Proyek IPDMIP Beri Dampak Positif buat Petani di Pesawaran

oleh -119 views
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

SUARAJATIM.CO.ID//PESAWARAN – Petani di Pesawaran merasakan manfaat dari kegiatan Sekolah Lapang (SL) proyek Integrated Participatory Development Management Irrigation Program (IPDMIP). Bukan hanya meningkatkan produksinya, petani pun bisa menghidupi keluarganya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berharap petani dan penyuluh bisa menyerap ilmu yang diberikan dalam Sekolah Lapang IPDMIP.

“Salah satu tujuan dari sekolah lapang IPDMIP adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk itu, petani dan penyuluh yang mengikuti kegiatan ini harus bisa mengimplementasikannya di lahan persawahan, agar produksi terus meningkat,” ujarnya, Sabtu (08/08/2020).

Apresiasi disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi.

“Pertanian itu tidak pernah merugi. Kalau sampai rugi, itu karena salah manajemennya. Dan dengan kegiatan IPDMIP, petani-petani yang ada di sekitar daerah irigasi bisa terbantu produksinya yang ujung-ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, kita berharap program ini diikuti dengan serius,” katanya.

Keuntungan Sekolah Lapang IPDMIP dirasakan Ketua Kelompok Tani Sepakat Dua, Mahfuz, di Desa Kota Dalom Daerah Irigasi (DI) Padang Ratu II Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran. Suami dari Hernani ini mengaku tidak pernah terbayang jika dirinya akan banyak dikunjungi petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Pesawaran terkait program Sekolah Lapang (SL).

Mahfuz adalah lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Kota Metro, Lampung, tahun 1986. Sejak tamat pendidikan, beliau mengabdikan dirinya menjadi tenaga pendidik dengan status Honorer pada beberapa SD dan SMP di Kecamatan Way Lima, sebagai guru mata pelajaran IPS dan Matematika. Pekerjaan ini dilakoni sampai tahun 1995 dan harus berhenti karena tidak kunjung diangkat menjadi ASN.

Bapak dari Deni Aprian, Spd (29), Ery Desamala, S. Kep, Ners (26), dan Tamami yang masih kuliah, mengisahkan bahwa beliau diserahi oleh ibunya untuk mengurus sawah yang sudah digarap sejak sang Bapak meninggal dunia tahun 1986. Saat itu, sawah masih diurus seadanya saja seperti petani kebanyakan.

Mahfuz mulai serius menggarap pertanian karena dituntut memenuhi kebutuhan kuliah kedua anaknya. Salah satu langkah yang diambil adalah meminjam uang kepada juragan penampung gabah di daerahnya. Berkat kerja kerasnya hutang tersebut dalam hitungan sekali panen saja sudah lunas beliau bayar. Hal ini juga yang membuat Mahfuz akhirnya serius menjadi petani.

Mahfuz yang juga berprofesi sebagai penyuluh swadaya pada komunitas petani di Kecamatan Way Lima ini, membagi tips bagaimana agar sukses seperti yang dialaminya saat ini, selain kemauan yang harus kuat dan keuletan, petani juga harus berani dengan belajar hitung-hitungan yang matang.

“Aslinya lahan saya warisan orang tua cuma 0,5 hektare (ha), sisanya 1 (ha) lebih yang saya sewa dan kontrak dari petani lain yang kebetulan hendak menyewakan lahannya,” terang Mahfuz.

Dari hasil pekerjaannya ini, beliau bisa menyekolahkan dua anaknya sampai jenjang sarjana dan yang ketiga saat ini masih kuliah, membangun rumah gedung, dan membeli kendaraan roda dua dan roda empat.

Mahfuz mengakui bahwa peningkatan hasil dari lahan yang dimilikinya secara signifikan dirasakannya sejak ada program Sekolah Lapang (SL) dari program IPDMIP melalui dinas Pertanian Kabupaten Pesawaran sejak tahun 2018 lalu.

Melalui SL beliau diajari bukan hanya bercocok tanam tetapi juga penaggulangan hama, dan hitung-hitungan pertanian.

Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Satibi, salah satu anggota Kelompok Tani Sepakat Dua dan Supriyanto PPL Kecamatan Way Lima. Menurut mereka, Sekolah Lapang(SL) sangat membantu dan bermanfaat bagi petani. Supri mengharapkan agar program ini terus laksanakan tanpa putus dalam setiap tahunnya.(EZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *