanka. Tujuannya adalah untuk mendapatkan berkah dari penonton.

Delegasi kelima dari Rumania. Mereka membawakan ensembel rakyat Cununa Apusenilor. Tujuan dari ensembel ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai otentik dari cerita rakyat Rumania. Sekaligus untuk melanjutkan tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat.

Mesir tampil sebagai delegasi keenam. Dengan jumlah peserta 12 orang, mereka tampil dengan sebuah tarian permainan pemuda-pemudi yang menggunakan tongkat. Gerakan-gerakan yang ditampilkan tetap identik dengan tarian khas Timur Tengah, begitu pun dengan musik pengiring.

Delegasi terakhir yakni tuan rumah Indonesia yang menampilkan beberapa tarian karya seniman-seniman lokal. Antara lain Tari Genjoh Mahakam yang dibawakan penari Yayasan Gubang, Tari Piring oleh Kelompok Seni Runtiq Bulau, Tari Udog Kiba oleh Kelompok Seni Bangen Tawai, dan Tari Hedoq oleh Kelompok Seni Dayak Modang.

Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah mengatakan, gelaran TIFAF 2019 diharapkan bisa menjadi ruang aktualisasi para seniman, baik lokal maupun mancanegara. Sekaligus memacu pergerakan dan perkembangan pariwisata budaya di daerah setempat.

“Tahun 2018, sekitar 1,7 wisatawan masuk ke Kutai Kartanegara. Jumlah tersebut tentu akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya jika sektor pariwisata didukung semua pihak. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga pengusaha, masyarakat, dan lain-lain,” ujarnya.

Sementara Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor menegaskan, TIFAF bukan semata-mata hanya untuk mendatangkan wisatawan. Terpenting dari semua itu, kesenian budaya dan adat istiadat harus dijaga dan dilestarikan.

“Banyak sekali seni tradisi yang berkembang di Kalimantan Timur. Ada budaya Kutai atau Melayu, ada pula budaya Dayak. Dayak sendiri bermacam-macam, dan semua harus kita pertahankan bersama dari gempuran budaya modern,” tegasnya.

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event (CoE) Kemenpar Esthy Reko Astuty mengaku sangat mengapresiasi delegasi-delegasi negara lain yang tetap datang di tengah isu bencana kebakaran hutan dan kabut asap yang menyelimuti wilayah Kalimantan. Termasuk kepada Pemkab Kutai Kartanegara yang mampu mengemas TIFAF 2019 dengan baik.

“Ini adalah salah satu event CoE terbaik. Secara umum, saya berharap Kaltim menjadi destinasi wisata yang mampu mendongkrak kunjungan wisatawan, khususnya mancanegara. Terlebih, Kaltim sudah ditetapkan sebagai lokasi ibukota negara yang baru. Ini harus menjadi tanggung jawab untuk melakukan pembenahan di segala bidang, termasuk pariwisata,” ungkapnya, diamini Tim CoE Kemenpar wilayah Kalimantan, Tazbir Abdullah.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani menambahkan, TIFAF 2019 bisa menjadi moment strategis untuk mengenalkan seni budaya lokal kepada wisatawan mancanegara. Minimal pada delegasi-delegasi negara lain yang hadir pada acara ini.

“Saya berharap Kaltim lebih memperbanyak event dengan skala nasional dan internasional, demi kemajuan sektor pariwisata. Sebab, pariwisata dan budaya adalah kekayaan yang tak pernah habis dimakan zaman. Justru akan semakin meningkatkan perekonomian jika terus digali dan dikembangkan,” paparnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, Indonesia memang kaya dengan seni budaya. Sebab, negara ini didiami banyak sekali etnis atau suku bangsa. Menurutnya, atraksi budaya selalu menarik untuk disimak. Bahkan, budaya menjadi salah satu magnet terkuat dalam mendatangkan wisatawan ke Indonesia.

“Atraksi budaya masih menjadi magnet terbesar untuk menarik wisatawan. Data yang ada, 60 persen wisatawan datang ke Indonesia karena budaya. Sisanya 35 persen karena alam, dan 5 persen karena faktor buatan. Seperti meeting, incentive, conference, danexhibition (MICE), wisata olahraga, dan hiburan,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *