Di tengah hiruk pikuk Denpasar yang penuh kendaraan dan deretan kafe kekinian, ada satu sudut kota yang tiba tiba bikin kamu berasa dilempar balik ke Bali masa lampau. Bukan lewat museum atau pertunjukan tari di hotel mewah, tapi lewat sebuah pasar yang sengaja “diputar balik” nuansanya. Namanya Peken Nusantara, digelar di kawasan Tukad Bindu, dan di sini kamu tidak bayar pakai uang kertas seperti biasa, tapi pakai uang kepeng yang identik dengan budaya Bali tempo dulu.
Begitu masuk area, kamu akan melihat aliran sungai yang mengalir pelan, pepohonan rindang, suara anak anak yang main air, dan di antara itu semua berdiri deretan stan kuliner tradisional dengan dekor bambu dan kain poleng. Rasanya kayak nyampur antara suasana desa dengan gaya nongkrong anak kota yang doyan selfie.
Tukad Bindu yang Berubah Jadi Tempat Nongkrong Asyik
Sebelum ngomongin uang kepeng, seru kalau kita bahas dulu “panggungnya” Peken Nusantara, yaitu Tukad Bindu. Dulu kawasan ini dikenal sebagai sungai yang kotor, penuh sampah, bahkan sempat dianggap angker sama warga sekitar. Pelan pelan, warga dan komunitas lokal bergerak, sungai dibersihkan, bantaran dirapikan, dan sekarang berubah jadi salah satu destinasi wisata berbasis komunitas yang cukup terkenal di Denpasar.
Kalau kamu datang pagi pagi, udara di sekitar sungai terasa sejuk. Jalur pedestrian di tepi sungai bikin enak buat jalan santai atau jogging. Di beberapa titik ada taman kecil, ayunan, sampai area bermain anak. Semua ini yang kemudian bikin Tukad Bindu cocok banget dijadikan lokasi Peken Nusantara, pasar tematik yang ngangkat kuliner dan budaya nusantara dengan cara yang lebih santai dan kekinian.
Dulu Sungai Kumuh Sekarang Jadi Destinasi Instagramable
Cerita perjalanan Tukad Bindu dari sungai kumuh sampai jadi destinasi cantik lumayan panjang. Warga mulai gerak sekitar tahun 2010 an, bersihin bantaran sungai, rapikan gulma, tebang pohon bambu yang bikin suasana gelap, dan pelan pelan edukasi masyarakat supaya tidak lagi buang sampah ke sungai. Butuh waktu bertahun tahun sampai sungai ini benar benar bersih dan bisa dinikmati sebagai ruang publik.
Sekarang, hasilnya kelihatan banget. Ada jembatan bambu dengan tulisan “Tukad Bindu” besar di atasnya yang jadi spot wajib foto. Jalur di pinggir sungai tertata rapi, beberapa sudut dihias dengan ornamen tradisional Bali, dan di hari hari tertentu sungai ini ramai oleh anak anak yang berenang sambil ketawa ketawa. Buat feed Instagram, tempat ini gampang banget jadi latar yang aesthetic.
Suasana Pagi di Tengah Kota Denpasar
Bayangin kamu datang waktu Peken Nusantara digelar. Matahari baru naik, tapi suasana sudah ramai. Di satu sisi terlihat ibu ibu sibuk menata jajanan tradisional di meja kayu. Di sisi lain, panitia GenPI Bali cek sound untuk live music, sementara anak anak lari larian di area permainan tradisional. Semuanya terjadi di tengah kota, tapi terasa jauh dari kesan “kota besar” yang sumpek.
Suara gemericik air sungai nyampur dengan suara gamelan dan obrolan pengunjung. Sesekali terdengar suara pedagang yang menawarkan jajanan dan aroma sate yang lagi dibakar. Ini perpaduan antara suasana pasar, ruang hijau, dan panggung acara yang jarang kamu temukan di pusat kota lain.
Peken Nusantara Destinasi Digital Rasa Pasar Tradisional
Peken Nusantara bukan sekadar pasar kaget biasa. Event ini dibuat oleh Generasi Pesona Indonesia alias GenPI Bali sebagai destinasi digital, istilah buat tempat wisata yang sengaja dirancang eye catching dan instagramable supaya gampang viral di media sosial.
Walaupun labelnya “digital”, rasa yang mau dihadirkan justru pasar tradisional. Bukan mal atau food court modern, tapi peken, tempat orang jual beli yang dekat dengan kehidupan sehari hari masyarakat Bali. Di sini kamu bakal ketemu banyak unsur lawas yang sengaja diangkat lagi, dari makanan, alat tukar, sampai cara berpakaian para penjaga stan.
GenPI Bali dan Ide Destinasi Digital
GenPI sendiri adalah komunitas anak muda kreatif bentukan Kementerian Pariwisata yang memang ditugasi bikin destinasi digital di berbagai daerah. Target nasionalnya sampai seratus destinasi digital di seluruh Indonesia, dan Peken Nusantara jadi salah satu yang muncul dari Bali.
Di Peken Nusantara, peran GenPI kelihatan dari cara mereka menggabungkan budaya lokal dengan pola pikir generasi milenial. Di satu sisi, pengunjung diajak menikmati kuliner tradisional, permainan anak jaman dulu, dan suasana Bali klasik. Di sisi lain, semua dikemas supaya “ramah kamera”, lengkap dengan selfie zone, dekor unik, hingga lomba foto Instagram yang hadiah totalnya sampai puluhan juta rupiah.

Dari Booth Kuliner sampai Live Music
Begitu kamu masuk ke area pasar, deretan booth kuliner jadi daya tarik pertama. Ada berbagai menu khas Bali seperti tipat cantok, sate kakul, bubur tradisional, es daluman, sampai nasi campur ayam. Beberapa stan juga menjual jajanan daerah lain seperti gudeg atau nasi padang, sejalan dengan namanya “Peken Nusantara” yang nyatuin berbagai cita rasa dari penjuru Indonesia.
Selain kuliner, panggung kecil untuk art performance berdiri di salah satu sudut. Di sini biasanya tampil penari Bali, musisi lokal, atau komunitas seni yang bawa pertunjukan sederhana tapi hangat. Live music dengan lagu lagu Bali atau lagu populer yang diaransemen akustik bikin suasana makin enak. Pengunjung bisa makan sambil duduk di tikar atau bangku kayu, ditemani alunan musik dan udara sejuk dari arah sungai.
Serunya Belanja Pakai Uang Kepeng
Hal yang bikin Peken Nusantara beda dari pasar lain adalah sistem transaksinya. Di sini, uang konvensional tidak berlaku secara langsung. Sebelum jajan, kamu harus menukar uang rupiah yang kamu bawa dengan uang kepeng, koin tradisional yang sudah lama jadi bagian penting budaya Bali.
Begitu dapat segenggam uang kepeng, sensasinya langsung beda. Bukan lagi gesek kartu atau scan QR, tapi bunyi koin beradu di tangan, suara “cesing cesing” waktu koin itu diletakkan di meja kayu. Sepele, tapi bikin suasana terasa lebih hidup dan otentik.
Cara Menukar Rupiah Jadi Uang Kepeng
Prosesnya simpel. Di area masuk atau dekat pusat informasi, biasanya ada stan kasir khusus penukaran. Kamu cukup kasih tahu mau tukar berapa, misalnya 20 ribu atau 50 ribu, lalu panitia akan menghitung dan memberikan uang kepeng dalam jumlah tertentu sesuai konversi yang sudah mereka tentukan.
Untuk memudahkan, sering kali sudah ada papan informasi yang menjelaskan nilai satu keping uang kepeng setara berapa rupiah di dalam area Peken Nusantara. Setelah menukar, kamu dapat kantong kecil berisi koin koin itu, dan mulai bisa muter keliling stan sambil belanja.
Sistem ini dibuat bukan cuma biar seru seruan, tapi juga sebagai cara memperkenalkan lagi uang kepeng ke generasi muda. Di luar Peken Nusantara, uang kepeng biasanya kita temui sebagai bagian dari upacara adat, pajangan di rumah tradisional, atau aksesori yang dijual di toko suvenir. Di sini, uang kepeng hadir sebagai “alat tukar” yang hidup, walaupun hanya dalam batas area pasar.
Sensasi Transaksi ala Bali Tempo Dulu
Begitu kamu pegang uang kepeng itu, ada perasaan unik yang mungkin jarang kamu rasakan waktu belanja di minimarket. Setiap kali membayar, kamu harus menghitung koin, menyerahkan ke pedagang, lalu menunggu kembalian dalam bentuk koin juga. Interaksinya jadi lebih personal, tidak sekadar scan barcode terus jalan.
Di depan stan tipat cantok, misalnya, kamu melihat papan harga yang ditulis dengan spidol di atas potongan kardus, lengkap dengan keterangan berapa “kepeng” yang harus dibayar. Kamu milih menu, ngobrol sebentar soal rasa atau tingkat pedas, lalu menyerahkan beberapa keping uang kepeng. Pedagang tersenyum, koin berpindah tangan, dan kamu keluar membawa seporsi makanan yang terasa lebih “punya cerita”.
Sering muncul komentar seperti, “Rasanya kayak belanja di pasar jaman kecil dulu,” atau “Koinnya lucu, sayang kalau dipakai, pengin disimpan”. Itu artinya konsep yang ingin dihadirkan Peken Nusantara berhasil, bukan cuma jual beli, tapi ada pengalaman emosional yang ikut nempel.
Anak Anak Belajar Nilai Tradisi Lewat Uang Kepeng
Buat anak anak, uang kepeng ini bukan hanya alat bayar, tetapi juga alat main dan media belajar. Banyak orang tua sengaja memberikan beberapa keping ke anak mereka dan meminta sang anak yang memilih jajanan sendiri.
Di momen seperti ini, anak belajar ngitung koin, belajar ngantri, dan pelan pelan paham kalau koin yang mereka pegang punya cerita panjang di baliknya. Di beberapa stan, ada pedagang yang dengan senang hati menjelaskan kalau uang kepeng dulu dipakai di Bali dan sampai sekarang masih dipakai dalam upacara adat.
Interaksi kecil seperti ini bikin anak anak punya ingatan baru tentang tradisi. Mereka tidak hanya tahu uang kepeng sebagai benda yang kadang ditempel di sesajen, tapi juga pernah merasakan sendiri pakai koin itu buat beli makanan favorit mereka.
Rangkaian Lomba dan Aktivitas yang Bikin Betah
Peken Nusantara bukan cuma soal belanja dan makan enak. Di sepanjang acara, ada banyak aktivitas yang sengaja disiapkan supaya pengunjung betah berlama lama. Mulai dari pertunjukan seni, permainan anak, sampai berbagai macam lomba yang hadiahnya lumayan menggiurkan.
Area pasar jadi seperti festival kecil. Di satu sisi orang sedang asyik memilih makanan, di sisi lain ada anak anak sedang mewarnai di atas tikar, dan tidak jauh dari situ sekelompok pengunjung berfoto di spot selfie yang sengaja dibuat dengan dekor tradisional.

Lomba Foto Instagram dengan Hadiah Puluhan Juta
Salah satu daya tarik utama buat generasi digital tentu saja lomba foto Instagram. Secara nasional, GenPI mengadakan lomba dengan tema destinasi digital, dan Peken Nusantara ikut jadi salah satu lokasi favorit buat ikut kompetisi ini. Hadiahnya bahkan disebut mencapai total 50 juta rupiah untuk para pemenang.
Cara ikutnya simpel. Kamu cukup datang ke salah satu destinasi digital GenPI, termasuk Peken Nusantara, ambil foto suasana atau momen paling seru, lalu upload ke Instagram dengan tagar dan ketentuan yang sudah ditentukan. Kombinasi antara suasana sungai, dekor bambu, penjaga stan yang memakai busana adat, sampai tumpukan uang kepeng jadi bahan foto yang menarik banget.
Di era di mana hampir semua orang memotret makanan sebelum makan, konsep seperti ini jelas klik banget. Sambil ikut lomba, kamu tetap menikmati suasana pasar dan kuliner yang disajikan.
Permainan Tradisional, Arena Anak Lari Larian
Bukan Peken Nusantara namanya kalau tidak menyediakan ruang buat permainan tradisional. Di sini, anak anak bisa ikut lomba mewarnai, permainan kecil khas pasar rakyat, atau sekadar main di area yang sudah disediakan.
Suara tawa anak anak yang lagi main di bantaran sungai berpadu dengan suara MC di panggung utama yang mengumumkan pemenang lomba. Sementara itu, orang tua mereka duduk santai sambil ngobrol, menikmati kopi Bali dan kue jajan pasar.
Hal yang mungkin kelihatan sepele ini sebenarnya penting. Anak anak jadi punya ruang bermain di luar mal dan gawai. Mereka bisa berlari, berkreasi, dan menikmati suasana alam yang jarang mereka dapatkan di kehidupan sehari hari yang penuh layar.
Selfie Zone dan Spot Konten Buat Generasi Milenial
Buat kamu yang hobi bikin konten, Peken Nusantara terasa seperti studio terbuka. Selfie zone yang disiapkan panitia biasanya dihias dengan perpaduan dekor tradisional dan elemen modern. Ada gapura bambu dengan tulisan warna warni, lampion, payung tradisional, sampai properti foto yang bisa dipinjam.
Pengunjung tinggal pilih mau foto di dekat sungai, di jembatan bambu, di depan stan kuliner, atau di area yang sengaja dihias khusus. Di beberapa momen, kamu bisa menangkap suasana yang benar benar khas Bali masa lampau, anak anak mandi di sungai, ibu ibu membawa bakul, dan laki laki tua duduk santai sambil memperhatikan keramaian.
Uang Kepeng dalam Kehidupan dan Budaya Bali
Kalau dibahas lebih jauh, uang kepeng di Bali sebenarnya bukan cuma sekadar koin tua. Sejarahnya terkait dengan hubungan dagang antara Nusantara dan Cina, ketika koin koin mirip uang kepeng mulai masuk lewat pelabuhan di Bali Utara dan kemudian menyebar sampai ke pedalaman.
Di Bali, uang kepeng yang sering disebut pis bolong ini punya posisi penting. Dalam banyak rumah tradisional, uang kepeng disimpan dan digunakan dalam berbagai upacara, dari kelahiran sampai kematian. Kadang koin koin itu dirangkai, dijadikan bagian dari sesajen, atau disusun menjadi hiasan.
Dari Jejak Dagang Cina sampai Rumah Rumah Tradisional
Sejumlah kajian sejarah menyebut uang kepeng di Bali berakar dari koin koin Cina yang dulu dibawa para pedagang dan pelancong. Seiring waktu, koin ini tidak cuma dilihat sebagai alat tukar, tapi juga simbol keberuntungan dan kelimpahan. Sampai sekarang, di banyak desa tradisional Bali, keluarga keluarga masih menyimpan ratusan keping uang kepeng untuk kebutuhan upacara dan ritual.
Di pasar suvenir, kamu bisa menemukan uang kepeng yang dijadikan gelang, kalung, atau pajangan dinding. Namun di Peken Nusantara, koin koin ini dikembalikan ke “perannya” sebagai alat tukar, meski hanya sementara dan dalam konteks wisata. Ini yang bikin sensasi belanja di sini terasa spesial.
Simbol Keberuntungan yang Turun Temurun
Buat sebagian orang Bali, uang kepeng bukan cuma benda tua yang bernilai koleksi. Koin ini dipercaya membawa unsur keberuntungan, keseimbangan, dan hubungan manusia dengan alam dan para dewa. Karena itu, kehadiran uang kepeng di Peken Nusantara bukan sekadar gimmick marketing.
Ada lapisan makna yang ikut terbawa, pengunjung diajak merasakan langsung benda yang selama ini banyak orang hanya lihat di upacara atau toko antik. Dengan memegang, menghitung, dan menggunakannya untuk belanja, ada rasa lebih dekat dengan tradisi yang selama ini mungkin terasa jauh.
Di sela sela keramaian pasar, kamu bisa saja tanpa sengaja merenung sebentar. Ternyata, di balik satu koin kecil ada jejak sejarah panjang, dari jalur dagang internasional sampai ke dapur dapur rumah tradisional di Bali.
Harapan untuk Pariwisata Bali Lewat Peken Nusantara
Peken Nusantara bukan cuma acara seru sehari di pinggir sungai. Di balik suasana santai dan keceriaan pengunjung, ada harapan besar untuk pariwisata Bali dan ekonomi warga sekitar. Dengan menggabungkan konsep destinasi digital, pelestarian tradisi, dan ruang publik yang nyaman, event seperti ini bisa jadi contoh bagaimana wisata Bali bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan dan membumi.
Banyak pihak yang mendukung Peken Nusantara, mulai dari Kementerian Pariwisata, pejabat daerah, sampai tokoh masyarakat lokal. Mereka melihat bahwa acara seperti ini bisa menghidupkan usaha kuliner, kerajinan, dan industri kreatif di sekitar Tukad Bindu tanpa mengorbankan lingkungan.
Dukungan Kementerian Pariwisata dan Tokoh Lokal
Menteri Pariwisata dan jajaran Kementerian Pariwisata memberikan dukungan terbuka untuk GenPI dan destinasi digital seperti Peken Nusantara. Buat mereka, destinasi digital adalah cara baru memperkenalkan tempat wisata ke publik luas lewat kekuatan media sosial dan konten visual.
Di sisi lain, tokoh tokoh lokal di Denpasar dan Kesiman juga menyambut baik acara ini. Mereka melihat langsung bagaimana Tukad Bindu yang dulu sepi dan terabaikan, pelan pelan berubah jadi ruang hidup yang mendatangkan pengunjung, meningkatkan aktivitas ekonomi, tapi tetap menjaga unsur edukasi lingkungan dan budaya.
Buat warga sekitar, setiap kali Peken Nusantara digelar, ada tambahan pemasukan dari jualan makanan, sewa stan, atau jasa lain yang ikut bergerak. Buat wisatawan, ini jadi alasan tambahan untuk mampir ke Denpasar, bukan hanya lewat, lalu langsung ke kawasan pantai atau area wisata utama lainnya.
Potensi Jadi Agenda Rutin Warga Denpasar
Dengan respon positif pengunjung, Peken Nusantara punya potensi besar untuk jadi agenda rutin akhir pekan di Denpasar dan sekitarnya. Bayangin kalau setiap beberapa minggu sekali, warga lokal sudah hafal kalau di Tukad Bindu ada pasar tematik dengan sistem uang kepeng, hiburan musik, dan kuliner khas.
Di satu sisi, ini bisa jadi tempat keluarga buat menghabiskan hari libur tanpa harus jauh jauh ke Kuta atau Ubud. Di sisi lain, buat wisatawan luar Bali, Peken Nusantara bisa jadi tambahan itinerary yang beda dari paket wisata mainstream.
Dan mungkin, lama kelamaan, konsep seperti ini bisa menginspirasi daerah lain untuk mengangkat kembali tradisi masing masing lewat pasar tematik atau destinasi digital yang serupa. Bali dengan uang kepengnya, daerah lain dengan kearifan lokal yang mereka punya.
Di tengah dunia yang makin serba digital, justru sentuhan sentuhan kecil seperti bunyi koin kepeng di atas meja kayu, aroma jajan pasar yang baru matang, dan pemandangan anak anak mandi di sungai bersih yang paling bikin kita ingat kalau perjalanan bukan cuma soal foto, tapi juga soal rasa dan kenangan yang menempel lama.