Sosialisasi Program Kartu Tani Digencarkan di Sidoarjo

oleh -88 views

SIDOARJO – Kementerian Pertanian Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) menggulirkan program percepatan implementasi kartu tani khususnya Pulau Jawa dan Madura. Salah satunya di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang gencar melaksanakan sosialisasi implementasi kartu tani di kelompok tani di wilayahnya.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sosialisasi ini agar petani dapat mengetahui informasi tentang kartu tani dan manfaatnya.

“Kartu Tani nantinya sangat penting bagi kegiatan usahatani. Khususnya dalam penyaluran dan penerimaan pupuk bersubsidi,” ujar Mentan SYL, Jumat (9/10).

Mentan SYL berharap, petani dan insan pertanian lainnya mendukung perubahan pola pendistribusian bantuan dengan Kartu Tani. Tujuannya untuk mendistribusikan pupuk bersubsidi agar tepat sasaran.

“Sekarang ada perubahan pola distribusi agar bantuan yang diberikan pemerintah lebih efektif, lebih tepat kepada pihak yang memang membutuhkan, termasuk bantuan pupuk subsidi,” tambah Mentan SYL.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menegaskan, petani tidak perlu khawatir, karena distribusi pupuk subsidi tetap mengacu pada e-RDKK by name by address yang dilakukan Kementan.

Kartu tani berbasis e-RDKK berdasarkan nomor induk kependudukan (NIK) memberikan manfaat bagi pengendalian subsidi pupuk sehingga distribusi pupuk lebih terkontrol.

“Pola ini valid hingga 94%, dan tentu pendistribusian dengan Kartu Tani akan menyempurnakan pola tersebut,” jelas Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy menyampaikan, bagi petani yang belum mendapatkan kartu tani dapat mendaftar dengan membawa fotocopy KTP dan kartu keluarga ke Ketua Poktan masing-masing untuk selanjutnya diserahkan kepada Penyuluh Pertanian di BPP setempat dan dilakukan penginputan data.

“Dipastikan pula keanggotaan petani untuk masuk di e-RDKK agar dapat menebus pupuk bersubsidi,” tambah Sarwo Edhy.

Sebanyak 33 kelompok tani (Poktan) yang tersebar dalam 12 Desa dan 2 Kelurahan di Kabupaten Sidoarjo secara bertahap menerima sosialisasi dari penyuluh pertanian setempat mulai tanggal 20 – 30 September 2020.

Namun, Sarwo Edhy mengingatkan, dalam kondisi masih pandemi Covid-19, maka sosialisasi dibatasi perwakilan pengurus Poktan/Gapoktan beserta anggota kelompok sebanyak 10 orang masing-masing Desa/Kelurahan.

Selain manfaat tersebut, katanya, kartu tani juga dapat digunakan para petani untuk dapat mengajukan kredit usaha di lembaga perbankan dan keuangan yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Kartu tani digunakan untuk memverifikasi data para petani ketika melakukan pengajukan pinjaman kredit usaha.

“Sedangkan untuk hambatan dalam pertanian adalah masih adanya petani yang belum memiliki rekening bank. Faktor lainnya adalah ketersediaan mesin EDC di kios-kios pupuk dan terkendala mengenai persyaratan lainnya,” terang Sarwo Edhy.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo, Eni Rustianingsih mengaku pihaknya telah mendapat masukan maupun keluhan dari kelompok tani (poktan) di Kabupaten Sidoarjo terkait Kartu Tani. Ia tidak menafikan jika petani di Kabupaten Sidoarjo mayoritas pendatang dari luar kota dan menyewa lahan pertanian untuk bertani.

“Memang mayoritas begitu. Masukan kami tampung dan akan kami sampaikan kepada pemerintah (kementan),” jelasnya.

Eni menyadari petani di Kabupaten Sidoarjo memang berbeda dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Timur, misal Kabupaten Kediri, Ngawi maupun lainnya. Hal itu karena beberapa faktor, di antaranya letak geografis dan banyak pemilik lahan pertanian menyewakan kepada pihak lain.

“Jadi yang dilakukan proteksi (pendataan) harus lahan yang ditanami. Berapa luas lahannya itu yang dikalkulasi mendapat subsidi, kalau petaninya misal berubah-ubah kan lahannya tetap,” jelasnya.

Meski begitu, saat ini ada sebanyak 668 poktan se-Kabupaten Sidoarjo. Rata-rata 1 poktan membawahi 30-60 petani atau ada puluhan ribu petani di Sidoarjo. Sedangkan kartu tani yang telah distribusikan kepada petani hampir sepuluh ribuan.

“Namun kemarin ada 998 kartu tani yang dirijek (tolak) oleh pihak bank. Kartu Tani bagi petani lainnya terus turun secara bertahap dari pihak bank. Sedangkan, untuk kios pupuk sebanyak 79 kios se-Sidoarjo. Yang sudah ada mesin geseknya (EDC) sebanyak 50 kios, sedangkan sisanya belum ada,” paparnya.

Eni mencontohkan, di Kecamatan Porong kartu tani yang telah tersalur sebanyak 826 kartu atau 92%. Dalam sosialisasi juga disampaikan pendataan bagi petani yang kartu taninya hilang untuk dapat dibuatkan kartu tani instan oleh Bank BNI 46.

“Langkah cepat ini agar implementasi kartu tani di Kabupaten Sidoarjo khususnya dapat berjalan dengan lancar dan tidak menjadi hambatan bagi petani yang membutuhkan pupuk bersubsidi,” tambah Eni.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *