Menpar Jadikan JFC Acuan Penyelenggaraan Event di Indonesia

oleh -637 views

SUARAJATIM.CO.ID, JAKARTA – Memiliki sederet penghargaan, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menjadikan Jember Fashion Carnival (JFC) tolok ukur pelaksanaan event-event di Indonesia. Bulan depan pihaknya akan menggelar coaching clinic di berbagai provinsi untuk para penyelegara event.

Landasan Menpar, adalah keberhasilan karnaval di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menduduki peringkat pertama sebagai karnaval terbaik di Asia dan karnaval terbaik ke 3 di Dunia setelah Rio Carnival di Brazil, dan Pasadena Flower Carnival di Los Angeles Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan Menpar Arief Yahya dalam Launching Jember Fashion Carnival (JFC) 2019 bersama Presiden JFC Dynand Fariz dan Wakil Bupati Jember A. Muqit Arief, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (26/2).

“JFC sudah tiga kali berturut-turut masuk dalam Top 10 dari 100 Calender of Event (CoE) Nasional. Semua yang bagus-bagus ada di JFC. Saya harap JFC bisa jadi strandart penyelenggaran event di Indonesia. Penyelengaraan JFC sangat menginspirasi banyak karnaval di Tanah Air,” kata Menpar Arief Yahya.

Untuk memiliki standar penyelenggaraan nasional, Menpar Arief menetapkan setiap CoE harus memiliki standar 5 C (Creative Value, Comercial Value, Comminication Value, CEO Commitments).

Dari sisi creative value, lanjut Menpar Arief, setiap event harus memiliki fashion, musik, dan koreografi yang bagus. Untuk commercial value sendiri, setiap kegiatan harus memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Dengan kata lain mensejahterakan.

Selanjutnya adalah communication value yang juga dianggap sangat penting, karena promosinya menjadi indikator kesuksesan suatu event. Caranya dengan menganggarkan biaya untuk produksi sebesar 50 persen dan 50 persen lainnya untuk promosi, dan yang paling penting promosi pre event.

Berikutnya adalah cameragenic karena hal itu berkaitan dengan media value. Sebab Inbound 50 persen adalah mileneial. Caranya dengan menyediakan spot foto yang terbaik saat event berlangsung.

“Serta pemenfaatan panggung yang sangat baik. Contoh Asian Games 80 x 100 meter, di atas panggung itu, jangan hanya atraksi penari saja. Tapi juga harus di Imbangi dengan formasi yang bagus. Sehingga membuat enak di liat dari kamera,” katanya.

Untuk ‘C’ selanjutnya, kata Menpar, yaitu CEO comitment atau komitmen kepala daerah. Dan Terakhir adalah consistency, ada atau tidak adanya pempinan event tersebut harus tetap berjalan karena sudah dipromosikan sejak awal

“Bila pemimpinnya memiliki komitmen maka indeks kebahagiaan dan pendapatan tinggi kota tersebut tinggi. Semua event harus konsisten menggunakan standar ini,” kata Menpar.

Untuk mewujudkan CoE yang memiliki standar 5C, Menpar meminta diadakan pelatihan kepada setiap provinsi dan event organiser.

“Bulan depan, saya minta Kemenpar untuk mengadakan coaching clinic yang melibatkan perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia dan semua EO yang membuat event. Agar standar 5C dapat segera diaplikasikan,” katnaya.

Dikesempatan yang sama, Presiden JFC Dynand Fariz mengucapkan terimakasih atas dukungan Menpar sehingga menjadikan JFC sebagai pionir karnaval modern di Indonesia.

Tahun ini, JFC 31 Juli – 4 Agustus 2019 dengan tema Tribal Grandeur dan diikuti hingga 6000 peserta.

“Kreativitas JFC sudah layak dijadikan magnet untuk mendatangkan wisman, tetapi dari commercial value atau financial value masih belum terlalu menarik karena belum bisa dikapitalisasi dengan baik. Dengan ditetapkan sebagai Kota Karnaval berkelas dunia,” ujarnya.

Wakil Bupati Jember A. Muqit Arief juga mengapresiasi JFC yang mampu menyaingi karnaval internasional di Rio de Janeiro dan Pasadena. Setiap JFC diselenggarakan pihaknya sangat kewalahan. Tidak hanya rumah warga dijadikan homestay, bahkan kabupaten lain ikut menampung tamu-tamu JFC.

“Saya berterimakasih kepada Menpar yang mampu memfasilitasi event JFC dan pariwisata Jember,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *