Menapak Indonesia Maju, Panggung Kreativitas Millenial

oleh -30 views

Penulis : Arius SM Hutahaean, M.H ( Anggota : Assosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) No. Reg : 19640926000284 )

Jakarta – Negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi dan ekonomi yang merata. Kebanyakan negara dengan GDP per kapita tinggi dianggap negara maju. Namun beberapa negara telah mencapai GDP tinggi dengan eksploitasi sumber daya alam  seperti  Brunei Darussalam  melalui pengambilan minyak bumi, tanpa mengembangkan industri yang beragam, dan ekonomi berdasarkan jasa, tidak dianggap negara maju (http://id.m.wikipedia.org).

Kalimat terakhir sangat meyakinkan  bahwa ukuran negara maju bukan pada seberapa banyak sumber daya alam yang dimilki dan dieksploitasi, tetapi seberapa banyak industri dan jasa yang dikembangkan.  Industri berkembang demikian pesat mulai dari industri rumah tangga, industri kecil, industri sedang, industri besar, industri berat, industri ringan, dan masih banyak lagi industri lainnya.

Seiring dengan pesatnya perkembangan industri, tantangan yang dihadapi saat ini adalah apa yang diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab, seorang ekonom asal Jerman dalam bukunya “The Fourth Industrial Revolution” atau Revolusi Industri 4.0. Dunia saat ini tengah mencermati, karena berjuta peluang tersedia, namun  berjuta tantangan  harus dihadapi masyarakat khususnya generasi Millenial.

Menapak indonesia maju, generasi Millenial harus berani menghadapi tantangan tersebut,  melangkah kedepan mengambil peluang dari dinamika perubahan yang demikian cepat dan terus menerus menuju yang lebih baik. Jangan lagi bergerak di tempat tetapi bergerak kedepan, pindah setapak demi setapak, atau melakukan lompatan tetapi terukur dan terencana sehingga hasilnya terlihat, dapat dirasakan dan dinikmati oleh seluruh masyarakat. Untuk itu dibutuhkan kreativitas yang otentik agar muncul terobosan baru, jangan lagi terjebak cara pandang konvensional yang teknokratik, prosedural, simbolik dan administratif untuk mengukur kemajuan.

Pada edisi sebelumnya di 6 (enam) situs online seperti www.liputan1.com, www.indonesiatravel.news, dan lain-lain, penulis memuat permasalahan peningkatan kreativitas generasi muda (Millenial) selaku pewaris budaya di 8 kabupaten dengan 5 etnis (Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pak-Pak) agar mampu memanfaatkan warisan budaya sebagai potensi ekonomi dan pembangunan. Permasalahan ini juga sekaligus sebagai representasi dari sekitar 63 juta Millenial di daerah-daerah di Indonesia.

Kreativitas adalah proses munculnya hasil-hasil baru kedalam tindakan. Hasil-hasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain, pengalaman maupun keadaan hidupnya (Rogers, Utami Munandar, 1992 ; 51).

Bagi generasi Millenial Indonesia yang demikian besar, bukan zamannya lagi mereka percaya pada iklan, brosur, atau perusahaan besar, tetapi lebih percaya pada hasil-hasil baru yang unik seperti “User Generated Content” yaitu sebuah konten dan informasi kreatif  yang dibuat oleh perorangan.

Hal itu dikarenakan pada sebuah situs penjualan, terdapat kolom komentar netizen yang menjadi kekuatan paling besar untuk pemasaran. Ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak kreativitas, tetapi bisa dibayangkan apabila generasi Millenial yang ada di sekitar Danau Toba kreatif membuat situs menarik tentang warisan budayanya, atau Millenial di daerah masing-masing, tentu menjadi potensi besar perekonomian dan Pembangunan.

Perekonomian negara-negara maju saat ini ada pada masyarakat kreatif yang sangat dipengaruhi oleh generasi Millenial, karena dapat meningkatkan kesejahteraan suatu negara secara keseluruhan serta bertahan walaupun krisis melanda dunia.

Bagaimana aransemen Panggung Kreativitas Millenial, tentu membutuhkan improvisasi di semua lini birokrasi dan generasi agar dapat menampilkan konser yang bergema di seantero dunia hingga mendatangkan wisatawan mengisi pundi pundi negeri.

Para pemeran utama, pemeran pendukung, dan pemeran pengganti, baik orang maupun kelompok yang tergabung dalam pentahelix atau stakeholders, dari berbagai golongan mulai akar rumput hingga papan atas yang tersebar di seluruh pelosok negeri dengan syair dan nada yang selama ini masih warna warni, kini saatnya dirajut dan dirangkai agar senada seirama mempertontonkan panggung kreativitas Millenial.

Di era kabinet Indonesia Maju ini kreativitas harus dilakukan secara masif agar sejalan dengan  pembangunan infrastuktur yang masif.  Tidak melulu mengembangkan kreativitas yang sudah ada di masyarakat umum selama ini, tetapi harus dimulai dari yang paling dasar dan belum tergali yaitu talenta atau bakat masyarakat khususnya generasi Millenial, yang dapat dilakukan melalui kompetisi/pamer bakat kreatif di seluruh Kabupaten sekitar Danau Toba dan daerah lain di Indonesia, sehingga mau dan mampu mengembangkan kearifan lokal seperti seni tenun kain ulos, seni tari tor-tor, seni ukir/pahat (gorga), seni suara, seni lukis, dan lain-lain yang lebih inovatif dan menarik,  bernilai jual dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *