Sore di Pantai Santen Banyuwangi selalu punya cara sendiri buat bikin orang betah berlama lama. Angin laut datang pelan, suara anak kecil ketawa kejar kejaran di pasir, bapak ibu duduk santai di bawah pohon sambil ngopi dan makan jajanan ringan. Di kejauhan, tampak Pulau Bali samar samar seolah jadi latar belakang alami. Dari pemandangan itu, satu hal langsung kelihatan jelas, pengunjung pria dan wanita bercampur biasa saja. Tidak ada garis pembatas, tidak ada pagar, tidak ada papan pemisah.
Beberapa tahun lalu, pantai ini sempat ramai diperbincangkan karena dibilang ada pemisahan pengunjung laki laki dan perempuan. Isu itu berkembang liar sampai dibawa ke ranah lebih besar, disebut sebagai bagian dari arabisasi, dan menimbulkan perdebatan panjang di media sosial. Padahal, kalau lihat kondisi sekarang, suasana Pantai Santen terasa cair dan santai, sama seperti pantai wisata keluarga pada umumnya.
Riuh Isu Pemisahan di Pantai Santen
Sebelum suasana santai seperti hari ini, Pantai Santen pernah jadi bahan perbincangan nasional. Di media sosial, beredar tulisan dan foto yang menggambarkan pantai ini seolah memisahkan kunjungan pria dan wanita secara ketat. Narasinya digiring seakan ada upaya mengubah wajah Banyuwangi menjadi serba kearab araban.
Isu itu kemudian melebar ke mana mana. Ada yang menuduh konsep wisata halal di Banyuwangi terlalu berlebihan. Ada yang menilai kebijakan pemisahan pengunjung bukan lagi soal pengelolaan wisata, tapi sudah menyentuh urusan identitas budaya. Di tengah riuh komentar warganet, nama Pantai Santen pun makin sering disebut, bukan karena keindahan sunrise atau tampilan lautnya, tapi karena kontroversi yang menyertainya.
Padahal, kalau menelusuri ulang cerita di lapangan, kondisi Pantai Santen tidak sesederhana apa yang digambarkan dalam tulisan viral di dunia maya. Banyak bagian yang terpotong, banyak konteks yang hilang, dan akhirnya menimbulkan kesan seolah ada aturan resmi yang mengikat pengunjung berdasarkan jenis kelamin.
Berawal dari Sebuah Papan di Tepi Pantai
Kisah yang kemudian ramai itu rupanya berawal dari satu papan petunjuk di area pantai. Papan tersebut menuliskan pembagian area pengunjung pria dan wanita. Di satu sisi, papan itu dilihat sebagai gimmick pemasaran yang ingin menonjolkan konsep wisata ramah keluarga muslim. Di sisi lain, foto papan itu kemudian dipotret, diunggah, lalu dibawa ke luar dari konteks lokalnya dan dipahami dengan sudut pandang yang berbeda.
Dalam tempo cepat, gambar papan pemisahan tersebut tersebar di berbagai platform. Narasi yang mengikuti foto itu tidak lagi sekadar menjelaskan situasi di Pantai Santen, melainkan mengaitkannya dengan isu lebih besar. Dari situ, persepsi banyak orang terbentuk. Padahal, papan itu sendiri sudah lama diturunkan, sementara diskusi di dunia maya baru benar benar memuncak setelah momen itu lewat beberapa tahun.
Dari Wisata Halal ke Tuduhan Arabisasi
Awalnya, konsep wisata halal di Pantai Santen dimaknai sebagai upaya menangkap segmen wisatawan tertentu yang membutuhkan suasana lebih terjaga, misalnya keluarga yang ingin suasana pantai lebih tenang dan tertata. Namun ketika istilah wisata halal bertemu dengan tuduhan arabisasi, framing nya berubah total.
Penjelasan dari pihak daerah sebenarnya cukup jelas. Mereka menegaskan tidak ada aturan resmi yang menyebut pemisahan pria dan wanita sebagai kewajiban di Pantai Santen. Tidak ada peraturan daerah yang mengatur hal itu. Tidak ada sosialisasi yang mensyaratkan pantai ini sebagai kawasan syariah dengan aturan ketat. Sayangnya, penjelasan seperti ini sering kalah cepat dibandingkan kecepatan sebuah unggahan viral yang penuh opini dan emosi.

Klarifikasi Pemerintah Daerah tentang Pantai Santen
Di tengah memanasnya perdebatan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akhirnya buka suara secara tegas. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda, menjelaskan bahwa pemkab tidak pernah mengeluarkan kebijakan resmi tentang pemisahan pengunjung pria dan wanita di Pantai Santen. Jika pun dulu sempat ada papan pemisah, itu hanya bagian dari strategi promosi yang sifatnya sementara.
Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa papan pemisah tersebut sudah lama dicabut. Sejak tahun dua ribu tujuh belas, papan itu sudah tidak ada lagi di area pantai. Artinya, ketika isu ini kembali diangkat dan diperdebatkan pada dua ribu sembilan belas, situasi lapangan sebenarnya sudah berbeda jauh dengan narasi yang beredar di dunia maya.
Menurutnya, Banyuwangi justru berjuang mati matian untuk mengembangkan pariwisata dengan cara yang sehat. Kota ini ingin dikenal sebagai daerah yang terbuka, kreatif, dan ramah terhadap berbagai kalangan. Karena itu, ia menyayangkan ketika usaha panjang mengangkat pariwisata daerah malah dipotong pendek menjadi cerita soal pemisahan gender dan arabisasi.
Gimmick Marketing saat Raja Salman Berlibur di Bali
Salah satu bagian penting dari klarifikasi pemerintah adalah soal latar belakang pemasangan papan pemisah itu sendiri. Bramuda menjelaskan, momen itu terkait langsung dengan kunjungan Raja Arab Saudi, Raja Salman, ke Bali pada tahun dua ribu tujuh belas. Saat itu, dunia pariwisata Indonesia sedang ramai membahas peluang mendatangkan wisatawan dari Timur Tengah.
Banyuwangi melihat peluang besar itu, apalagi secara geografis posisinya tidak jauh dari Bali. Pantai Santen pun ikut diberi sentuhan konsep wisata halal untuk menarik perhatian segmen wisatawan keluarga muslim yang daya belanjanya cukup besar. Di titik itulah papan pemisah dipasang sebagai bentuk gimmick pemasaran yang ingin menunjukkan sisi unik pantai ini.
Setelah momen kunjungan Raja Salman berlalu, promosi besar besaran Pantai Santen dengan label syariah juga perlahan berhenti. Papan pemisah tidak lagi dipertahankan, pengelolaan pantai diserahkan kembali ke pihak pemilik lahan, dan kegiatan wisata berjalan seperti biasa. Tidak ada lagi pemisahan area secara resmi, tidak ada regulasi yang mengikat pengunjung berdasarkan jenis kelamin.
Tidak Ada Aturan Resmi tentang Pemisahan
Hal lain yang berulang kali ditekankan pemerintah daerah adalah ketiadaan aturan tertulis. Tidak ada peraturan bupati, tidak ada peraturan daerah, tidak ada surat keputusan yang menyebut bahwa Pantai Santen adalah pantai khusus dengan pemisahan permanen antara pria dan wanita. Semua yang pernah terjadi hanyalah strategi komunikasi pemasaran yang hidup dalam kurun waktu tertentu lalu selesai.
Kenyataan di lapangan pun menguatkan pernyataan tersebut. Wisatawan yang datang bisa melihat sendiri bagaimana pengunjung bercampur biasa saja. Keluarga yang datang ramai ramai, anak muda yang duduk di pinggir pantai sambil foto foto, rombongan ibu ibu yang asyik menggelar tikar dan makan bersama, semua menyatu tanpa sekat yang memisahkan mereka berdasarkan gender.
Suasana Terkini di Pantai Santen
Kalau datang ke Pantai Santen sekarang, kesan pertama yang terasa adalah suasana santai khas kampung nelayan yang pelan pelan bertransformasi jadi kawasan wisata. Dari area parkir, pengunjung akan melewati deretan warung yang menjual aneka makanan ringan, kelapa muda, sampai kopi panas. Seiring langkah mendekati pantai, suara obrolan bercampur dengan debur ombak dan sesekali tawa anak anak yang berlarian.
Pengunjung pria dan wanita duduk berdampingan di gazebo, di tepi pasir, bahkan di kursi plastik sederhana yang disusun di area warung. Ada pasangan suami istri yang mengawasi anak mereka bermain air. Ada kelompok remaja yang sibuk mengatur angle foto dengan latar laut dan kontur Pulau Bali di kejauhan. Tidak tampak garis pemisah, baik secara fisik maupun sosial.
Bagi warga lokal, suasana bercampur seperti ini bukan hal aneh. Dari dulu, pantai memang jadi tempat berkumpul bersama keluarga. Isu pemisahan yang sempat ramai di media sosial terasa jauh dari keseharian mereka. Di lapangan, mereka lebih memikirkan cuaca hari itu, hasil tangkapan ikan, dan berapa banyak pembeli yang datang ke warung.
Momen Sore yang Paling Dinanti
Salah satu jam paling ramai di Pantai Santen adalah menjelang sore. Saat matahari mulai turun, langit berubah pelan pelan jadi jingga. Orang orang datang dari berbagai penjuru, ada yang naik motor bersama keluarga, ada yang datang bergerombol memakai mobil kecil, ada juga yang jalan kaki dari kampung sekitar.
Di waktu seperti ini, pantai berubah jadi ruang publik terbuka yang menyatukan berbagai kalangan. Anak sekolah yang baru pulang, pekerja yang ingin melepas penat, pedagang yang siap melayani pengunjung, sampai pasangan muda yang sedang pacaran dengan cara sederhana. Semua menyatu dalam satu ruang yang sama.
Di sela sela suara ombak, obrolan ringan terdengar di mana mana. Ada yang membahas harga cabai, ada yang cerita soal pekerjaan, ada juga yang baru pertama kali datang dan sibuk bertanya mana spot foto yang paling bagus. Kalau duduk diam sebentar saja di satu titik, kita bisa merasakan bagaimana pantai ini sebenarnya lebih kuat sebagai ruang temu sosial ketimbang simbol perdebatan politik identitas.
Cerita dari Pengunjung yang Datang Kembali
Tidak sedikit pengunjung yang datang ke Pantai Santen setelah sebelumnya hanya mengenalnya dari berita di gawai. Mereka penasaran, seperti apa sih pantai yang sempat ramai disebut sebut punya pemisahan pria dan wanita ini. Begitu sampai, banyak yang kaget karena suasananya ternyata jauh lebih santai dari bayangan.
Ada orang yang bilang, “Dari berita kok rasanya tegang sekali, ternyata ya kaya pantai keluarga biasa.” Ada yang komentar, “Kalau cuma lihat di media sosial saja, bisa salah paham. Ternyata aslinya orang di sini ya nyantai.” Kalimat kalimat seperti ini sering terdengar di sela obrolan pengunjung ketika mereka menyadari perbedaan antara narasi dunia maya dan kenyataan di lapangan.
Pengalaman seperti itu pelan pelan membentuk cerita baru. Bukan lagi Pantai Santen sebagai pantai pemisahan, tapi Pantai Santen sebagai pantai keluarga dengan latar Pulau Bali yang cantik, dengan pilihan jajanan murah meriah, dan suasana lokal yang ramah.

Wisata Halal yang Sering Disalahpahami
Di sisi lain, kisah Pantai Santen juga membuka obrolan yang lebih luas tentang apa itu wisata halal. Tidak sedikit orang yang mengira wisata halal identik dengan pemisahan ketat antara pria dan wanita atau aturan serba terbatas. Padahal, menurut pelaku industri pariwisata, wisata halal lebih banyak berkaitan dengan ketersediaan fasilitas yang ramah bagi wisatawan muslim, seperti makanan yang jelas kehalalannya, tempat ibadah yang mudah diakses, dan suasana yang mendukung keluarga.
Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Indonesia, misalnya, pernah menyebut bahwa wisata halal itu lebih ke arah layanan tambahan yang memenuhi kebutuhan segmen tertentu, bukan konsep yang otomatis memisahkan pengunjung berdasarkan gender. Ia menekankan pentingnya pengembangan aspek atraksi, amenitas, dan aksesibilitas, yang sebenarnya menjadi fondasi pariwisata secara umum, tidak hanya di destinasi yang memakai label halal.
Dalam konteks Pantai Santen, konsep yang dulu sempat muncul sebenarnya ingin memperbaiki citra pantai yang sebelumnya dianggap kurang terawat. Dengan mengangkat tema wisata keluarga yang ramah, pengelola berharap pantai ini berubah jadi tempat yang lebih bersih, rapi, dan layak dikunjungi. Namun ketika label wisata halal bertemu dengan narasi arabisasi, fokus pembicaraan bergeser dari upaya penataan menjadi perdebatan identitas.
Antara Persepsi Online dan Realita di Lapangan
Kasus Pantai Santen menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk persepsi publik. Satu foto, satu tulisan opini, bisa mengalahkan observasi langsung di lapangan yang mungkin jauh lebih kompleks. Ketika sebuah gambar papan pemisah diangkat sebagai bukti tunggal dan dipisahkan dari konteks waktu dan kebijakan, kesimpulan yang muncul pun ikut melompat.
Di lapangan, realita jauh lebih cair dan berlapis. Ada warga lokal yang sekadar ingin tempat dagangannya ramai. Ada keluarga yang hanya ingin ajak anak main pasir. Ada anak muda yang mencari spot estetik untuk foto. Ada nelayan yang tetap melaut seperti biasa. Semua aktivitas ini berjalan berdampingan, tanpa harus selalu terseret ke dalam perdebatan politik identitas yang panas di ruang digital.
Bagi banyak pengunjung, hal yang paling penting bukan soal label, tapi soal pengalaman. Apakah pantainya bersih. Apakah harga makanan di warung masih terjangkau. Apakah tempat parkir aman. Apakah anak anak bisa bermain dengan leluasa. Hal hal seperti ini yang lebih menentukan apakah seseorang akan kembali lagi ke Pantai Santen atau memilih destinasi lain.
Wajah Baru Pantai Santen sebagai Ruang Publik
Sekarang, ketika nama Pantai Santen kembali lebih sering disebut dalam konteks wisata, bukan lagi kontroversi, perlahan pelan pelan tampak wajah baru pantai ini. Area pantai lebih tertata, pedagang mulai rapi, dan beberapa sudut pantai mulai dihias agar lebih menarik di foto. Upaya pembenahan ini berjalan seiring dengan menguatnya posisi Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.
Pengelolaan pantai sendiri kini berada di tangan pemilik lahan bersama pihak terkait, sementara pemerintah daerah fokus pada dukungan di bidang infrastruktur dan promosi. Tidak ada lagi kebijakan yang menjadikan Pantai Santen sebagai proyek besar wisata syariah seperti yang dibayangkan banyak orang. Justru yang lebih terasa adalah semangat mengembalikan pantai ini sebagai ruang publik yang ramah untuk siapa saja.
Buat warga sekitar, pantai ini punya peran penting dalam perputaran ekonomi lokal. Warung warung kecil mendapat pemasukan dari pengunjung yang datang, penyewa pelampung dan ban mendapat pelanggan, tukang parkir kebagian rezeki, sampai pedagang keliling pun ikut merasakan. Selama orang datang dan merasa nyaman, perputaran ekonomi itu akan terus berjalan.
Pantai Santen sebagai Tempat Bertemu, Bukan Memisah
Kalau dulu Pantai Santen sempat dilabeli sebagai pantai yang memisahkan, wajah terkini pantai ini justru menunjukkan fungsi sebaliknya. Di sini, orang orang berkumpul dan saling bertemu. Tetangga yang lama tidak jumpa bisa ketemu lagi di tepi pantai. Teman lama yang kerja di luar kota bisa janjian reuni sambil menyaksikan matahari naik atau turun.
Pantai ini juga sering jadi arena kegiatan komunitas, mulai dari acara olahraga santai sampai kegiatan sosial. Aktivitas seperti ini secara perlahan menegaskan bahwa fungsi utama pantai sebagai ruang publik cuma bisa berjalan kalau orang bebas bercampur dan berinteraksi. Di titik ini, narasi pemisahan terasa semakin tidak cocok dengan kenyataan sehari hari.
Di mata pengunjung luar daerah, Pantai Santen menawarkan kombinasi yang unik. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Banyuwangi, aksesnya cukup mudah, dan bonus pemandangan Pulau Bali di seberang laut menambah nilai tersendiri. Ketika mereka pulang, yang dibawa bukan lagi cerita soal papan pemisah pria wanita, tapi foto foto bersama keluarga dan rasa rindu untuk kembali menikmati suasana santai di tepi pantai.
Menyimak Pantai yang Kini Lebih Tenang
Kalau suatu hari kamu berdiri di tepian Pantai Santen saat cuaca cerah, coba perhatikan sekeliling pelan pelan. Di sebelah kiri mungkin ada rombongan keluarga yang baru datang dan sibuk menggelar tikar. Di sebelah kanan, sekelompok remaja sibuk memilih filter foto. Di depan, anak anak berlari mendekati air lalu mundur lagi begitu ombak datang.
Di tengah keramaian itu, susah rasanya membayangkan pantai ini sekaku gambaran yang pernah beredar di media sosial. Tidak ada garis tegas yang memisahkan. Tidak ada penjaga yang mengatur siapa harus berada di mana. Yang ada hanya kesepakatan tidak tertulis untuk saling menghargai ruang masing masing, seperti umumnya budaya di banyak pantai wisata di Indonesia.
Pantai Santen hari ini lebih pantas dilihat sebagai contoh bagaimana sebuah tempat bisa punya banyak wajah dalam waktu berbeda. Pernah menjadi bahan promosi wisata, sempat diseret ke dalam arus perdebatan identitas, lalu pelan pelan kembali ke fungsi awalnya sebagai ruang bersama tempat orang orang datang untuk mencari angin segar, ketenangan, dan momen kecil yang menyenangkan bersama orang terdekat.