Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap kualitas buku pelajaran yang digunakan siswa Indonesia. Perhatian tersebut muncul setelah Kepala Negara mengunjungi sejumlah sekolah dan memeriksa langsung buku yang dipakai peserta didik. Dari pemeriksaan itu, Prabowo menemukan beberapa persoalan, mulai dari bahan buku yang mudah rusak, kondisi buku yang sudah tidak layak, hingga ukuran huruf yang terlalu kecil untuk anak usia sekolah dasar.
Pemerintah kemudian bergerak menyiapkan pembaruan buku ajar dari jenjang SD hingga SMA. Bukan hanya materi pelajaran yang akan diperiksa, desain fisik, ukuran tulisan, kualitas kertas, kenyamanan membaca, serta ketahanan buku juga masuk dalam evaluasi. Khusus siswa kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 SD, Presiden meminta buku latihan menulis dibuat dengan garis lebih besar agar sesuai dengan kemampuan anak yang sedang membangun keterampilan menulis.
Langkah tersebut menjadi kelanjutan dari instruksi Prabowo pada Juni 2026 ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti diminta membentuk tim untuk mengevaluasi buku pelajaran. Pemerintah ingin materi ajar mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi tanpa mengabaikan kebutuhan dasar siswa ketika belajar melalui buku fisik.
Pemeriksaan Bermula dari Kunjungan Prabowo ke Sekolah
Perhatian Presiden terhadap buku pelajaran tidak muncul hanya melalui rapat di Istana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Prabowo sebelumnya melihat kondisi buku secara langsung ketika mengunjungi sejumlah sekolah.
Presiden membuka dan memeriksa buku yang digunakan siswa satu per satu. Dari sana ditemukan buku dengan bahan yang mudah rusak. Beberapa buku bahkan telah mengalami kerusakan meski masih digunakan sebagai bahan belajar. Prabowo juga melihat ukuran tulisan pada sejumlah buku terlalu kecil sehingga siswa SD harus mendekatkan wajah ketika membacanya.
Temuan tersebut kemudian menjadi alasan pemerintah memperluas pemeriksaan. Jika sebelumnya perhatian muncul dari buku yang ditemukan saat kunjungan sekolah, evaluasi akhirnya diarahkan untuk buku pelajaran dari SD sampai SMA.
Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa kualitas buku pendidikan tidak hanya ditentukan oleh benar atau tidaknya materi. Sebuah buku digunakan siswa hampir setiap hari, dibawa ke sekolah, dibuka berkali kali dan dalam beberapa kasus dipakai kembali oleh siswa lain pada tahun berikutnya.
Karena itu, bahan cetak dan kenyamanan membaca ikut menjadi bagian yang dianggap penting.
Menurut penulis, buku pelajaran sering diperlakukan hanya sebagai wadah materi, padahal bagi siswa SD bentuk huruf, ukuran halaman, ilustrasi dan ruang untuk menulis dapat menentukan apakah kegiatan belajar terasa nyaman atau justru melelahkan.
Buku Indonesia Dibandingkan dengan Negara Tetangga
Setelah memeriksa buku Indonesia, Prabowo meminta pemerintah mencari buku pelajaran dari negara lain sebagai pembanding. Tujuannya bukan sekadar meniru desain yang digunakan negara tetangga, melainkan melihat standar yang dapat dipelajari untuk meningkatkan kualitas buku nasional.
Pemerintah mendatangkan sampel buku dari sejumlah negara di kawasan, termasuk Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand dan Vietnam. Buku tersebut digunakan untuk melihat bagaimana materi disajikan, bagaimana ukuran tulisan ditentukan, bagaimana kualitas cetaknya serta bagaimana buku digunakan untuk membantu siswa memahami pelajaran.
Teddy menjelaskan bahwa prosesnya dimulai dengan memeriksa buku milik Indonesia terlebih dahulu. Setelah kekurangan dan bagian yang perlu diperbaiki terlihat, barulah buku dari negara lain digunakan sebagai bahan perbandingan.
Pendekatan tersebut penting karena kebutuhan setiap negara tentu tidak seluruhnya sama. Indonesia mempunyai jumlah siswa sangat besar, kondisi geografis beragam dan fasilitas sekolah yang berbeda antara kota besar, daerah kepulauan serta wilayah terpencil.
Buku baru nantinya tetap harus sesuai dengan kebutuhan siswa Indonesia.
Kelas 1 sampai 3 SD Mendapat Perhatian Khusus
Perubahan yang cukup spesifik diarahkan kepada siswa kelas awal sekolah dasar. Presiden meminta desain buku menulis untuk kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 diperhatikan kembali.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan pemerintah melihat kecenderungan tulisan siswa menjadi terlalu kecil. Salah satu rancangan yang dipertimbangkan adalah menyediakan garis latihan yang lebih besar sehingga anak dapat membentuk huruf dengan ruang yang cukup.
Pada tahap awal sekolah dasar, siswa memang masih belajar mengendalikan gerakan tangan ketika menulis huruf dan angka. Buku latihan karena itu mempunyai fungsi berbeda dibanding buku untuk anak yang sudah berada di kelas tinggi.
Halaman yang terlalu padat, bidang menulis sempit atau ukuran tulisan yang kecil dapat membuat anak harus bekerja lebih keras mengikuti bentuk yang tersedia.
Permintaan desain ulang menunjukkan perhatian pemerintah tidak berhenti pada isi kurikulum. Bentuk buku akan disesuaikan dengan usia penggunanya.
Untuk siswa kelas 1, misalnya, ilustrasi serta bidang latihan dapat mengambil ruang lebih besar. Seiring naik kelas, kepadatan isi dapat meningkat sesuai kemampuan membaca dan menulis.
Ukuran Huruf Diminta Lebih Nyaman untuk Mata Siswa
Salah satu hal yang paling jelas dari hasil pemeriksaan Presiden adalah ukuran huruf. Prabowo melihat siswa SD harus membaca dari jarak sangat dekat karena tulisan di buku berukuran kecil.
Pemerintah kemudian meminta agar ukuran tulisan dibuat lebih nyaman. Tampilan halaman juga diharapkan lebih menarik sehingga siswa tidak berhadapan dengan halaman yang terlalu penuh atau sulit dipahami.
Perubahan ukuran huruf terdengar sederhana, tetapi keputusan tersebut berkaitan langsung dengan desain keseluruhan buku.
Ketika tulisan diperbesar, jumlah kalimat dalam satu halaman akan berkurang. Desainer kemudian perlu menata ulang ilustrasi, tabel, latihan dan ruang kosong agar buku tidak menjadi terlalu tebal.
Hal serupa berlaku pada pemilihan jenis huruf. Bentuk huruf untuk siswa kelas awal perlu mudah dikenali dan tidak terlalu dekoratif.
Pembaruan tersebut juga harus mempertimbangkan berat buku. Membesarkan ukuran halaman atau menambah jumlah lembar tanpa perhitungan dapat membuat tas siswa semakin berat.
Karena itulah pemerintah tidak hanya membutuhkan penulis mata pelajaran. Desainer, ilustrator, editor dan ahli pendidikan memiliki posisi penting dalam penyusunan buku.
Pusat Perbukuan Kemendikdasmen sendiri menjelaskan penilaian buku pendidikan mencakup standar materi, penyajian, desain serta grafika. Buku yang memenuhi penilaian kemudian dapat ditetapkan layak digunakan di satuan pendidikan.
Kualitas Bahan Buku Juga Diminta Ditingkatkan
Prabowo turut menyoroti kualitas fisik buku yang mudah mengalami kerusakan. Pemerintah ingin buku menggunakan bahan lebih baik agar dapat bertahan untuk periode penggunaan yang lebih panjang.
Pertimbangan tersebut berkaitan dengan pola pemanfaatan buku di sekolah.
Tidak semua buku dimiliki siswa secara permanen. Di sejumlah sekolah, buku menjadi bagian dari koleksi yang dapat digunakan kembali oleh adik kelas. Apabila jilid cepat lepas atau halaman mudah sobek, sekolah perlu melakukan pengadaan lebih sering.
Bahan yang lebih kuat dapat memperpanjang usia pemakaian.
Namun kualitas yang lebih tinggi juga harus diperhitungkan terhadap biaya produksi. Pemerintah perlu mencari titik seimbang antara ketahanan, harga, berat buku dan kemudahan distribusi menuju berbagai wilayah Indonesia.
Buku yang sangat kuat tetapi terlalu mahal tentu membawa persoalan lain. Sebaliknya, menekan harga secara berlebihan dapat menghasilkan kualitas cetak yang tidak bertahan lama.
Karena itu, pembaruan fisik memerlukan standar yang jelas sebelum buku diproduksi dalam jumlah besar.
Nasionalisme, Matematika dan Bahasa Inggris Jadi Sorotan
Selain tampilan, pemerintah juga menyiapkan evaluasi terhadap materi. Prasetyo Hadi menyebut terdapat beberapa bidang yang memperoleh perhatian khusus dari Presiden.
Pertama adalah materi mengenai nasionalisme dan kebangsaan. Pemerintah ingin pendidikan karakter kebangsaan tetap mendapat tempat kuat dalam buku siswa.
Kedua adalah matematika. Pelajaran ini dipandang penting sebagai salah satu dasar kemampuan sains dan teknologi.
Ketiga adalah bahasa Inggris yang berkaitan dengan kebutuhan meningkatkan kemampuan bahasa asing siswa Indonesia.
Penekanan tersebut bukan berarti mata pelajaran lain tidak diperiksa. Pemerintah sebelumnya telah menyatakan evaluasi diarahkan terhadap buku untuk seluruh peserta didik dan berbagai jenjang.
Perbedaan terletak pada beberapa bidang yang memperoleh perhatian lebih besar dalam tahap pengembangan.
Bahasa Inggris misalnya dapat dilihat dengan membandingkan urutan pembelajaran negara lain. Matematika dapat diperiksa dari cara soal dan konsep diperkenalkan. Sementara materi kebangsaan perlu menyajikan pengetahuan yang sesuai usia tanpa membuat buku terasa hanya berisi hafalan.
Pemerintah Ingin Anak Kembali Rajin Membaca Buku Fisik
Perbaikan buku juga dikaitkan dengan usaha membangun kebiasaan membaca. Pemerintah tidak ingin penggunaan perangkat digital membuat buku fisik sepenuhnya ditinggalkan.
Prasetyo menjelaskan bahwa penggunaan buku tidak berarti pemerintah ingin membawa pendidikan kembali ke pola lama. Teknologi tetap digunakan, tetapi siswa perlu mempunyai keseimbangan antara aktivitas digital, membaca buku dan menulis dengan tangan.
Kebiasaan mencatat menjadi salah satu hal yang ingin kembali diperkuat.
Ketika siswa menulis, mereka tidak hanya memindahkan kalimat dari papan atau buku. Anak harus mengendalikan tangan, memilih bagian penting serta mengingat apa yang sedang dicatat.
Pemerintah berharap aktivitas seperti ini tetap hidup bersamaan dengan penggunaan perangkat pembelajaran digital.
Pendekatan tersebut menarik karena pemerintah pada saat yang sama juga menjalankan program digitalisasi sekolah. Presiden sebelumnya mendorong penggunaan papan pembelajaran interaktif di sekolah dan peningkatan fasilitas teknologi di ruang kelas.
Artinya, buku cetak dan teknologi tidak ditempatkan sebagai pilihan yang saling menghilangkan.
Siswa dapat menggunakan layar untuk melihat materi interaktif, tetapi tetap mempunyai buku untuk membaca, memberi tanda, mengerjakan latihan dan mencatat.
Kebiasaan Membaca Prabowo Sejak Kecil Ikut Diceritakan Istana
Perhatian Presiden terhadap buku juga dikaitkan Istana dengan kebiasaan yang dibangun keluarganya sejak kecil.
Prasetyo menceritakan keluarga Sumitro Djojohadikusumo membiasakan anak anak membaca sejumlah buku setiap minggu. Setelah membaca, mereka diminta membuat rangkuman dan menyampaikannya kepada orang tua. Kebiasaan tersebut disebut menjadi salah satu pengalaman yang memengaruhi perhatian Prabowo terhadap budaya membaca.
Pemerintah ingin semangat membaca kembali diperkuat dalam kehidupan siswa.
Namun membangun kebiasaan tersebut tidak cukup hanya meminta anak membaca. Buku yang diberikan juga perlu menarik, sesuai kemampuan usia dan mudah diperoleh.
Inilah hubungan antara budaya membaca dengan pembaruan desain.
Siswa kelas 1 yang baru mengenal bacaan tentu membutuhkan bentuk berbeda dengan siswa SMP. Anak yang baru belajar membaca membutuhkan huruf besar, kalimat lebih pendek serta gambar yang membantu pemahaman.
Ketika kemampuan meningkat, buku dapat memperkenalkan teks yang semakin panjang dan kompleks.
Tim Evaluasi Sudah Diperintahkan Sejak Juni 2026
Perintah memperbaiki buku sebenarnya sudah diberikan beberapa bulan sebelum hasil pemeriksaan terbaru diumumkan ke publik.
Pada 11 Juni 2026, Prabowo melakukan rapat lebih dari dua jam dengan Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Istana Merdeka. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Salah satu arahan Presiden adalah membentuk tim yang bertugas mempelajari kembali buku ajar untuk seluruh peserta didik. Pemerintah menilai materi perlu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi serta memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan buku pendidikan dari luar Indonesia.
Artinya, pemeriksaan buku yang diperlihatkan Istana pada Agustus bukan kegiatan yang berdiri sendiri.
Tahapan tersebut merupakan bagian dari proses evaluasi yang sudah berjalan sejak Juni.
Pada Agustus, pemerintah menyatakan tim sudah terbentuk dan telah melakukan beberapa kali rapat. Targetnya bukan sekadar menghasilkan rekomendasi, tetapi menyusun perubahan yang dapat digunakan di sekolah.
Pakar Minta Pembaruan Tidak Berhenti pada Tampilan
Rencana pemerintah memperoleh tanggapan dari pengamat pendidikan dan kajian budaya Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan. Ia mengapresiasi upaya meningkatkan kualitas buku tetapi mengingatkan proses evaluasi sebaiknya tidak hanya berurusan dengan cetakan dan tampilan.
Radius menilai buku sekolah juga perlu bebas dari bias dan stereotipe. Representasi perempuan dan laki laki, agama, daerah, kelompok sosial serta keberagaman masyarakat Indonesia perlu diperhatikan secara adil.
Ia menyarankan tiga bagian mendapat perhatian, yakni ketepatan pengetahuan, keadilan representasi dan kemampuan buku melatih cara berpikir kritis siswa.
Masukan tersebut relevan karena ilustrasi dan contoh yang dipilih buku dapat ikut membentuk cara anak mengenal lingkungan sosialnya.
Buku matematika pun dapat membawa persoalan representasi melalui nama tokoh, pekerjaan orang tua atau gambar kegiatan sehari hari yang digunakan dalam soal.
Karena itu, proses desain ulang akan melibatkan lebih banyak pekerjaan daripada mengganti jenis huruf atau memperbesar gambar.
Menurut penulis, kesempatan memperbarui buku dalam skala nasional sebaiknya digunakan untuk menilai buku sebagai satu kesatuan. Materinya harus tepat, bahasanya sesuai usia, desainnya nyaman dan ilustrasinya mampu menggambarkan Indonesia yang beragam.
Buku Resmi Kemendikdasmen Juga Tersedia secara Digital
Meski pemerintah ingin memperkuat penggunaan buku fisik, akses digital tetap berjalan melalui Sistem Informasi Perbukuan Indonesia atau SIBI.
Platform resmi Pusat Perbukuan menyediakan buku teks dalam berbagai bentuk yang dapat dimanfaatkan siswa, guru dan orang tua. Selain PDF, sistem perbukuan pemerintah juga mengembangkan buku audio dan materi interaktif untuk mendukung berbagai kebutuhan pembelajaran.
Keberadaan format digital memungkinkan pembaruan buku tidak harus dibatasi pada cetakan.
Sekolah dengan fasilitas internet dapat menggunakan versi elektronik, sementara sekolah yang membutuhkan buku cetak tetap mempunyai bahan fisik.
Format audio juga membantu kebutuhan siswa tertentu, termasuk mereka yang lebih terbantu melalui materi suara.
Dengan demikian, arahan untuk kembali membiasakan membaca buku fisik berjalan bersamaan dengan pengembangan sumber belajar digital.
Perbedaan fungsinya dapat dibuat lebih jelas. Buku cetak membantu kegiatan membaca dan menulis langsung, sedangkan format digital memberikan akses lebih luas serta dapat dilengkapi unsur interaktif.
Buku Baru Ditargetkan Rampung Setelah Proses Kajian
Pemerintah pada awalnya berharap pekerjaan pembaruan dapat bergerak sangat cepat, bahkan sempat diarahkan untuk tahun ajaran berjalan. Namun tim membutuhkan waktu lebih panjang karena jumlah buku dan materi yang harus ditelaah cukup besar.
Prasetyo menyampaikan target penyelesaian diarahkan menuju akhir 2026 atau paling lambat tahun berikutnya apabila proses kajian belum selesai. Pemerintah ingin pembaruan dapat diterapkan secara luas setelah penyusunan selesai.
Tahapan tersebut penting karena buku pendidikan harus melewati proses penyusunan, penelaahan dan penilaian sebelum digunakan siswa. Pusat Perbukuan mempunyai tugas mengembangkan, membina dan mengawasi sistem perbukuan pendidikan, termasuk penyusunan serta penilaian kelayakan buku teks.
Pemeriksaan langsung Presiden akhirnya membuka pekerjaan yang jauh lebih luas. Dari persoalan sederhana seperti huruf kecil dan halaman yang cepat rusak, pemerintah kini bergerak menuju evaluasi materi, desain, grafika, kebiasaan membaca hingga latihan menulis untuk siswa kelas awal.
Bagi siswa kelas 1 sampai kelas 3 SD, perubahan paling mudah terlihat nantinya kemungkinan berada pada ukuran tulisan, ruang latihan dan bentuk halaman. Sementara untuk jenjang yang lebih tinggi, perhatian bergerak pada kualitas materi, matematika, penguatan kebangsaan, bahasa Inggris serta penyajian yang lebih nyaman digunakan.
Tim pemerintah masih bekerja menyusun rancangan tersebut. Dengan buku negara tetangga sebagai salah satu bahan pembanding dan Pusat Perbukuan memiliki mekanisme penilaian tersendiri, tahapan berikutnya akan menentukan seperti apa bentuk buku pelajaran baru yang akhirnya sampai ke meja siswa Indonesia.