Di kaki Gunung Inerie, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berdiri sebuah kampung adat yang memperlihatkan hubungan erat antara manusia, leluhur, alam, dan aturan sosial. Tempat itu bernama desa Bena, sebuah permukiman tradisional dengan deretan rumah beratap ilalang, susunan batu megalitik, serta halaman luas yang menjadi pusat kegiatan adat.
Bena bukan kawasan peninggalan yang dikosongkan untuk kepentingan wisata. Warga masih tinggal, bekerja, menenun, menerima tamu, dan menjalankan upacara di dalam kampung. Kehidupan sehari hari berlangsung berdampingan dengan warisan leluhur yang dipertahankan melalui aturan keluarga dan kesepakatan antarsuku.
Keaslian tersebut membuat Bena menjadi salah satu kampung adat paling dikenal di Flores. Setiap sudutnya menyimpan petunjuk mengenai struktur masyarakat Ngada, mulai dari bentuk rumah, posisi bangunan, susunan halaman, hingga lambang yang ditempatkan pada bagian atap.
Kampung Tua di Selatan Bajawa
Desa Bena berada di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu, sekitar 18 kilometer di sebelah selatan Kota Bajawa. Perjalanan menuju kampung melewati jalan yang berkelok di antara perbukitan, kebun warga, dan lereng Gunung Inerie. Udara di kawasan ini cenderung sejuk, terutama pada pagi hari ketika kabut masih menyelimuti dataran tinggi Ngada.
Usia Kampung Bena diperkirakan telah mencapai sekitar 1.200 tahun. Perkiraan tersebut menempatkannya sebagai salah satu permukiman adat tertua di Flores yang masih dihuni. Walaupun mengalami pergantian generasi, bentuk dasar kampung tetap dipertahankan. Pembangunan maupun perbaikan rumah harus mengikuti ketentuan adat yang berlaku.
Permukiman Bena dibangun memanjang dari arah utara menuju selatan. Pintu masuk utama berada di bagian utara, sedangkan bagian selatan berakhir di kawasan yang lebih tinggi dan berdekatan dengan tebing. Dari titik tersebut, pengunjung dapat melihat lembah, kebun, serta bentang perbukitan yang mengelilingi kampung.
Jika diamati dari tempat tinggi, susunan permukiman terlihat menyerupai perahu. Dalam cerita yang diwariskan warga, bentuk tersebut dikaitkan dengan kisah sebuah kapal besar yang terdampar dan kemudian berubah menjadi batu. Cerita itu tetap hidup melalui tuturan keluarga, upacara, dan penjelasan para tetua kepada generasi berikutnya.
“Bena menarik bukan hanya karena usianya, tetapi karena warga masih menjadikan kampung adat sebagai ruang tinggal dan pusat hubungan keluarga.”
Gunung Inerie Menjadi Penanda Kehidupan Warga
Gunung Inerie berdiri menjulang di dekat Kampung Bena dengan bentuk kerucut yang tegas. Gunung berapi tersebut bukan sekadar latar pemandangan. Bagi masyarakat setempat, Inerie memiliki kedudukan khusus dalam keyakinan tradisional dan hubungan mereka dengan wilayah tempat tinggal.
Masyarakat Bena mengenal kepercayaan mengenai sosok Yeta yang dikaitkan dengan Gunung Inerie. Gunung dipandang sebagai tempat yang memiliki kekuatan pelindung bagi kampung. Kedekatan ini turut memengaruhi arah permukiman, pelaksanaan upacara, serta cara warga memperlakukan tanah dan sumber daya di sekitar mereka.
Kehidupan warga sangat bergantung pada lahan pertanian di lereng dan lembah sekitar kampung. Tanah vulkanik dimanfaatkan untuk menanam kopi, jagung, kemiri, kakao, umbi umbian, serta berbagai tanaman kebun. Hasil pertanian digunakan untuk kebutuhan keluarga dan sebagian dijual sebagai sumber penghasilan.
Gunung Inerie juga menjadi penanda arah bagi warga. Bentuknya dapat terlihat dari banyak bagian kampung, terutama dari halaman tengah dan ujung selatan. Ketika cuaca cerah, puncaknya tampak utuh di belakang deretan rumah adat. Pada musim hujan, kabut sering turun dan menutup sebagian lereng.
Hubungan dengan alam turut terlihat dalam pemilihan bahan bangunan. Kayu, bambu, ijuk, dan ilalang digunakan untuk membangun serta merawat rumah. Pengambilan bahan dilakukan menurut kebiasaan setempat dengan mempertimbangkan waktu, kebutuhan, dan ketersediaannya.
Sembilan Suku dalam Susunan Kampung Bertingkat
Kampung Bena dihuni oleh sembilan kelompok suku yang menempati sekitar 45 rumah adat. Kelompok tersebut antara lain Bena, Khopa, Ago, Ngada, Deru Solamae, Deru Lalulewa, Wahto, Dizi, dan Dizi Azi. Setiap kelompok memiliki rumah pokok, simbol leluhur, serta bagian halaman yang berkaitan dengan garis keturunannya.
Kontur tanah Bena tidak diratakan sepenuhnya. Rumah dibangun mengikuti permukaan asli sehingga kampung memiliki sejumlah tingkatan. Setiap tingkat berhubungan dengan kedudukan kelompok suku di dalam susunan permukiman. Perbedaan ketinggian itu terlihat jelas dari tangga batu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya.
Dua baris rumah berdiri saling berhadapan dan membentuk ruang terbuka di bagian tengah. Susunannya menyerupai huruf U dengan halaman adat sebagai pusat. Rumah bukan ditempatkan secara bebas berdasarkan pilihan pemilik, melainkan mengikuti ketentuan garis keluarga dan pembagian ruang yang telah diterima bersama.
Hubungan antarwarga dijalankan melalui ikatan keluarga, perkawinan, pembagian tugas, dan pelaksanaan upacara. Ketika sebuah keluarga mengadakan kegiatan adat, anggota kelompok lain dapat terlibat sesuai kewajiban masing masing. Bantuan dapat berupa tenaga, hasil kebun, hewan, makanan, maupun perlengkapan upacara.
Garis keturunan ibu memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Ngada. Keanggotaan suku, kedudukan rumah, dan sejumlah hak keluarga diwariskan melalui pihak perempuan. Laki laki tetap menjalankan tugas adat tertentu, tetapi identitas kelompok sangat berkaitan dengan garis ibu.
Rumah Adat sebagai Pusat Keluarga
Rumah adat Bena memiliki bentuk panggung rendah dengan dinding kayu, atap ilalang yang menjulang, serta ruang utama yang cenderung tertutup. Bangunan dirancang untuk menghadapi udara dingin dataran tinggi sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga dalam menjalankan kehidupan dan kegiatan adat.
Bagian depan rumah biasanya memiliki teras yang dipakai untuk duduk, bekerja, menjemur hasil kebun, dan menyambut kerabat. Di tempat ini pula perempuan sering terlihat menenun menggunakan alat tradisional. Kegiatan tersebut berlangsung sebagai bagian dari keseharian, bukan semata pertunjukan bagi wisatawan.
Ruang utama rumah menjadi tempat keluarga berkumpul dan menyimpan sejumlah benda penting. Dapur berada di bagian dalam serta berfungsi sebagai pusat kegiatan rumah tangga. Api digunakan untuk memasak sekaligus membantu menghangatkan ruangan. Asap dari perapian turut membantu mengawetkan kayu dan bagian dalam atap.
Pada puncak beberapa rumah terdapat simbol kecil berbentuk rumah dan figur manusia. Simbol rumah yang disebut bhaga mewakili leluhur perempuan. Sementara itu, simbol berbentuk manusia yang disebut ata melambangkan leluhur laki laki. Keberadaan lambang tersebut menunjukkan kedudukan rumah dalam garis keluarga.
Tidak semua bangunan dapat memakai simbol yang sama. Pemasangannya berkaitan dengan status rumah dan riwayat kelompok pemiliknya. Proses mendirikan rumah pun tidak dilakukan seperti pembangunan bangunan biasa. Pemilihan bahan, pembagian pekerjaan, hingga peresmian rumah disertai ketentuan dan rangkaian adat.
Ngadhu dan Bhaga di Halaman Utama
Di halaman tengah Kampung Bena terdapat pasangan bangunan adat yang disebut ngadhu dan bhaga. Keduanya menjadi unsur penting dalam susunan kampung serta mewakili leluhur laki laki dan perempuan dari suatu kelompok suku.
Ngadhu berbentuk seperti tiang dengan atap menyerupai payung. Tiangnya dibuat dari kayu pilihan dan berhubungan dengan leluhur laki laki. Di dekatnya berdiri bhaga, bangunan kecil menyerupai rumah yang mewakili leluhur perempuan. Pasangan keduanya menunjukkan keseimbangan peran dalam kelangsungan keluarga.
Jumlah ngadhu dan bhaga di halaman berkaitan dengan kelompok yang tinggal di Bena. Lokasi setiap pasangan tidak dapat dipindahkan tanpa ketentuan adat. Area tersebut digunakan dalam berbagai upacara, pertemuan keluarga, dan kegiatan yang melibatkan anggota suku.
Selain ngadhu dan bhaga, halaman Bena dipenuhi batu tegak, susunan batu datar, serta tempat persembahan. Batu megalitik tersebut berkaitan dengan leluhur dan riwayat keluarga. Beberapa batu digunakan sebagai penanda makam, sedangkan susunan lainnya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan adat.
Ukuran serta posisi batu dapat memperlihatkan kedudukan orang yang diperingati. Pengadaan batu besar pada masa lalu membutuhkan tenaga banyak orang. Batu ditarik bersama dari lokasi asal menuju kampung melalui kerja kolektif yang melibatkan keluarga dan kerabat.
Halaman tengah juga berfungsi sebagai ruang sosial. Anak anak bermain di antara rumah, warga berbincang, hasil kebun dijemur, dan wisatawan berjalan mengikuti jalur yang tersedia. Saat upacara digelar, fungsi halaman berubah menjadi pusat pertemuan seluruh kelompok.
Tenun Menjaga Pengetahuan Perempuan Bena
Kain tenun menjadi salah satu hasil keterampilan yang paling mudah ditemui di Kampung Bena. Banyak perempuan menenun di teras rumah dengan alat yang dipasang pada tubuh. Prosesnya membutuhkan ketelitian karena setiap benang harus disusun sesuai pola yang telah ditentukan.
Pengetahuan menenun diwariskan dari ibu kepada anak perempuan. Seorang penenun harus memahami pemilihan benang, pengaturan warna, penyusunan motif, dan pengencangan kain. Pengerjaan satu lembar kain dapat berlangsung berminggu minggu, bergantung pada ukuran serta kerumitan motif.
Warna hitam, merah, cokelat, dan putih sering hadir dalam kain khas Ngada. Polanya dapat terinspirasi dari tumbuhan, hewan, hubungan keluarga, atau unsur yang dikenal dalam kehidupan masyarakat. Sebagian kain digunakan dalam upacara, perkawinan, pemberian keluarga, dan pakaian resmi adat.
Kain juga menjadi sumber pendapatan bagi rumah tangga. Warga menawarkan sarung, selendang, dan lembaran tenun kepada pengunjung. Selain kain, beberapa keluarga menjual kopi, kemiri, vanili, perhiasan sederhana, serta kerajinan berbahan bambu dan tempurung kelapa.
Pembelian langsung memberi ruang bagi pengunjung untuk berbicara dengan pembuatnya. Wisatawan dapat mengetahui lama pengerjaan, bahan yang digunakan, serta fungsi pola tertentu. Interaksi semacam ini membuat transaksi tidak berhenti pada barang, tetapi ikut menghargai pengetahuan dan waktu yang dicurahkan penenun.
“Harga selembar tenun sepatutnya dilihat dari panjangnya proses, ketelitian tangan, dan pengetahuan keluarga yang menyertai pembuatannya.”
Kepercayaan Leluhur dan Agama Berjalan Berdampingan
Sebagian besar warga Bena memeluk agama Katolik. Di bagian selatan kampung terdapat patung Bunda Maria yang memperlihatkan kehadiran agama tersebut dalam kehidupan masyarakat. Namun, penerimaan ajaran gereja tidak serta merta menghapus kebiasaan penghormatan kepada leluhur.
Warga tetap menjalankan upacara yang berkaitan dengan kelahiran, perkawinan, pembangunan rumah, pertanian, kematian, dan hubungan antarkeluarga. Doa Katolik dapat hadir bersama aturan adat selama keduanya dianggap dapat dijalankan tanpa meniadakan keyakinan masing masing.
Penghormatan terhadap leluhur terlihat pada cara keluarga merawat rumah pokok, ngadhu, bhaga, dan batu megalitik. Leluhur dipandang tetap memiliki hubungan dengan anggota keluarga yang hidup. Karena itu, keputusan penting sering dibicarakan melalui pertemuan keluarga serta dilengkapi rangkaian upacara.
Hewan seperti kerbau dan babi mempunyai kedudukan penting dalam sejumlah perhelatan adat. Penyembelihan hewan berkaitan dengan kewajiban keluarga, jamuan bagi peserta, dan penghormatan kepada leluhur. Tanduk atau rahang hewan terkadang ditempatkan pada rumah sebagai catatan atas upacara yang pernah diselenggarakan.
Perhelatan adat juga memperkuat hubungan sosial karena biayanya ditanggung melalui dukungan banyak pihak. Keluarga yang menerima bantuan memiliki kewajiban untuk membalas ketika kerabat lain mengadakan kegiatan serupa. Sistem timbal balik tersebut menjaga hubungan antarrumah dan antarsuku.
Berkunjung dengan Menghormati Ruang Tinggal Warga
Kampung Bena terbuka bagi wisatawan, tetapi statusnya tetap merupakan ruang tinggal masyarakat. Pengunjung perlu mengingat bahwa rumah, halaman, batu, dan bangunan kecil yang terlihat bukan sekadar objek foto. Sebagian lokasi memiliki kedudukan khusus dan penggunaannya diatur oleh warga.
Sebelum memasuki kampung, tamu biasanya diarahkan menuju tempat penerimaan untuk mengisi buku kunjungan dan mengikuti ketentuan setempat. Besaran sumbangan atau biaya kunjungan dapat berubah sesuai kebijakan pengelola. Karena itu, wisatawan sebaiknya menyiapkan uang tunai secukupnya.
Pakaian yang sopan menjadi bentuk penghargaan paling sederhana. Pengunjung juga perlu meminta izin sebelum memotret warga dari jarak dekat, memasuki teras, atau mengambil gambar saat kegiatan adat berlangsung. Rumah yang pintunya terbuka tidak selalu berarti dapat dimasuki tanpa persetujuan pemilik.
Batu megalitik, ngadhu, dan bhaga tidak semestinya dinaiki atau disentuh sembarangan. Anak anak perlu didampingi agar tidak bermain pada tempat persembahan. Suara keras juga sebaiknya dihindari, terutama ketika warga sedang berdoa, beristirahat, atau mengadakan pertemuan keluarga.
Waktu kunjungan pada pagi hari memberikan udara lebih sejuk dan peluang lebih besar melihat Gunung Inerie sebelum tertutup awan. Sepatu yang nyaman diperlukan karena permukaan kampung tersusun dari tanah, batu, serta tangga dengan ketinggian berbeda.
Percakapan dengan warga dapat membuka banyak pengetahuan tentang rumah, tenun, kebun, dan hubungan keluarga. Namun, pertanyaan perlu disampaikan dengan santun. Tidak semua bagian kehidupan adat dapat dijelaskan kepada orang luar karena beberapa pengetahuan hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga atau peserta upacara tertentu.
Membeli tenun dan hasil kebun langsung dari warga menjadi salah satu cara mendukung penghasilan keluarga. Tawar menawar tetap dapat dilakukan secara wajar, tetapi perlu mempertimbangkan lamanya pengerjaan serta biaya bahan. Pengunjung juga dianjurkan menjaga kebersihan dan membawa kembali sampah yang dihasilkan selama berada di kampung.
Perawatan Rumah Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Atap ilalang, dinding kayu, dan susunan bambu membutuhkan perawatan berkala. Hujan, angin, kelembapan, serta perubahan suhu dapat mempercepat kerusakan bahan. Ketika satu rumah harus diperbaiki, keluarga biasanya menggerakkan kerabat untuk mengumpulkan bahan dan membantu pekerjaan.
Ketersediaan ilalang berkualitas menjadi perhatian karena bahan tersebut harus memenuhi ukuran dan tingkat kekeringan tertentu. Penggantian atap membutuhkan jumlah yang besar serta keterampilan memasang agar air hujan tidak masuk. Pekerjaan dilakukan berlapis dari bagian bawah hingga puncak.
Perubahan kebutuhan hidup juga hadir di Bena. Warga memerlukan pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, listrik, dan penghasilan yang memadai. Pada saat yang sama, bentuk kampung tidak dapat diubah sesuka hati. Penempatan fasilitas baru perlu dibicarakan agar tidak mengganggu susunan ruang adat.
Arus wisata membawa peluang penjualan tenun, kopi, dan kerajinan. Namun, kunjungan dalam jumlah besar menuntut pengelolaan yang cermat. Jalur wisata, kebersihan, penggunaan halaman, dan perlindungan bangunan perlu diatur dengan menempatkan warga sebagai pemegang keputusan utama.
Generasi muda memiliki posisi penting dalam perawatan Bena. Sebagian merantau untuk bersekolah atau bekerja, lalu tetap terikat pada rumah asal dan kewajiban keluarga. Mereka membawa pengetahuan baru, sementara tetua meneruskan bahasa, silsilah, tata upacara, serta keterampilan merawat rumah.
Di teras rumah, proses pewarisan itu berlangsung secara alami. Anak melihat ibunya menenun, mengikuti keluarga ke kebun, mendengar percakapan para tetua, dan terlibat dalam persiapan perhelatan adat. Dari kegiatan sehari hari tersebut, Bena tetap menjadi kampung yang dihuni, dirawat, dan dijalankan oleh masyarakatnya sendiri.