Wacana Madura jadi provinsi sendiri bukan barang baru. Hampir setiap beberapa tahun sekali, isu ini muncul lagi dan selalu bikin ramai. Apalagi ketika tokoh seperti Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur waktu itu, La Nyalla Mahmud Mattalitti, ikut bicara dan menyebut sudah saatnya Madura berdiri sebagai provinsi tersendiri.
Di satu sisi ada semangat agar Pulau Garam tidak terus tertinggal dalam urusan pembangunan. Di sisi lain, ada kekhawatiran pemekaran cuma ganti papan nama tanpa benar benar menyentuh persoalan dasar warga. Di tengah tarik menarik itulah dukungan Pemuda Pancasila Jatim jadi menarik dibahas, karena mereka menempatkan isu Provinsi Madura bukan cuma sebagai obrolan politik, tapi juga sebagai jalan mencari keadilan pembangunan.
Gema Tuntutan Dari Madura untuk Berdiri Sendiri
Wacana pemekaran Provinsi Madura sebenarnya sudah lama mondar mandir di meja diskusi politisi, aktivis, sampai tokoh ormas. Bukan hanya suara warga di akar rumput, tapi juga pernah sampai ke level permohonan resmi dari empat kepala daerah di Madura untuk membentuk provinsi baru.
Buat banyak orang Madura, ide ini bukan sekadar soal gengsi punya provinsi sendiri. Ada rasa bahwa selama ini Madura sering jadi halaman belakang Jawa Timur, ikut dalam statistik provinsi tapi tidak betul betul merasakan pemerataan pembangunan. Dari situ, seruan saatnya Madura jadi provinsi menemukan panggungnya.
La Nyalla dan Sikap Tegas Pemuda Pancasila Jatim
Setelah paham bahwa isu ini tidak muncul tiba tiba, kita bisa lihat bagaimana figur La Nyalla Mahmud Mattalitti ikut menguatkan gaungnya. La Nyalla, yang saat itu menjabat Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, pernah menyampaikan bahwa sudah saatnya Madura semakin maju dengan menjadi provinsi sendiri. Ia menilai pemisahan Madura dari Jawa Timur bisa jadi salah satu solusi untuk kesejahteraan Pulau Garam.
Dalam berbagai pernyataannya, La Nyalla menekankan bahwa masalah Madura bukan cuma urusan administratif, tapi urusan keadilan. Selama ini, anggaran dan perhatian dianggap belum cukup mengangkat kualitas hidup warga, sementara potensi Madura di sektor maritim, pertanian, dan sumber daya lain terus diceritakan tapi belum terasa maksimal di dompet masyarakat.
Buat Pemuda Pancasila Jatim, dukungan terhadap ide Provinsi Madura dibingkai sebagai langkah mempercepat pembangunan. Ormas ini mencoba memposisikan diri sebagai kelompok penekan yang menyuarakan kegelisahan di bawah, sekaligus mengingatkan pemerintah provinsi agar tidak terus membiarkan Madura tertinggal.
Kadang yang dibutuhkan daerah tertinggal itu bukan sekadar tambahan anggaran, tapi keberanian mengubah cara pandang. Selama Madura terus diposisikan sebagai pinggiran, wajar kalau wacana jadi provinsi baru selalu muncul ke permukaan.
Kenapa Isu Provinsi Madura Terus Muncul Lagi
Kalau ditarik mundur, wacana Provinsi Madura datang dan pergi dalam beberapa gelombang. Dulu sudah pernah ada sinyal dari pemerintah pusat bahwa pembentukan Provinsi Madura dimungkinkan selama memenuhi syarat aturan pembentukan daerah otonom.
Tapi kenapa belakangan wacana ini terasa nyaring lagi
Salah satu pemicunya adalah data dan kenyataan di lapangan. Empat kabupaten di Madura Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep sudah berkali kali disebut sebagai wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur.
Angka kemiskinan yang konsisten tinggi bikin banyak orang merasa ada yang salah dengan pola pembangunan. Ketika jalan desa masih banyak yang rusak, infrastruktur dasar belum merata, dan kesempatan kerja tidak kunjung meluas, wajar kalau muncul ide bahwa Madura butuh rumah sendiri agar kebijakan bisa lebih fokus.
Sekilas Aturan Main Membentuk Provinsi Baru
Sebelum terlalu jauh bahas dukungan dan penolakan, penting untuk paham dulu bahwa memekarkan provinsi itu tidak bisa cuma berdasarkan keinginan politik atau suara keras di jalanan. Ada aturan main yang diatur dalam undang undang tentang pemerintahan daerah dan pembentukan daerah otonom baru.
Dalam kerangka hukum itu, pembentukan provinsi baru harus memenuhi syarat administratif, teknis, dan fisik kewilayahan. Artinya, wacana Provinsi Madura bukan cuma urusan Pemuda Pancasila, tokoh lokal, atau kepala daerah. Pada akhirnya keputusan ada di tangan pemerintah pusat dan DPR, dengan mempertimbangkan banyak aspek.
Syarat Administratif yang Harus Dipenuhi
Setelah tahu bahwa ada payung hukumnya, kita bisa bedah sedikit soal syarat administratif yang sering disebut. Secara garis besar, pembentukan provinsi baru mensyaratkan adanya persetujuan dari pemerintah kabupaten dan DPRD setempat, dukungan pemerintah provinsi induk, serta kajian mendalam dari pemerintah pusat.
Untuk Madura, beberapa tahun lalu empat kepala daerahnya pernah mengajukan permohonan pembentukan provinsi. Langkah ini menunjukkan bahwa secara politik, minimal pernah ada titik ketika elite lokal sepakat untuk mendorong pemekaran.

Namun di luar syarat administratif, ada pertanyaan lanjutan yang tidak kalah penting. Apakah calon provinsi baru punya kemampuan keuangan, kapasitas birokrasi, dan kesiapan infrastruktur untuk berdiri sendiri tanpa justru menambah masalah baru. Ini yang biasanya jadi bahan kajian teknis pemerintah.
Sikap Pemerintah terhadap Wacana Provinsi Madura
Pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sebenarnya tidak serta merta menutup pintu. Dalam beberapa kesempatan, pejabat pemerintah menyatakan bahwa pembentukan Provinsi Madura dimungkinkan selama semua syarat sesuai aturan dipenuhi.
Pihak pemerintah Jawa Timur juga pernah menyebut bahwa kalau Madura jadi provinsi sendiri, hal itu akan dilihat dari sisi positifnya, selama prosesnya mengikuti aturan yang ada.
Bahasa yang dipakai pemerintah cenderung hati hati. Di satu sisi, mereka tidak ingin terlihat menolak aspirasi masyarakat Madura. Di sisi lain, pemerintah juga tidak mau dianggap mudah mengumbar pemekaran yang berpotensi menguras anggaran negara. Di sela sela zona abu abu inilah suara ormas seperti Pemuda Pancasila Jatim mencoba masuk, dengan menekankan bahwa pemekaran adalah pintu untuk mempercepat kesejahteraan, bukan cuma bagi bagi kursi.
Potret Madura Hari Ini Biar Tidak Sekadar Wacana
Supaya wacana Provinsi Madura tidak berhenti di slogan, penting untuk melihat realita di lapangan. Empat kabupaten di Pulau Madura masih berada di deretan penyumbang besar angka kemiskinan di Jawa Timur.
Di balik angka angka itu, ada cerita tentang jalan desa yang belum layak, sanitasi yang belum merata, rumah sakit yang jaraknya jauh, dan kesempatan kerja yang terasa sempit. Ini semua jadi bahan bakar bagi mereka yang merasa Madura butuh lompatan kebijakan, salah satunya lewat pemekaran provinsi.
Angka Kemiskinan yang Masih Membayangi
Kalau kita tengok data beberapa tahun terakhir, persentase penduduk miskin di Sampang masih berada di kisaran tinggi, disusul Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan yang juga mencatat angka belasan persen.
Selama lebih dari satu dekade, kabupaten kabupaten di Madura sudah berkali kali masuk kategori wilayah termiskin di Jawa Timur. Ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan di Madura bukan persoalan jangka pendek, tapi masalah yang berlangsung lama dan berulang.
Di tengah kondisi seperti ini, wajar kalau sebagian warga merasa bahwa menjadi provinsi sendiri mungkin bisa membuka ruang kebijakan yang lebih fokus. Bukan karena jadi provinsi otomatis menghapus kemiskinan, tapi karena diharapkan alokasi anggaran dan perhatian politik tidak lagi terbagi dengan puluhan kabupaten kota lain di Jawa Timur.
Kalau angka kemiskinan tinggi dibiarkan berlarut larut, orang di bawah wajar kalau mulai mempertanyakan sistem. Di saat itulah gagasan pemekaran sering dipeluk sebagai harapan, bahkan sebelum ada jaminan hasilnya akan seindah yang dibayangkan.
Infrastruktur dan Investasi yang Belum Merata
Selain kemiskinan, infrastruktur juga sering disebut sebagai titik lemah Madura. Banyak catatan yang menyebut bahwa jalan dengan kondisi baik, fasilitas kesehatan, dan sarana dasar lain di Madura berkembang, tapi belum merata.
Sejumlah anggota legislatif juga menyoroti bahwa tantangan besar Madura adalah persepsi negatif terhadap iklim investasi. Investor masih menilai Madura belum cukup kondusif untuk pengembangan usaha, padahal kalau pelibatan masyarakat diperkuat, investasi bisa jadi mesin baru penggerak ekonomi lokal.
Ketertinggalan infrastruktur membuat biaya logistik tinggi. Produk lokal sulit bersaing, sementara anak muda Madura banyak yang memilih merantau ke luar daerah demi mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Dalam konteks ini, wacana Provinsi Madura dianggap sebagian pihak sebagai cara untuk memaksa negara menaruh perhatian lebih serius pada infrastruktur di Pulau Garam.
Potensi Besar yang Sering Terpinggirkan
Di balik berbagai masalah itu, Madura sebenarnya kaya potensi. Dari sektor garam, perikanan, peternakan, sampai pariwisata bahari dan budaya, potensi ekonomi Madura sering disebut berulang ulang dalam banyak diskusi.
Madura punya garis pantai yang panjang, pulau pulau kecil yang indah, tradisi karapan sapi yang terkenal, serta kultur pesantren yang kuat. Kalau dikelola dengan serius, potensi ini bisa jadi sumber pendapatan dan lapangan kerja besar bagi warga.

Masalahnya, potensi itu belum sepenuhnya diolah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Inilah yang membuat sebagian kalangan berpendapat bahwa Madura butuh lompatan kebijakan, bukan lagi pendekatan tambal sulam. Bagi Pemuda Pancasila Jatim, menjadikan Madura provinsi baru dilihat sebagai salah satu pintu ke arah lompatan itu, tentu dengan catatan bahwa pengelolaannya harus rapi dan bersih.
Dinamika Politik dan Kekhawatiran Seputar Pemekaran
Setiap kali ada wacana pemekaran daerah, selalu muncul dua kubu besar. Satu kubu optimis melihat peluang percepatan pembangunan. Kubu lain cemas pemekaran cuma jadi ajang bagi bagi kursi tanpa perbaikan layanan publik. Madura tidak lepas dari pola ini.
Di tengah dinamika itu, dukungan Pemuda Pancasila Jatim bisa dilihat sebagai bagian dari peta politik yang lebih luas. Ormas besar dengan jaringan luas tentu punya kepentingan dan perhitungan sendiri, tapi mereka juga membawa suara sebagian warga yang merasa lelah dengan ketertinggalan.
Representasi Politik Orang Madura
Bagi sebagian tokoh lokal, pemekaran Provinsi Madura juga menyentuh isu representasi politik. Selama ini posisi strategis di tingkat provinsi sering terasa jauh dari orang Madura. Wacana provinsi baru diharapkan bisa membuka ruang lebih besar bagi putra daerah untuk memimpin dan mengelola kebijakan.
Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pemekaran justru memunculkan elit baru yang tidak jauh berbeda dengan kondisi lama. Artinya, meski bendera berubah, tapi praktik politiknya masih sama dan warga biasa tetap berada di posisi penonton.
Namun begitu, suara Pemuda Pancasila Jatim menambahkan tekanan politik tambahan. Mereka tidak hanya bicara soal kursi, tapi menyinggung soal keadilan pembangunan, distribusi anggaran, dan tanggung jawab pemerintah provinsi terhadap wilayah yang selama ini tertinggal.
Pemekaran tanpa perbaikan tata kelola cuma akan memindahkan masalah dari satu meja ke meja lain. Yang paling penting justru budaya transparansi dan keberpihakan ke warga kecil, siapa pun nanti yang memimpin.
Risiko Birokrasi Gemuk dan Beban Anggaran
Kekhawatiran klasik lain terkait pemekaran adalah risiko birokrasi gemuk. Provinsi baru berarti kantor baru, pejabat baru, anggaran rutin baru. Kalau tidak hati hati, anggaran justru habis untuk membayar operasional birokrasi, bukan untuk membangun jalan, sekolah, atau fasilitas kesehatan.
Pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir memang cenderung menahan laju pemekaran daerah. Salah satu alasannya adalah evaluasi bahwa banyak daerah hasil pemekaran belum menunjukkan kinerja yang signifikan dalam menurunkan kemiskinan dan meningkatkan kualitas layanan publik.
Dalam konteks Madura, hal ini jadi pengingat bahwa pemekaran bukan obat mujarab. Dukungan Pemuda Pancasila Jatim dan tokoh tokoh lokal tetap harus dibarengi visi yang jelas soal tata kelola, transparansi, dan pengawasan publik. Kalau tidak, risiko kegagalan justru besar, dan warga Madura bisa kembali menjadi pihak yang paling dirugikan.
Bagaimana Jika Madura Benar Benar Jadi Provinsi
Setelah melihat dukungan, aturan main, dan kondisi riil di lapangan, pertanyaan terakhir yang muncul di kepala banyak orang sederhana saja. Kalau suatu hari Provinsi Madura benar benar terbentuk, seperti apa harapan dan pekerjaan rumah yang menunggu
Mereka yang mendukung tentu membayangkan pemerintahan provinsi yang lebih dekat, lebih responsif, dan lebih peka terhadap kebutuhan warga. Namun para pengkritik mengingatkan bahwa tanpa pembenahan serius, pemekaran hanya akan mengubah struktur tanpa menyentuh kultur birokrasi dan politik.
Harapan Terhadap Layanan Publik yang Lebih Dekat
Dengan status provinsi, Madura punya peluang mengelola kebijakan sendiri di banyak sektor strategis. Perencanaan pembangunan bisa disusun dengan fokus penuh pada karakter wilayah kepulauan dan kultur masyarakatnya.
Layanan publik, mulai dari pendidikan sampai kesehatan, diharapkan bisa lebih dekat dan cepat, karena pusat kebijakan tidak lagi berada di Surabaya, tapi di pusat pemerintahan Provinsi Madura sendiri. Kalau dirancang dengan baik, hal ini bisa memperpendek rantai koordinasi dan mempercepat eksekusi program.
Di sisi ekonomi, kelautan, pertanian, dan pariwisata bisa dijadikan prioritas utama. Sumber daya bisa diarahkan ke penguatan akses pasar, pengolahan hasil, dan promosi wisata. Dengan begitu, potensi Madura tidak lagi berhenti di poster promosi, tapi benar benar jadi sumber pendapatan nyata bagi warga.
Daerah yang lama tertinggal sering kali tidak butuh program yang rumit. Mereka butuh jalan yang bagus, air bersih yang mengalir, sekolah yang layak, dan tenaga kesehatan yang cukup. Kalau provinsi baru tidak bisa menjawab kebutuhan sesederhana itu, seluruh wacana pemekaran akan kehilangan makna.
Pekerjaan Rumah Agar Masalah Lama Tidak Terulang
Di balik semua harapan itu, pekerjaan rumah yang menunggu juga tidak sedikit. Pemerintahan Provinsi Madura, kalau nanti jadi terbentuk, harus berhadapan dengan struktur ekonomi yang timpang, kemiskinan yang menahun, dan infrastruktur yang belum merata.
Selain itu, perlu ada komitmen bersama untuk memastikan bahwa pemekaran tidak hanya dinikmati oleh segelintir elit. Mekanisme pengawasan publik, partisipasi warga dalam perencanaan pembangunan, serta transparansi anggaran harus menjadi prioritas sejak awal.
Pemuda Pancasila Jatim, dengan posisinya sebagai ormas yang mendorong Provinsi Madura, juga memikul tanggung jawab moral. Mereka tidak bisa berhenti di pernyataan dukungan. Jika nanti Madura benar benar punya provinsi sendiri, suara mereka harus tetap lantang mengingatkan pemerintah ketika pembangunan mulai melenceng dari janji awal.
Pada akhirnya, wacana Madura jadi provinsi baru bukan sekadar soal garis di peta. Di dalamnya ada harapan jutaan orang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan, mendapat akses layanan yang layak, dan merasakan keadilan pembangunan yang selama ini terasa jauh. Dukungan Pemuda Pancasila Jatim menjadi salah satu suara yang menggarisbawahi bahwa sabar warga ada batasnya, dan keadilan pembangunan tidak bisa terus ditunda.